Ilmu Tak Boleh Berhenti pada Gelar

Ilmu Tak Boleh Berhenti pada Gelar

Sulastama Raharja mengajak alumni baru UGM menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian yang berakar pada persoalan rakyat.

YOGYAKARTA – Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti pada gelar akademik. Ilmu harus berakar pada persoalan rakyat dan diwujudkan dalam pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan itu disampaikan Sulastama Raharja saat mewakili Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA) dalam Upacara Wisuda Program Pascasarjana UGM Periode I Tahun Akademik 2026/2027 di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta.

“Sebagaimana beringin yang akarnya menghunjam ke dalam tanah, ilmu pengetahuan yang Saudara miliki harus berakar kuat pada persoalan rakyat,” kata Sulastama dalam sambutannya.

Atas nama PP KAGAMA, Sulastama menyampaikan selamat kepada para wisudawan dan menyambut mereka sebagai bagian dari keluarga besar alumni UGM.

Menurut dia, kelulusan bukanlah akhir perjalanan akademik, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar sebagai kaum intelektual.

“Hari ini status kemahasiswaan Saudara telah purna. Namun, mandat moral Saudara sebagai kaum intelektual Gadjah Mada justru baru saja dimulai,” ujarnya.

Menjadi Intelektual yang Mengayomi

Dalam sambutannya, Sulastama menggunakan pohon beringin sebagai perlambang alumni UGM. Akar yang menghunjam bumi menggambarkan landasan ilmu yang kuat, sedangkan kerimbunan dahannya mencerminkan keteduhan dan pengayoman.

“Beringin adalah lambang pengayoman, keteduhan, dan kekuatan akar yang menghujam bumi. Hari ini kita menyaksikan lahirnya insan-insan berilmu yang siap tumbuh menjadi peneduh bagi bangsa dan kemanusiaan,” katanya.

Sulastama mengingatkan bahwa para lulusan akan memasuki dunia yang terus berubah. Transformasi kecerdasan artifisial, tantangan energi, perubahan iklim, dan dinamika geopolitik global menghadirkan persoalan yang semakin kompleks.

Berbagai persoalan tersebut, menurut dia, tidak dapat diselesaikan hanya dengan teori di atas kertas. Pengetahuan harus dipertemukan dengan kenyataan dan digunakan untuk menghadirkan solusi yang dapat dirasakan masyarakat.

UGM, lanjut Sulastama, tidak mendidik mahasiswanya menjadi bagian dari menara gading yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Para lulusan justru diharapkan hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan, dan turut mencari jalan keluarnya.

“Jadilah intelektual yang ngayomi. Ilmu amaliah, amal ilmiah,” ujarnya.

Prinsip tersebut menegaskan bahwa ilmu harus diamalkan. Sebaliknya, setiap tindakan pengabdian harus dilandasi pengetahuan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

KAGAMA sebagai Jejaring Pengabdian

Sulastama juga mengajak para lulusan untuk bergabung dan berperan aktif dalam keluarga besar KAGAMA.

Kelulusan dari UGM, kata dia, tidak berarti para wisudawan meninggalkan kampus beserta nilai-nilai yang telah membentuk mereka. Para lulusan justru memasuki ruang pengabdian yang lebih luas melalui jejaring alumni UGM di Indonesia dan berbagai negara.

“KAGAMA bukan sekadar organisasi alumni. KAGAMA adalah jejaring pengabdian. KAGAMA adalah ruang gotong royong. KAGAMA adalah rumah kebangsaan,” katanya.

Melalui KAGAMA, alumni dari berbagai disiplin ilmu, profesi, daerah, dan generasi dapat berkolaborasi. Keberhasilan pribadi, menurut Sulastama, akan memiliki makna yang lebih besar apabila dihubungkan dengan kemanfaatan bagi masyarakat.

Ia juga mengingatkan para alumni baru untuk memegang teguh nilai utama KAGAMA, yaitu guyub, rukun, migunani. Nilai tersebut menempatkan kebersamaan, kerukunan, dan kemanfaatan sebagai landasan alumni dalam berkarya.

Pesan itu sejalan dengan Panca Prasetya Alumni UGM yang diikrarkan dalam rangkaian wisuda. Para lulusan berjanji mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan untuk kepentingan masyarakat, bangsa, negara, dan umat manusia.

Penghargaan kepada Keluarga

Sulastama turut menyampaikan penghargaan kepada orang tua, pasangan, anak-anak, keluarga, serta semua pihak yang mendampingi perjalanan pendidikan para wisudawan.

Menurut dia, di balik toga dan gelar akademik terdapat doa, dukungan, dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat.

Dalam kesempatan tersebut, Sulastama juga menyampaikan rasa syukur atas kelulusan istrinya, Rini Maya Puspita, yang menyelesaikan Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.

Ia menilai ketekunan dan keteguhan istrinya dalam menyelesaikan pendidikan sebagai teladan tentang pentingnya belajar sepanjang hayat.

“Semoga ilmu yang diperoleh membawa manfaat yang luas bagi sesama. Kebahagiaan ini adalah kebahagiaan keluarga kami dan semoga menjadi pengingat bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk terus belajar dan bertumbuh,” katanya.

Ukuran Tertinggi Ilmu

Wisuda Program Pascasarjana UGM Periode I Tahun Akademik 2026/2027 meluluskan 2.524 orang. Mereka terdiri atas 2.145 lulusan program magister, 89 lulusan program spesialis, 20 lulusan program subspesialis, dan 270 lulusan program doktor.

Rektor UGM Ova Emilia mengatakan, para lulusan pascasarjana diharapkan menjadi pelopor inovasi, mampu berpikir kritis, menghasilkan pengetahuan, serta berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Menutup sambutannya, Sulastama mengajak para alumni baru untuk menjaga integritas, membangun kolaborasi, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.

Menurut dia, keberhasilan akademik tidak cukup diukur dari gelar yang disandang. Nilai sebuah ilmu terutama ditentukan oleh manfaat yang dapat dihadirkan bagi kehidupan bersama.

“Pada akhirnya, ukuran tertinggi ilmu bukanlah gelar yang disandang, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu dihadirkannya bagi sesama, masyarakat, dan Indonesia,” kata Sulastama.

Ia menutup sambutannya dengan pantun:

Mekar melati di Taman Pertiwi,
Harum semerbak sepanjang hari.
Selamat mengabdi para alumni,
Berkarya untuk negeri, mengharumkan almamater sejati.