Selamat Jalan, John Tobing: Abadi dalam Tiap Derap ‘Darah Juang’

Selamat Jalan, John Tobing: Abadi dalam Tiap Derap ‘Darah Juang’

SLEMAN, KAGAMA — Suasana haru menyelimuti kawasan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (28/2/2026). Saat peti jenazah perlahan diturunkan ke liang lahat, tidak ada hingar-bingar musik populer. Yang terdengar justru koor syahdu lagu “Darah Juang” yang dinyanyikan dengan kepalan tangan kiri terangkat ke udara oleh para pelayat. Lagu yang selama tiga dekade menjadi “lagu kebangsaan” gerakan mahasiswa Indonesia itu kini mengantar penciptanya, John Tobing (59), menuju peristirahatan terakhir.

John Tobing mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu (25/2/2026) pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Yogyakarta. Sebelum dimakamkan, jenazah alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1986 ini disemayamkan di Rumah Duka RS Bethesda untuk memberikan kesempatan bagi kerabat dan sahabat memberikan penghormatan terakhir. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia pergerakan demokrasi di Indonesia.

Lahir dari Rahim Perlawanan

Nama John Tobing tak terpisahkan dari sejarah reformasi. Di awal 1990-an, saat ruang demokrasi sangat terbatas, John menggubah melodi “Darah Juang” di sela aktivitasnya sebagai aktivis mahasiswa. Liriknya yang kuat—“Di sini negeri kami, tempat padi terhampar…”—menjadi api penyemangat dalam setiap aksi demonstrasi yang menuntut keadilan sosial.

“Lagu itu lahir dari kegelisahan akan nasib rakyat kecil,” kenang rekan seperjuangannya di UGM. Hingga kini, lagu itu tetap relevan bagi lintas generasi, dari aktivis 98 hingga mahasiswa hari ini. Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, menyebut John bukan sekadar pencipta lagu, melainkan simbol perlawanan kebudayaan. “Semangat ‘Darah Juang’-nya akan terus menggema, membebaskan rakyat dari ketertindasan,” ujarnya.

Kenangan Sosok “Pendekar Gitar”

Di mata sahabat karibnya yang kini menjabat Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, John adalah sosok “pendekar bergitar” yang teguh. Dalam sebuah catatan kenangan, Nezar menggambarkan John sebagai aktivis senior yang selamanya berdarah muda.

“Pada awal 1990-an, seorang mahasiswa aktivis dengan gitar di punggungnya berdiri di siang terik di bulevar kampus. Dia memegang megafon dan berteriak lantang menentang rezim Orde Baru,” tulis Nezar.

Sebagai sesama mahasiswa Filsafat UGM, Nezar kerap terlibat debat hangat dengan John di beranda kos mereka di Karangjati. Meskipun sering berselisih paham mengenai teori, Nezar mengakui bahwa John adalah sumber moralitas gerakan. John menanamkan “doktrin” agar aktivis tidak melakukan hal yang dibenci rakyat jika ingin dicintai rakyat.

Nezar juga mengisahkan sisi melankolis John di masa tua setelah serangan stroke. Ia mengenang bagaimana John pernah bertanya dengan lugu mengenai hak royalti atas lagu ciptaannya. “Saya menjawab hal itu sulit karena ‘Darah Juang’ sudah menjadi folk song dan milik sejarah. John hanya tersenyum dengan bibir bergetar,” kenang Nezar.

Pesan Terakhir: Merawat Harapan

Di mata keluarga, John adalah ayah yang penuh kasih. Putri sulungnya menceritakan bahwa meski kesehatannya menurun drastis, John tetap menunjukkan semangat hidup tinggi. Pesan terakhirnya jelas: jangan pernah berhenti mencintai Indonesia dan terus merawat harapan bagi masa depan bangsa.

Prosesi pemakaman di Prambanan dihadiri tokoh politik, aktivis senior, hingga mahasiswa muda yang baru mengenal namanya melalui melodi lagu. Kepergiannya menandai berlalunya era musisi-aktivis yang bergerak tanpa pamrih. John memilih jalan sunyi di luar industri komersial, namun karyanya memiliki resonansi yang melampaui usia penciptanya.

Kini, sosok rendah hati itu telah tenang. Gema “Darah Juang” di pemakaman kemarin menjadi saksi bahwa perjuangan kemanusiaan tidak akan pernah mati. Selamat jalan, Bang John. Darah juangmu abadi.