Webinar PP Kagama – Kafispolgama: Penting Mengelola Ekspektasi Presidensi G20 untuk Memperoleh Keuntungan dalam Penyelenggaraannya

Ketika Indonesia mendapat giliran menjadi Presidensi G20, ada semacam euphoria atau antusiasme yang luar biasa yang harus diwujudkan. Harus benar-benar diperhatikan mengelola ekspektasinya karena Presidensi G20 memiliki posisi yang sangat penting, bukan hanya melihat aspek pengaruh Indonesia di tingkat global, namun juga sejumlah ekspektasi keuntungan ekonomi yang bisa diraih dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Demikian dikemukakan Wakil Dekan Fisipol UGM, Dr. Poppy Sulistyaning Winanti, salah satu narasumber pada webinar berjudul Presidensi G20 Indonesia: Tantangan, Kesempatan dan Peran Masyarakat Indonesia″, yang diselenggarakan PP Kagama bersama Kafispolgama, Jumat (17/12/2021).

Pertanyaannya bagaimana cara kita mewujudkannya? Kita memang berhak mengatur dan menentukan agenda setting, namun apakah bisa diterima sebagai sebuah kesepakatan itu soal lain. Apabila sudah disepakati, perlu juga dipikirkan bagaimana tingkat kepatuhan para anggota G20 lainnya, sehingga ekspektasi benar-benar bisa terwujud. Sementara di sisi lain bagaimana potensi keuntungan ekonomi domestik yang bisa diraih Indonesia sebagai tuan rumah Presidensi G20 baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang.

“Dalam Presidensi G20, Indonesia memilih 3 agenda yang sangat penting dan menjadi prioritas, yaitu transformasi sistem kesehatan global, transformasi ekonomi dan digital, serta transisi energi yang terbarukan,” ujar Poppy.

Agenda Indonesia mencoba mewujudkan tata kelola kesehatan global yang inklusif dan transformatif guna mengatasi Covid-19, karena adanya ketimpangan akses vaksin yang menyebabkan beban krisis ekonomi yang asimetris. Lalu adanya keterbatasan WHO sebagai global health governance. Dengan demikian G20 diharapkan berpotensi memerankan peran penting dalam memprakarsai dialog multilateral dan mendukung agenda WHO.

Kemudian transformasi ekonomi dan digital menjadi agenda begitu penting karena optimalisasi manfaat teknologi digital yang inklusif akan mendorong digitalisasi sektor-sektor usaha terutama UMKM. Agenda transformasi ekonomi dan digital yang diusung Indonesia perlu dikerangkai dalam upaya mempercepat pemulihan ekonomi di masa Covid-19.

Yang terakhir, masalah transisi energi merupakan agenda untuk mendorong perencanaan prioritas transisi energi untuk mempercepat penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Yang perlu diperhatikan adalah harus menekankan pentingnya kondisi negara sedang berkembang.

Poppy menambahkan, karakteristik forum G20 tidak mengikat. Tingkat kepatuhan terhadap agenda setting selama ini hanya 71%. Itupun hanya terfokus pada core competence yaitu track keuangan dan ekonomi, sedangkan untuk track sherpa belum bisa dipastikan seberapa besar angkanya.

Lalu, selain memahami karakteristik G20, kapasitas dan daya dukungnya juga penting untuk diperhatikan. Agenda yang diusulkan Indonesia harus menjadi agenda bersama yang berkesinambungan oleh presidensi berikutnya, dalam hal ini India sesuai asas troika.

Di akhir pemaparan Poppy memberikan kesimpulan, betul bahwa kiprah global Indonesia sangat penting. Hal itu ditunjukannya lewat Presidensi G20 dengan merancang agenda setting yang sangat sesuai dengan kepentingan dalam negeri saat ini maupun kepentingan bersama. Namun tentu saja hal ini harus diimbangi dengan kemampuan pemerintah Indonesia untuk memastikan itu semua menjadi komitmen yang disepakati bersama.

“Perlu kajian lebih mendalam investasi yang dikeluarkan pemerintah apakah sepadan dengan proyeksi keuntungan ekonomi yang bakalan diperoleh selama penyelenggaraan Presidensi G20,” pungkas Poppy.

*) Materi selengkapnya bisa disaksikan di Youtube Kagama Channel:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*