KAGAMA Cabang Khusus Belanda Menyelenggarakan Seminar Virtual dengan Judul “Living in Peace with Covid-19? : On the issue of demography, social justice, environment and sustainability”

Belanda — Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Cabang Khusus Belanda atau Kagama NL menyelenggarakan seminar dengan judul “Living in Peace with Covid-19? : On the issue of demography, social justice, environment and sustainability” pada tanggal 6 Juni 2020 secara virtual melalui Webex dan Youtube. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 120 peserta dari berbagai negara: Indonesia, Belanda, Australia, Austria, Jerman, Hungaria, Jepang, dan Amerika Serikat.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendiskusikan dampak Covid-19 dari berbagai sudut pandang yang saling terkait yakni demografi, social justice, kaitan antara epidemiologi dan lingkungan dan juga sustainability. Webinar ini bertujuan untuk memberikan insights atau sumbangsih pemikiran tentang bagaimana menghadapi ketidakpastian, bagaimana senantiasa bersikap positif di tengah-tengah pandemi global dengan tetap mendukung pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan ini dipandu oleh Citra Siagian, anggota Kagama NL yang juga alumni Fakultas Kehutanan UGM, selaku MC. Acara dibuka oleh Dr. Ari Susanti, Ketua Kagama NL periode 2019-2020. Dalam pidato pembukaan, Ari menekankan bahwa kegiatan ini merupakan wujud sumbangsih para anggota Kagama NL. Di samping itu, forum ini bertujuan untuk memberikan kontribusi akademisi yang ditujukan untuk merespons adanya fenomena pandemi Covid-19. Dalam kesempatan yang sama, Ari menyosialisasikan adanya Gerakan Kagama Care yaitu platform atau program yang dibuat khusus untuk menerima dan menyalurkan donasi guna mendukung masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan pada masa pandemi Covid-19.

Ketua Umum PP KAGAMA, Ganjar Pranowo memberikan paparan bagaimana persiapan new normal harus dilakukan

Usai pembukaan, acara diisi dengan paparan dari Ketua Kagama, Ganjar Pranowo, yang memberikan gambaran bagaimana persiapan New Normal harus dilakukan. Selain sebagai Ketua Kagama beliau juga menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah paparannya juga terkait dengan sudut pandang pemerintah daerah. Beliau menggarisbawahi pentingnya kebersamaan dalam menyelesaikan pandemi ini. Kegiatan Kagama Cantelan (bantuan sembako cuma-cuma untuk masyarakat yang membutuhkan dengan menggantungkan sembako tersebut di pagar) yang muncul secara partisipatif merupakan salah satu contoh modal sosial yang sangat baik yang kita miliki. Integrasi data kesehatan, gerakan sosial, dan gerakan edukasi masyarakat dapat menjadi turning point dalam memulihkann sektor ekonomi yang terkena dampak paling parah dari pandemi Covid-19, khususnya sektor ekonomi informal.

Selain itu, Indonesia juga telah mulai mempersiapkan adaptasi New Normal untuk mengembalikan aktivitas ekonomi sembari melawan Covid-19. Beliau juga menegaskan bahwa secara paralel masyarakat perlu disiapkan untuk menyambut New Normal dengan membiasakan memakai masker, menyediakan pembersih tangan, dan hal lain terkait pola hidup bersih. Namun demikian, kita tidak dapat secara terburu-buru menerapkan New Normal sebelum grafik prevalensi menurun. Dari perspektif Pemerintah Daerah, ketersediaan perangkat hukum beserta implementasinya menjadi sangat penting, khususnya sembari menunggu adanya vaksin dan pengembangan obat untuk Covid-19 dan untuk mempersiapkan kemungkinan adanya gelombang kedua Covid-19.

Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, menyampaikan beberapa hal terkait dengan penanganan Covid-19 di Belanda. Beliau senantiasa berkomunikasi dengan pemerintah Belanda dan memahami bahwa pemerintah Belanda telah bekerja keras melawan Covid-19. Covid-19 memaksa pemerintah Belanda menerbitkan kebijakan khusus yakni Intelligent lockdown di masa penanganan Covid-19 dengan melakukan pembatasan jarak fisik, penyediaan alat kebersihan di tempat umum serta pembatasan mobilitas baik dalam dan luar negeri. Saat ini, regulasi tersebut telah terlihat hasilnya. Kurva epidemiologi Belanda telah menurun dan saat ini stabil di titik terendah dengan penambahan orang yang terinfeksi sangat minim per harinya.

Sesi diskusi dimoderatori oleh Dr. Annisa Triyanti, anggota Kagama NL yang juga alumni Fakultas Geografi UGM dan saat ini bekerja di Copernicus Institute of Sustainable Development Utrecht University. Paparan pertama disampaikan oleh Dr. Sukamdi, dosen Fakultas Geografi UGM. Paparannya yang berjudul “Covid-19 and Demography”. Dr. Sukamdi menyampaikan pentingnya memperhatikan pelayanan kebutuhan dasar bagi kelompok rentan dalam pandemic ini dengan memberikan ilustrasi pada tiga aspek:

  1. Fertility, yang diperkirakan akan ada kenaikan 10% kelahiran dalam waktu dekat yang harus diantisipasi dengan persiapan protokol sistem kesehatan yang baik,
  2. Mortality, orang lanjut usia perlu diperhatikan karena termasuk kelompok rentan dalam masa pandemi ini,
  3. Population mobility, terutama bagi kelompok yang memerlukan mobility untuk meningkatkan kondisi ekonomi mereka tetapi mereka tidak dapat melakukannya selama pandemic berlangsung.

Dr. Sukamdi menawarkan solusi dengan peningkatan kesempatan kerja di area rural (nonfarm dan off-farm) melalui:

  1. Kerja sama antarsektor,
  2. Kerja sama dalam sektor antara usaha skala mikro, kecil, menengah, dan besar.

Paparan kedua disampaikan oleh Ahmad Arif, seorang journalis dari KOMPAS. Judul paparannya adalah “Covid-19 and Social Justice” yang menekankan pentingnya perlindungan kelompok rentan yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19. Arif juga memberikan ilustrasi tentang pengetesan yang kacau di banyak tempat di Indonesia dan jetidaksiapan Indonesia untuk memasuki New Normal. Sebagai tambahan, Arif memberikan beberapa rekomendasi untuk Indonesia paska pandemi:

  1. Arah baru pembangunan nasional,
  2. Peningkatan system pelayanan masyarakat, dan
  3. Reformasi data dan tata kelola informasi untuk memperbaiki system birokrasi dalam menghadapi Covid-19 dan masalah-masalah lain di Indonesia.

Paparan ketiga berjudul “Covid-19 and Environmental Degradation: From Wildlife to Human” disampaikan oleh Prof. M. Haryadi Wibowo. Penjelasan diawali dengan asal muasal virus Covid-19 dari inang kelelawar dan burung. Beliau menyampaikan bahwa virus Covid19 senantiasa bermutasi sehingga memahami morfologi virus dapat dijadikan dasar untuk merespon COVID-19 melalui upaya preventif. Misalnya dengan mencuci tangan menggunakan pelarut lemak (lipid sovent) seperti detergent atau bahan lain yang mengandung chloroform dan disinfectant. Jenis satwa liar yang dapat menjadi inang Covid19 antara lain adalah kelelawar, ular, kucing, makaka, hamster, musang, dan cerpelai. Transmisi virus dari satwa liar ke manusia dapat diperparah oleh aktivitas manusia misalnya ketika manusia baik secara sengaja atau tidak sengaja merusak habitat satwa liar tersebut, perubahan iklim, konsumsi satwa liar sebagai makanan dan obat tradisional, dan perburuan dan perdagangang satwa liar. Prof. Haryadi menyimpulkan bahwa memelihara habitat satwa liar, mengurangi potensi transmisi, pendidikan lingkungan terkait pengelolaan satwa liar, dan menghentikan perburuan dan perdagangan satwa liar merupakan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk tindakan kuratif Covid-19 dan potensi penyebaran virus-virus lainnya.

Terakhir, Frank Biermann, professor dari Copernicus Institute of Sustainable Development, Utrecht University, menyampaikan paparan dengan judul “Covid-19 and Sustainability”. Seperti telah disepakati banyak negara, Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi acuan pembangunan yang berkelanjutan dengan capaian target mulai tahun 2015 hingga 2030. Prof. Frank Bierman menekankan bahwa SDG merupakan target yang sangat ambisius (dikutip sebagai antara lain menyelesaikan permasalahan kemiskinan dan penindasan serta untuk menyelamatkan bumi) tetapi lemah dalam kelembagaan (target tidak mengikat secara hukum apabila ada negara yang menerapkan tetapi tidak dapat mencapai target yang telah ditatapkan, pencapaian target sulit dinilai karena menggunakan pendekatan kualitatif, menyamakan kemampuan semua negara baik negara maju maupun negara berkembang serta sangat berkaitan dengan kegiatan manusia). SDGs disiapkan agar seluruh dunia berjuang bersama dalam menghadapi masalah kerusakan lingkungan dan turunannya.

Namun, SDGs tidak secara khusus dipersiapkan apabila dalam perjalanannya terjadi krisis seperti yang terjadi pada awal Maret 2020 (yang sebetulnya mungkin sudah terjadi lebih awal) muncul pandemi global Covid-19. Berkaitan dengan pencapaian SDGs, pendemi mempunyau dampak negatif dan positif. Dampak negatifnya antara lain setiap negara lebih sibuk dengan penanganan Covid-19 dan mengesampingkan target global SDGs, berkurangnya lapangan pekerjaan, munculnya elite global yang mendukung inequality, berkurangnya investasi public karena seluruh negara harus berhadapan dengan krisis, dan ancaman “Covid-nationalism”. Sementara, dampak positifnya antara lain, Covid-19 memaksa sikap bijaksana dalam melakukan perjalanan udara (yang sebetulnya menjadi pemasok emisi tertinggi) untuk mengendalikan penularan, kesempatan bekerja-di-rumah lebih banyak yang berimplikasi pada pola mobilitas baru, cara baru dalam rekreasi, dan penurunan gaya hidup materialistis.

Oleh sebab itu, kerja sama internasional harus benar-benar ditingkatkan dengan pola baru yang mengutamakan keadilan sosial. Terakhir, beliau menyampaikan pandangannya bahwa pandemi Covid-19 ini menjadi faktor pendorong bagi negara-negara di dunia untuk berinisiatif dalam menghadapi pandemi melalui pembatasan aktivitas dan pengaturan perilaku manusia, turut campur tangan dalam pembangunan berkelanjutan, memfasilitasi perubahan norma sosial, berperan aktif dalam melindungi satwa liar dan keanekaragaman hayati.

Dalam diskusi, Dr. Annisa menggarisbawahi empat pertanyaan dari peserta:

  1. Pertanyaan pertama berasal dari Sahta Ginting (Universitas Halu Oleo) kepada Ahmad Arif terkait dengan bagaimana sebagai individu dapat merespons Covid-19 di tengah keberagaman di Indonesia. Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh presenter bahwa memang sebagai individu akan sulit untuk menentukan prioritas apa yang akan dilakukan sebelum pemerintah dapat meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah mampu menghadapi krisis Covid-19 ini.
  2. Pertanyaan kedua berasal dari Ivan (A-Wing Group) yang ditujuan kepada Prof. Frank Bierman terkait bagaimana negara-negara di dunia harus bekerja sama untuk menghadapi Covid-19. Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh presenter bahwa kerja sama antarnegara dalam penemuan vaksin dan masker harus diperkuat dan hasilnya harus dibagikan secara merata ke seluruh dunia, terlepas dari negara mana yang menemukan dan negara mana yang paling terdampak.
  3. Ketiga, Wa Ode Feti Liliana (Kendari) menanyakan bagaimana bonus demografi 2045 berimplikasi pada sistem pendidikan yang sudah betransformasi pada era New Normal. Pertanyaan ini dijawab oleh Dr. Sukamdi bahwa bonus demografi akan memerlukan keseimbangan dengan ketersediaan lapangan lapangan pekerjaan di masa depan. Sistem Pendidikan harus mempertimbangkan skill atau keterampilan baru yang diperlukan oleh pasar pekerja untuk menjawab permasalahan-permasalah di masa yang akan datang.
  4. Fiyul_Belanda menutup rangkaian diskusi dengan saran bahwa pemahaman informasi berkaitan dengan virus di Indonesia sangat terbatas sehingga sangat perlu kerja sama aktor lokal dan nasional (pemerintah) dalam sosialisasi dengan ahli virus. Saran ini disambut positif oleh Prof. Haryadi karena memang hal itu diperlukan, yaitu pendidikan atau penambahan pengetahuan tentang virus hingga ke lini terbawah masyarakat Indonesia, juga isu-isu terkait pandemi Covid-19 ini.

Tepat pukul 15.15 CEST, Kegiatan ini ditutup oleh I Gusti Wesaka Puja. Beliau juga mendukung adanya aksi sosial Kagama Care dan menyampaikan bahwa seluruh pihak dipersilakan berpartisipasi berbagi rezeki melalui Kagama Care.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*