
Kagama Pekanbaru Gelar Halalbihalal, Angkat Isu Hidup Sehat Jiwa dan Raga
PEKANBARU, KAGAMA.id — Halalbihalal tidak sekadar dimaknai sebagai ajang saling memaafkan. Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Pekanbaru mencoba memberi makna lebih dalam lewat kegiatan Halalbihalal yang dirangkai dengan dialog publik tentang pentingnya hidup sehat, baik secara fisik maupun mental.

Kegiatan yang digelar di Omah Joglo, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, Sabtu (12/4/2026), itu diikuti sekitar 90 alumni lintas angkatan dan fakultas UGM yang berdomisili di berbagai daerah di Provinsi Riau. Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa sejak awal acara, mempertemukan para alumni yang datang dari latar profesi dan generasi yang beragam.
Ketua Kagama Pekanbaru Prof Dr Junaidi membuka acara dan menekankan bahwa halalbihalal merupakan momentum strategis untuk memperkuat jejaring alumni sekaligus memperluas kontribusi Kagama bagi masyarakat.
“Kegiatan ini tidak hanya diikuti pengurus dan alumni yang tinggal di Pekanbaru, tetapi juga dihadiri alumni UGM dari berbagai kabupaten dan kota di Riau. Kami berkoordinasi dengan Kagama Riau, dan dukungannya sangat kuat,” ujar Junaidi.
Ia menjelaskan, tema “Hidup Sehat Jiwa dan Raga” dipilih sebagai respons terhadap tantangan kesehatan masyarakat yang kian kompleks. Menurutnya, fenomena penyakit degeneratif dan gangguan kesehatan mental kini tidak lagi identik dengan usia lanjut.
“Kita melihat semakin banyak anak-anak dan generasi muda yang mengalami gangguan kesehatan sejak usia dini. Melalui forum ini, kami ingin berbagi pengetahuan sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih sadar menjaga kesehatan. Kagama harus menjadi ruang kolaborasi yang memberi manfaat nyata, bukan sekadar temu kangen,” kata Junaidi.
Diskusi Kesehatan Multidimensi
Berbeda dari halalbihalal pada umumnya, panitia mengemas kegiatan ini dengan diskusi tematik yang menghadirkan dua narasumber dari latar keilmuan berbeda. Mereka adalah dr Hasriza Eka Putra, MSi, SpA, dokter spesialis anak, dan Dr Lisya Khairani, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau, yang juga merupakan alumni UGM.
Dalam paparannya, dr Hasriza menyoroti urgensi menjaga kesehatan fisik melalui pola hidup sederhana tetapi konsisten. Menurut dia, pola makan dan gaya hidup masyarakat modern menyimpan banyak risiko tersembunyi.
“Kelebihan lemak jahat dalam tubuh dapat merusak pembuluh darah. Lemak ini bisa menyelinap dan menyebabkan sumbatan, yang berisiko memicu penyakit serius seperti jantung koroner, stroke, hingga gagal ginjal,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya gizi seimbang, konsumsi air putih yang cukup, tidur berkualitas, aktivitas fisik teratur, dan menjauhi rokok serta makanan berlemak. Prinsip-prinsip dasar tersebut, menurutnya, kerap diabaikan meski dampaknya sangat besar terhadap kualitas hidup.
Kesehatan Mental dan Budaya Memaafkan
Sementara itu, Dr Lisya Khairani menyoroti sisi kesehatan mental yang kerap luput dari perhatian. Ia menegaskan bahwa tekanan kerja, dinamika sosial, dan paparan teknologi digital yang masif telah meningkatkan tingkat stres, khususnya pada generasi muda.
Salah satu poin yang disampaikannya adalah pentingnya keterampilan memaafkan sebagai bagian dari kesehatan jiwa.
“Dalam riset yang kami lakukan terhadap lebih dari 400 responden usia 20–25 tahun, banyak ditemukan bahwa anak-anak muda belum memiliki keterampilan memaafkan. Padahal, individu yang tidak mampu memaafkan cenderung lebih mudah stres, marah, dan mengalami tekanan emosional,” ujar Lisya.
Ia menambahkan, budaya serba instan yang dipengaruhi gawai dan media digital turut memperparah kondisi tersebut. Karena itu, pendidikan emosi—termasuk kemampuan memaafkan—perlu ditanamkan sejak dini, baik dalam keluarga maupun lingkungan pendidikan.
Ruang Berbagi dan Silaturahmi
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para peserta antusias melontarkan pertanyaan dan berbagi pengalaman, mulai dari pengasuhan anak, manajemen stres di tempat kerja, hingga tantangan menjaga kesehatan di usia produktif.

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah, makan bersama, pembagian doorprize, dan sesi foto bersama, menegaskan kembali tujuan utama halalbihalal: mempererat persaudaraan dalam suasana yang hangat dan bermakna.
Melalui kegiatan ini, Kagama Pekanbaru tidak hanya merawat ikatan alumni, tetapi juga menegaskan perannya sebagai komunitas intelektual yang peduli pada isu-isu sosial dan kesehatan masyarakat—sebuah kontribusi kecil namun relevan di tengah tantangan kehidupan modern.