Ikhtiar Mengusir Hama, Merawat Asa Peternak Mandiri di Pacitan

Ikhtiar Mengusir Hama, Merawat Asa Peternak Mandiri di Pacitan

​PACITAN, KAGAMA.ID — Di balik dinding-dinding rapat kandang ayam bersistem tertutup (closed house) di Desa Sidoharjo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, sebuah pertarungan sunyi tengah berlangsung. Bukan melawan penyakit endemik besar, melainkan melawan musuh-musuh kecil yang kerap luput dari perhatian: gurem, lalat, tikus, dan nyamuk.
​Bagi peternak rakyat, kehadiran hama-hama mikro ini bukan sekadar urusan sanitasi, melainkan pertaruhan angka kemandirian ekonomi dan stabilitas pasokan pangan daerah.

​Menyadari kerentanan tersebut, tiga alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam komunitas “Punk Vet” turun ke lapangan. Pada Minggu (17/5/2026), mereka menggelar program pendampingan intensif bagi para peternak ayam broiler di Kandang KGM Broiler, Desa Sidoharjo. Fokusnya jelas: membenahi manajemen pemeliharaan dan memperketat pengendalian hama pada sistem closed house.

​Langkah taktis yang didukung oleh PT Issu Medika Veterindo dan PT SHS International ini menjadi potret nyata bagaimana kolaborasi akademisi, praktisi, dan peternak lokal dapat memperkuat fondasi ketahanan pangan dari level terbawah.
​Kerentanan di Balik Modernisasi Kandang

​Sistem closed house atau kandang tertutup selama ini digadang-gadang sebagai masa depan industri perunggasan. Sistem ini menawarkan kontrol suhu dan kelembapan yang presisi untuk memacu pertumbuhan ayam secara optimal. Namun, modernisasi ini membawa tantangan baru. Kondisi kandang yang hangat dan lembap justru berpotensi menjadi inkubator subur bagi hama jika manajemen kebersihan longgar.

​”Kami melaksanakan kegiatan ini untuk memperkenalkan manajemen pengendalian hama di kandang closed house broiler agar berjalan lebih efektif dan efisien,” ujar Rizky Aurell Fernanda, alumni Fakultas Peternakan UGM (2018) dan Magister Ketahanan Nasional UGM (2022).

​Menurut Rizky, efisiensi dalam penanganan hama berdampak langsung pada struktur biaya produksi peternak. Gurem (kutu ayam) dan nyamuk, misalnya, tidak hanya membuat ayam stres dan kehilangan nafsu makan, tetapi juga menguras energi ayam yang seharusnya dikonversi menjadi daging.
​”Pendampingan ini bertujuan membantu peternak menerapkan pola budi daya yang lebih efektif. Ujungnya adalah mengurangi risiko kerugian produksi dan memperkuat ekonomi berbasis peternakan rakyat,” tambah Rizky.
​Menjaga Performa, Mengamankan Pendapatan


​Tantangan peternak mandiri saat ini kian kompleks, mulai dari fluktuasi harga pakan hingga tekanan pasar. Dalam situasi ini, menjaga performa budi daya tetap stabil adalah satu-satunya perisai yang dimiliki peternak.
​Ardian Mulya Pangestu, alumni Fakultas Peternakan UGM (2016), menekankan bahwa teknik pemeliharaan ayam broiler terus berinovasi dan peternak rakyat tidak boleh tertinggal. Pengendalian hama yang presisi merupakan bagian dari inovasi tersebut.
​”Pengendalian hama yang tepat dapat menjaga performa ayam. Ketika performa terjaga, hasil panen menjadi lebih stabil, dan pendapatan peternak pun lebih berkepastian,” jelas Ardian.

​Dari kacamata medis, penguatan ini menjadi krusial karena hama kerap bertindak sebagai vektor (pembawa) penyakit berbahaya. Syarif Hidayat, alumni Fakultas Kedokteran Hewan UGM (2019) dari komunitas Punk Vet, menegaskan bahwa aspek kesehatan hewan adalah pilar utama produktivitas.
​”Penguatan manajemen kesehatan hewan, termasuk memutus mata rantai penularan penyakit melalui pengendalian vektor atau hama, merupakan aspek penting dalam meningkatkan produktivitas usaha peternakan secara berkelanjutan,” kata Syarif.
​Dampak Nyata di Tingkat Tapak

​Bagi para peternak di Pacitan, kehadiran para penggerak dari Punk Vet ini ibarat oase di tengah minimnya akses terhadap bimbingan teknis yang mutakhir. Salah seorang peternak peserta mengungkapkan bahwa diskusi interaktif di dalam kandang membuka cakrawala baru mengenai pentingnya detail-detail kecil dalam biosekuriti kandang.
​”Kegiatan ini memberikan wawasan tambahan yang sangat praktis. Kami berharap ilmu ini bisa langsung kami terapkan untuk mendukung praktik budi daya yang lebih baik ke depannya,” ujarnya.
​Intervensi sains dan semangat kerakyatan yang dibawa oleh para alumni UGM ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan nasional tidak melulu soal kebijakan makro di atas kertas. Ia tumbuh dan dirawat dari ketekunan para peternak di daerah, yang kini perlahan dipersenjatai dengan pengetahuan untuk berdaulat di tanah sendiri