Public Speaking Certification 2025: Membangun Kepercayaan Diri, Menyampaikan Pesan yang Berdampak

Public Speaking Certification 2025: Membangun Kepercayaan Diri, Menyampaikan Pesan yang Berdampak

Yogyakarta – Di era komunikasi yang serba cepat, kemampuan berbicara di depan publik bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan strategis. Menyadari pentingnya hal itu, PP KAGAMA Peningkatan Kompetensi Alumni menggelar Public Speaking Certification 2025 pada 21–23 November 2025 di Lantai 2 Perpustakaan dan Arsip UGM. Program ini diikuti 34 peserta dari berbagai latar belakang, dirancang sebagai pembelajaran intensif yang menggabungkan teori, praktik, dan evaluasi untuk mencetak pembicara yang percaya diri dan profesional.

Selama tiga hari, peserta tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga memahami seni komunikasi yang berdampak. Lusy Laksita, Ninda Nindiani, Anthony Dio Martin, Max Sandy, Eko C. Tjia, Gideon Surya, dan Ridha Nurul Azizah hadir sebagai fasilitator, membawa pengalaman panjang dalam dunia public speaking dan komunikasi.

Fondasi yang Kokoh: Dari Konsep ke Praktik

Pembelajaran dimulai dengan Dasar-Dasar Public Speaking. Peserta diajak mengenali tujuan komunikasi, memahami karakter audiens, dan peran pembicara dalam menyampaikan pesan yang jelas dan meyakinkan. Materi ini menjadi pondasi sebelum masuk ke aspek teknis seperti Intonasi dan Gesture, yang mengasah pengelolaan suara, ekspresi, dan bahasa tubuh agar pesan tersampaikan dengan kuat.

Tak berhenti di situ, peserta dilatih merangkai pesan menjadi cerita yang hidup melalui sesi Storytelling. “Cerita adalah jembatan emosi,” ujar salah satu fasilitator. Dengan teknik ini, pesan yang disampaikan bukan hanya informatif, tetapi juga menyentuh dan mudah diingat.

Kerangka Berpikir dan Struktur Presentasi

Program ini juga memperkenalkan lima prinsip QT, MB, MI, dan Mind Map sebagai panduan menyusun materi presentasi yang efektif. Prinsip ini membantu peserta menata ide, mengelola alur, dan menyampaikan pesan dengan sederhana namun kuat. Pemahaman ini dilengkapi dengan materi Struktur Public Speaking—mulai dari opening, body, hingga closing—serta tiga metode praktis yang diuji langsung dalam sesi Impromptu Public Speaking. Di sini, peserta dilatih berbicara spontan, mengendalikan ketegangan, dan tetap tenang meski tanpa persiapan panjang.

Mengelola Psikologi dan Interaksi

Salah satu tantangan terbesar dalam public speaking adalah rasa gugup. Materi State Management dan Stage Fright hadir untuk membantu peserta mengenali dan mengatasi kecemasan. Selain itu, strategi Audience Engagement dan penanganan Difficult Audience dibahas agar pembicara mampu menjaga interaksi positif dan merespons situasi sulit dengan profesional.

Ujian Nyata: Dari Roleplay ke Sertifikasi

Pembelajaran bersifat aplikatif melalui sesi Roleplay, Feedback, Praktik Penjurian, dan Penilaian. Peserta tampil, menerima umpan balik konstruktif, dan memahami standar sertifikasi. Puncaknya, Ujian Praktik digelar pada hari ketiga, dinilai oleh dewan juri berpengalaman: Hariyanti Suparto, Agnes Isti Idawati, Rudi Suryo Kristanto, Suryotomo, dan Ayu Wulan Dewi.

Lebih dari Sekadar Bicara

Public Speaking Certification 2025 bukan hanya tentang teknik berbicara. Program ini membangun kepercayaan diri, kesiapan mental, dan profesionalisme. “Berbicara di depan publik bukan soal kata-kata, tetapi bagaimana kita hadir dengan keyakinan dan memberi dampak,” tegas salah satu fasilitator.

Dengan pendekatan komprehensif, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang relevan bagi siapa pun yang ingin tampil percaya diri dan memengaruhi audiens secara positif. Di tengah tuntutan komunikasi yang semakin tinggi, kemampuan ini adalah investasi yang tak ternilai.