
”Darah Juang” di Meja Buka Puasa: Simpul Solidaritas Alumni Filsafat UGM
Oleh: HUMAS KAGAMA FILSAFAT
JAKARTA, KAGAMA – Suasana di Aroem Resto & Ballroom, Jakarta, Sabtu (28/2/2026) malam, mendadak senyap. Ratusan alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) dari berbagai lintas generasi berdiri dengan khidmat. Saat melodi gitar mulai dipetik, bait yang akrab di telinga para aktivis sejak dekade 90-an bergema: ”Bunda relakan darah juang kami/ Padamu kami mengabdi/ Padamu kami berjanji.”

Acara buka puasa bersama (bukber) yang digelar Keluarga Alumni Filsafat UGM (Kagama Filsafat) tahun ini berubah menjadi panggung penghormatan (tribute) bagi Johnsony Marhasak Lumbantobing, atau John Tobing. Sang pencipta lagu “Darah Juang” tersebut baru saja wafat di Yogyakarta pada Rabu (25/2/2026).

Momen Bersejarah dan Simbol Kepekaan
Bukber malam itu terasa istimewa dan mencetak sejarah tersendiri. Untuk pertama kalinya, acara rutin alumni Filsafat dihadiri langsung oleh jajaran rektorat, yakni Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM periode 2022–2027, Arie Sujito.

Dalam sambutannya, Arie menegaskan bahwa sosok John Tobing adalah representasi dari jati diri UGM sebagai kampus kerakyatan. “John Tobing bukan sekadar alumnus yang menciptakan lagu. Ia adalah simbol kepekaan sosial dan intelektualitas yang membumi. Melalui ‘Darah Juang’, John berhasil merangkum kegelisahan rakyat menjadi energi perubahan yang melintasi zaman,” ujar Arie Sujito.
Kesaksian Nezar Patria: Lagu yang Melampaui Zaman
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria, yang merupakan adik kelas sekaligus sahabat karib almarhum di kampus, memberikan testimoni yang mendalam.

“John Tobing adalah sosok yang rendah hati, bahkan cenderung menarik diri dari popularitas, meskipun karyanya dinyanyikan jutaan orang di jalanan,” ungkap Nezar. Menurutnya, lagu itu diciptakan di rumah kontrakan sederhana di Pelem Kecut, Gejayan, sebagai bentuk kedermawanan intelektual yang murni karena John tidak pernah memungut royalti sepeser pun demi perjuangan rakyat.
Kehadiran Tokoh Lintas Sektor dan Budaya
Kehangatan suasana bukber semakin terasa dengan hadirnya tokoh-tokoh alumni yang kini mewarnai berbagai sektor penting di Indonesia. Di deretan meja depan, tampak sastrawan ternama Eka Kurniawan (alumnus angkatan 1993) yang hadir memberikan penghormatan bagi seniornya. Kehadiran penulis buku Lelaki Harimau ini menambah kental nuansa intelektual dan budaya dalam pertemuan tersebut.
Tak hanya dari dunia sastra, sektor korporasi pun turut diwakili oleh Ajar Edi, yang kini menjabat sebagai Senior Vice President, Regulatory & Government Affairs PT Indosat Tbk. Kehadiran Ajar menunjukkan bahwa nilai-nilai filsafat dan semangat “Darah Juang” tetap relevan meski dibawa ke ranah profesional tingkat tinggi.

Ketua Umum Kagama Filsafat, Aryaning Arya Kresna, yang memandu jalannya acara, menyebutkan bahwa kehadiran para tokoh ini adalah bukti soliditas alumni. “Malam ini kita melihat spektrum pengabdian yang luas, dari sastra hingga korporasi, semuanya disatukan oleh satu nada yang sama,” kata Arya.
Warisan yang Terus Mengalir
Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga momentum penggalangan solidaritas bagi keluarga almarhum. Malam itu, di sela-sela hidangan takjil, para alumni seolah diingatkan kembali pada janji setia mereka kepada kemanusiaan.

“Kita boleh berpisah di meja makan ini, tapi semangat ‘Darah Juang’ harus terus mengalir dalam profesi dan pengabdian kita masing-masing,” pungkas Arie Sujito menutup rangkaian acara. John Tobing kini telah tiada, namun nadanya dipastikan akan tetap abadi di setiap sudut kampus dan setiap jengkal perlawanan terhadap ketidakadilan.