Membaca “Setan Alas”: Saat Horor Vokasi Menjadi Jembatan Solidaritas Alumni

Membaca “Setan Alas”: Saat Horor Vokasi Menjadi Jembatan Solidaritas Alumni



​YOGYAKARTA – Bioskop XXI Empire Jogja pada Minggu (1/3) petang mendadak riuh oleh kehadiran ratusan wajah lintas generasi. Mereka bukan sekadar penikmat sinema arus utama, melainkan keluarga besar Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) yang tergabung dalam komunitas Kagama Nobar Chapter Jogja. Di layar perak, sebuah karya eksperimental bertajuk Setan Alas diputar, menandai titik temu penting antara dukungan moral alumni dan kebangkitan sineas muda dari Sekolah Vokasi UGM.

​Melampaui Sekadar “Jump Scare”
​Film Setan Alas bukanlah sekadar tontonan horor konvensional yang mengandalkan teknik kejut (jump scare) yang usang. Sebagai karya mahasiswa Sekolah Vokasi UGM, film ini berani mengeksplorasi genre meta-horror. Di sini, horor tidak diletakkan sebagai teror visual semata, melainkan sebagai alat refleksi sosial yang mempertanyakan batas antara mitos, trauma, dan kenyataan.


​Keberanian artistik ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak kampus. Dekan Sekolah Vokasi UGM menyatakan bahwa karya ini adalah bukti nyata dari kurikulum berbasis praktik yang mumpuni.
​”Kami sangat bangga melihat mahasiswa Vokasi mampu memproduksi karya dengan standar industri yang kompetitif. Setan Alas bukan sekadar tugas akhir, tapi adalah representasi dari kompetensi teknis dan kedalaman berpikir kritis yang kami asah di kelas. Dukungan alumni melalui nonton bareng ini menjadi suntikan semangat luar biasa bagi ekosistem kreatif di kampus kami,” ungkap Dekan Sekolah Vokasi UGM.

​Sinema sebagai Medium Filantropi
​Namun, daya tarik acara ini tidak berhenti pada estetika visual di layar. Ada misi mulia yang berkelindan di balik tiket yang terjual. Kegiatan yang diikuti oleh 100 peserta ini merupakan bagian dari program fundraising Beasiswa Kagama.
​Ini adalah bentuk nyata dari “Solidaritas Tanpa Sekat”. Melalui tiket nonton bareng, para alumni secara tidak langsung berinvestasi pada masa depan adik-adik tingkat mereka. Wasekjen PP Kagama, Destina Kawanti, yang turut hadir dalam acara tersebut, menekankan pentingnya kreativitas dalam penggalangan dana sosial.
​”Kagama terus berupaya mencari formula yang segar untuk mempererat silaturahmi sekaligus memberi manfaat nyata. Melalui Kagama Nobar, kita tidak hanya bernostalgia atau sekadar menonton, tapi kita sedang merawat harapan. Dana yang terkumpul dari apresiasi film mahasiswa ini akan dialokasikan sepenuhnya untuk Beasiswa Kagama, memastikan adik-adik kita yang berprestasi namun terkendala biaya tetap bisa menuntaskan mimpinya di Bulaksumur,” ujar Destina Kawanti.

​Menjaga “Darah Juang”
​Kehadiran komunitas Kagama Nobar Chapter Jogja ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kohesi sosial antar-alumni. Di tengah kesibukan profesional masing-masing, ruang gelap bioskop justru menjadi tempat yang terang untuk menyalakan kembali semangat pengabdian.
​Meminjam semangat “Darah Juang”, kegiatan ini membuktikan bahwa pengabdian alumni tidak harus selalu kaku dalam bentuk formalitas organisasi. Dengan memilih XXI Empire sebagai lokasi pemutaran, Kagama memberikan legitimasi bahwa karya kampus memiliki kualitas yang mampu bersaing di ruang publik profesional.

​Acara nonton bareng Setan Alas pada akhirnya adalah sebuah manifesto kecil tentang bagaimana sebuah ekosistem pendidikan seharusnya bekerja: yang muda berkarya dengan berani, dan yang senior mendukung dengan sepenuh hati. Dari kursi bioskop, Kagama telah menunjukkan bahwa cinta pada almamater bisa diekspresikan lewat banyak cara, termasuk lewat sebuah film horor yang justru membawa pesan harapan.