
Menjaga Makna Berbagi: Kagama Solo dan Seribu Sarung Menjelang Lebaran
Pagi itu, Selasa (17/3/2026), Plaza Balai Kota Solo belum sepenuhnya ramai oleh aktivitas pemerintahan. Namun, ratusan warga telah lebih dulu memadati area tersebut. Mereka berdiri berbaris dengan tenang, sebagian menggenggam kupon, sebagian lain bercakap pelan. Di antara mereka ada pengayuh becak, petugas kebersihan, juru parkir, hingga warga lanjut usia. Tujuan mereka sama: menanti giliran menerima sarung.

Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Kota Solo kembali menggelar Kagama Berbagi Sarung, sebuah tradisi yang telah dijalankan hampir dua dekade. Tahun ini, lebih dari 1.000 sarung dibagikan kepada warga menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026—sebuah ikhtiar sederhana untuk menghadirkan kebahagiaan di ambang hari kemenangan.
Sarung mungkin terlihat sebagai benda biasa. Namun bagi banyak penerima, ia memiliki makna lebih dari sekadar kain. Sarung adalah simbol ibadah, keseharian, dan kebersamaan. Di tangan Kagama Solo, sarung menjadi medium untuk menyampaikan kepedulian.

Ketua Kagama Kota Solo KGPHA Panembahan Dipokusumo menyebutkan, tradisi berbagi sarung dijaga karena relevan dengan kehidupan masyarakat. Selain bernilai budaya, sarung lekat dengan praktik keagamaan selama Ramadan dan Idul Fitri.
“Ini adalah cara kami, para alumni UGM, untuk tetap hadir di tengah masyarakat. Bukan dengan sesuatu yang besar atau mewah, tetapi dengan apa yang dekat dan dibutuhkan,” ujarnya.
Sejumlah tokoh tampak turun langsung membagikan sarung kepada warga. Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, yang juga alumnus UGM, berdiri di antara pengurus Kagama, menyapa warga satu per satu. Bagi Astrid, kegiatan ini bukan sekadar agenda sosial, melainkan pengingat akan tanggung jawab sosial kaum terdidik.

“Yang menerima sarung ini adalah mereka yang sehari-hari bekerja keras menjaga kota tetap berjalan. Kegiatan seperti ini penting untuk merawat kebersamaan dan kepedulian sosial, terutama menjelang hari besar keagamaan,” kata Astrid.
Hadir pula perwakilan Pengurus Pusat (PP) KAGAMA, Destina Kawanti. Ia melihat apa yang dilakukan Kagama Solo sebagai cerminan nilai yang dijaga KAGAMA di tingkat nasional.
“Apa yang dilakukan Kagama Solo mencerminkan semangat KAGAMA secara nasional: hadir di tengah masyarakat dengan aksi nyata yang sederhana, membumi, dan bermakna, terutama pada momentum seperti Idul Fitri,” ujar Destina.

Agar pembagian berjalan tertib, panitia telah lebih dulu mendistribusikan kupon melalui jejaring komunitas dan relawan. Pada hari pelaksanaan, warga datang sesuai jadwal untuk menukarkan kupon dengan sarung. Skema ini membuat proses pembagian berlangsung lancar tanpa kerumunan berlebih.
Di sela antrean, senyum kerap muncul. Ada rasa sungkan, ada pula rasa syukur yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Bagi sebagian penerima, perhatian semacam ini terasa menenangkan—bahwa ada yang masih peduli.
Gerakan Nasional Alumni
Apa yang dilakukan Kagama Solo bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, KAGAMA Berbagi tumbuh menjadi gerakan sosial yang dijalankan serentak oleh cabang-cabang Kagama di berbagai daerah. Bentuknya beragam: pembagian sarung, paket sembako, santunan pendidikan, hingga layanan kesehatan gratis, menyesuaikan kebutuhan lokal masing-masing wilayah.
Di sejumlah kota, Kagama hadir di ruang-ruang yang jarang disorot—kampung kota, terminal, pasar, hingga wilayah pinggiran. Momentum keagamaan seperti Ramadan dan Idul Fitri kerap dipilih karena dinilai tepat untuk memperkuat solidaritas sosial dan empati lintas lapisan.

Bagi KAGAMA, pengabdian masyarakat bukanlah program sesaat, melainkan bagian dari identitas alumni. Nilai guyub, rukun, dan migunani diterjemahkan ke dalam tindakan konkret, sekecil apa pun bentuknya.
Di Plaza Balai Kota Solo, siang itu, satu per satu warga meninggalkan lokasi dengan sarung di tangan. Sebagian melipatnya rapi, sebagian menyampirkannya di bahu. Di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan yang lebih besar: bahwa di tengah dinamika zaman, tradisi berbagi masih menemukan jalannya.
Bagi Kagama Solo, menjaga tradisi ini berarti menjaga hubungan—antara alumni dan masyarakat, antara pengetahuan dan kepedulian, antara nilai dan praktik kehidupan sehari-hari.