Catatan Setahun Perjalanan Kagama Canthelan

Oleh: Tom Blero

Hari Selasa (4/5/2021) Kagama Canthelan merayakan ulang tahunnya untuk yang pertama kalinya. Meski Ardiati Bima (Faperta ’86), sang pelopor canthelan, sudah melakukan canthelan sejak sebulan sebelumnya, namun baru pada tanggal 4 Mei 2020 Ardiati mencanthelkan untuk pertama kalinya secara resmi disupport oleh Kagama Care. Sehingga akhirnya disepakati 4 Mei adalah tanggal berdirinya Kagama Canthelan.

Ardiati Bima. pelopor gerakan canthelan

Meskipun idenya tidak orisinil, seperti pengakuan Ardiati sendiri, namun ia tetap layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Idenya sesungguhnya sangat sederhana & mudah sekali. Semua orang bisa melakukannya, yang dibutuhkan hanyalah niat mulia untuk berbagi kepada sesama di tengah-tengah krisis akibat pandemi corona.

Ardiati yang tinggal di dusun Rajek Lor, Tirtoadi, Mlati Sleman, Yogyakarta, menggantungkan aneka sayuran, telur, minyak, mie instan di bambu yang melintang di jalan kampung. Di situ tertulis “Gratis sumonggo bagi yang membutuhkan”. Di sebelahnya juga ada tulisan yang berisi ajakan, “Dengan senang hati dipersilahkan juga yang mau ikut menambah / memberi di sini”. Lalu disediakan juga sebuah gunting kecil disitu yang diikat tali rafia, dimaksudkan untuk memudahkan siapa saja yang mau mengambil bahan makanan yang ada ada di situ tinggal memotong talinya.

Alm. Mbah Kasinem Somapawiro

Ketika saya meliput setahun yang lalu, Ardiati baru saja merampungkan kegiatannya canthelannya. Lalu saya diajak ke rumah sahabatnya yang bernama Sukemi, pengelola canthelan di Dusun Nambongan, Tlogoadi, Mlati, Sleman. Saat sampai di sana, Mbah Kasinem Somapawiro, nenek dari Sukemi, sedang membantu cucunya menyiapkan canthelan. Seketika saya potret aktifitasnya, dan tidak disangka fotonya tersebut akan menjadi ikon canthelan yang sangat ikonik. Namun sayang 2 bulan kemudian, tepatnya 6 Juli 2020, Mbah Kasinem meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Karena termasuk gerakan kemanusiaan yang unik, tidak butuh waktu lama aksi canthelan Ardiati menjadi viral & diliput banyak media lokal maupun nasional, bahkan media internasional. Fenomena canthelan rupanya menarik perhatian Sulastama Raharja dari Kagama Care (organisasi sosial nirlaba yang didirikan oleh para alumni UGM). Sulastama ingin menularkan gerakan sosial tersebut kepada seluruh warga KAGAMA di seluruh Indonesia. Ia melihat canthelan banyak memiliki kelebihan yaitu bisa dilakukan oleh siapa saja, mudah diduplikasi, memfasilitasi masyarakat yang akan berdonasi, menjaga solidaritas serta kepedulian tetangga, dan tidak membutuhkan modal yang terlalu besar.

Selanjutnya Kagama Care menawarkan modal awal sebesar Rp. 500 ribu kepada teman-teman Kagama di mana saja yang bersedia menggerakkan canthelan di tempat tinggalnya masing-masing. Rupanya gayung bersambut, banyak yang menyatakan tertarik. Dan seperti cendawan di musim hujan, gerakan canthelan menyebar sangat cepat menjangkau sebagian besar wilayah Indonesia. Pada bulan Juli 2020 tercatat canthelan sudah tersebar pada 121 lokasi di 46 kota meliputi 23 provinsi, dengan penerima sekitar 1000 keluarga/hari. Sebuah pencapaian yang sangat fantastis hanya dalam tempo singkat.

Canthelan di Sayidan

Saya tiba-tiba teringat teori butterfly effect yang berbunyi “kepak sayap kupu-kupu di Brasil menimbulkan badai tornado di Texas”. Maksudnya adalah meski hanya suatu tindakan kecil namun sangat berdampak sangat luar biasa dan hasilnya bisa tidak terduga di masa depan. Begitulah yang terjadi di canthelan, meski kegiatannya cuma berbagi barang kebutuhan pokok secara sederhana, namun efeknya sungguh luar biasa. Bagaimana ia dengan cepat mewabah menjadi ‘virus’ penebar kebaikan di mana-mana.

Secara logika, dengan modal Rp. 500 ribu tentulah hanya maksimal 5x canthelan sudah rampung. Namun apa yang terjadi sungguh-sungguh di luar perkiraan. Keterlibatan para donatur dan warga setempat menjadikan canthelan yang dikelola oleh para pegiat dapat bertahan hingga berminggu-minggu. Semakin banyak warga yang terlibat sebagai pegiat dan donatur, semakin banyak pula warga yang terbantu. Kegiatan canthelan ini sangat memungkinkan untuk mewadahi warga yang tidak punya dana besar tetapi ingin berdonasi dalam bentuk apa saja. Ada yang menyumbang uang dan barang dalam jumlah besar, namun ada yang hanya menyumbang telur 2 butir atau pepaya 1 buah atau mie instan 5 bungkus, dll. Ada pula yang tadinya ikut mengambil canthelan, kemudian turut menambahkan isi canthelan apabila ada rejeki berlebih. Semua berperan sama pentingnya.

Pasar Tiban Mangunsudiran

Seiring berjalannya waktu, canthelan berkembang dan bertransformasi menjadi berbagai bentuk antara lain Dusun Canthelan Burikan, yaitu melibatkan dan memberdayakan warga sehingga setiap RT memproduksi makanan secara mandiri, di mana keuntungannya untuk canthelan. Lalu ada Nugget Canthelan, memproduksi nugget untuk dijual dan labanya untuk membiayai canthelan.

Kemudian ada Canthelan Bibit Sayuran, membagi benih sayur dan sarana produksi pertanian, dan Canthelan Kerja Kebun, melakukan kerja di kebun, diupah dengan hasil kebun dan sembako. Lalu di Ledok Gowok, Catur Tunggal, Yogyakarta dari canthelan kemudian merambah urban farming dengan didukung oleh Kagama Care – Ketahanan Pangan.

Pasar Noceng di Karawang

Juga ada Warung Ikhlas, semacam canthelan namun warga membayar seikhlasnya. Selain itu hadir pula Pasar Noceng di Bekasi dan Karawang, dengan membayar Rp. 10.000 warga bisa mendapatkan sekitar 5 jenis sayuran dan bahan pokok lainnya senilai antara Rp. 20.000 – Rp. 30.000. Yang hampir senada adalah Pasar Tiban Mangunsudiran yang diadakan sebulan sekali, di mana pengunjung memasukkan uang Rp. 5.000 ke dalam toples dan mendapatkan kupon yang bisa dipakai menebus 7 dari sekitar 50 lebih jenis barang yang disediakan.

Kini, ada beberapa teman pegiat canthelan yang sudah menghentikan kegiatannya karena berbagai macam alasan. Namun masih banyak juga yang lanjut. Sungguh sebuah perjuangan teramat panjang yang layak mendapatkan apresiasi tinggi. Satu tahun bukanlah waktu yang pendek untuk berbakti kepada sesama. Lalu kapankah canthelan akan berakhir? Biarlah waktu yang menjawabnya.

Canthelan adalah sebuah fenomena luar biasa. Ia hadir dan survive di tengah banyaknya kendala yang ada, seolah-olah melawan logika. Seperti salah satu tagline yang diusungnya “ora lokak malah kebak” yang terjemahan bebasnya tidak semakin habis tapi justru semakin bertambah banyak.

Para penggiatnya bolehlah bangga, karena kelak sejarah akan mencatat dengan tinta emas mereka adalah orang-orang mulia yang mau berbagi kepada sesama di tengah-tengah pandemi yang melanda.

Selamat ulang tahun yang pertama buat Kagama Canthelan.

1 Comment

  1. Canthelan sdh membius warga yg ingin membantu dan merupakan wadah yg cukup bagus untuk para donatur. Wadah tempat orang-orang yg ingin berbuat kebaikan. Satu tahun bukan waktu yg sebentar, sungguh luar biasa ‘virus’ canthelan…

    Slmt milad ke 1 untuk Canthelan smg terus membawa keberkahan.aamiin

    #CanthelanBanten

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*