
Peringatan Ramah dari Sesar Opak
oleh Ma’rufin Sudibyo
Kala gempabumi tektonik menggetarkan kota Yogyakarta dan sekitarnya pada Selasa 27 Januari 2026 pukul 13:15 WIB, banyak orang merasakannya. Magnitudonya M4,5 dan kedalaman sumber yang dangkal (yakni hiposentrum 29 km) dengan episentrum di sudut utara Kabupaten Gunungkidul. Sehingga layak disebut Gempa Gunungkidul 27 Januari 2026 (M4,5). Gempabumi tersebut menggugah kota Yogyakarta, kota Sleman dan kota Klaten dengan getaran berintensitas 3 MMI. Setara getaran yang kita rasakan saat berdiri di tepi jalan kala sebuah kendaraan berat melintas. Getaran yang dirasakan mayoritas orang, namun tergolong lemah dan tidak merusak. Dalam praktiknya, mengagetkan banyak orang, membuat sedikit histeria di media sosial. Namun tidak ada kepanikan.

sumber foto: Geopark Jogja
Dalam aplikasi Google Maps, episentrum Gempa Gunungkidul 2026 (M4,5) berjarak 5 km terhadap Sesar Opak. Data teknis yang menyusul kemudian dan dipublikasikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melalui sistem InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning Systems) meneguhkannya. Gempa Gunungkidul 2026 (M4,5) didominasi oleh peristiwa pematahan mendatar dalam bidang sumber gempanya, dengan jurus azimuth 217º dan kemiringan 86º. Dengan kedalaman sumber 29 km, maka di atas kertas jarak terdekat episentrum ke lintasan Sesar Opak adalah 29 km : tan 86º = 2 km, yang secara teknis tidak jauh berbeda dibanding angka 5 km berdasarkan Google Maps tadi. Maka benar, gempabumi ini bersumber dari Sesar Opak. Tepatnya Sesar Opak sisi utara.
Gempabumi ini memang tidak menimbulkan getaran yang merusak. Namun mengingatkan kembali bahwa tak jauh dari kota Yogyakarta dan kota Bantul membujur sesar (patahan) Opak nan legendaris. Hampir 20 tahun silam, tepatnya Sabtu 27 Mei 2006, Sesar Opak menjadi sumber dari Gempa Yogya 2006 (M 6,4) yang demikian merusak dan mematikan. Sebanyak 6.234 jiwa terenggut dalam peristiwa memilukan ini, sementara lebih dari 37.000 orang luka-luka dalam beragam tingkatan. Terdapat 135.000 lebih bangunan rusak berat dan 125.000 lebih rusak ringan.

sumber foto: Geopark Jogja
Korban yang besar dan kerusakan yang intensif ini terutama terdistribusi pada daratan Bantul yang bersebelahan dengan Sungai Opak. Dataran rendah yang berdiri di atas teluk purba yang ditimbuni material vulkanik Gunung Merapi secara kontinu dalam berbelas ribu tahun terakhir. Sehingga membentuk lapisan-lapisan sedimen yang belum membatu. Jenis tanah yang mampu memperkuat (amplifikasi) getaran kala gelombang seismik merambat melaluinya.
Total kerugian material akibat bencana ini mencapai Rp. 29 trilyun, atau setara 75% kerugian material dalam bencana gempabumi dan tsunami Aceh 2004 (Rp. 41 trilyun) yang skala kedahsyatannya jauh lebih besar.
Seiring waktu, segala lara dan berita terkait Gempa Yogya 2006 kian meluruh dan kian sayup. Tertelan gemuruh dunia yang demikian cepat berubah dengan aneka ragam dinamika kekinian. Padahal di bawah sana Bumi terus bekerja dengan dorongan kecil-tapi-kuat melalui Sesar Opak. Mengikuti takdir geologisnya selama ini.
Aneka riset kebumian di kawasan telah menguak sesar (patahan) aktif yang ada di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagaimana dipublikasikan dalam buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2024 yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat. Peta tersebut merupakan perbaikan dari peta sejenis yang dipublikasikan tahun 2017. Terdapat dua sesar aktif, masing-masing Sesar Opak dan Sesar Mataram. Sesar Opak bersifat tunggal (tak bersegmen) dengan panjang 47 km. Sedangkan Sesar Mataram terbagi atas dua segmen, yakni segmen Tambakbayan (barat) sepanjang 14 km dan segmen Dengkeng (timur) sepanjang 15 km.
Panjang sesar Opak dalam peta terbaru hanya sedikit berbeda dibanding peta 2017 (yakni 45 km). Tetapi estimasi potensi bangkitan gempabumi maksimumnya cukup berbeda. Jika pada peta 2017 magnitudo maksimum gempabumi di Sesar Opak adalah M 6,6 pada kecepatan pergeseran sesar 0,8 mm/tahun. Sebaliknya di peta 2024, magnitudo maksimumnya menjadi M6,9 pada kecepatan pergeseran sesar lebih besar, yakni 2 mm/tahun. Maka, jika semula Gempa Yogya 2006 (M6,4) dianggap sudah ‘menghabiskan’ kandungan energi Sesar Opak, kini gempa tersebut dipahami baru mengeluarkan sekitar separuh energi saja yang terkandung dalam Sesar Opak. Gempa Yogya 2006 kini dipahami melibatkan sisi selatan Sesar Opak. Sementara sisi utaranya relatif ‘masih utuh.’
Karena itu Gempa Gunungkidul 26 Januari 2026 (M4,5) kemarin harus dipandang sebagai peringatan ramah dari Sesar Opak. Bahwa sesar aktif ini tetap terus menggeliat dan masih memiliki potensi untuk melepaskan gempabumiyang cukup kuat di masa depan. Peringatan ramah yang harus diikuti dengan kesiapsiagaan dan rencana-rencana mitigasi yang tepat. Agar tragedi 2006 lalu tidak perlu terulang lagi.