Di Sekumur, Kagama Merawat Indonesia
Melalui pembangunan huntara, dukungan pendidikan, pemulihan ekonomi, dan kolaborasi lintas sektor, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa gotong royong tetap menjadi perekat yang menghubungkan warga dari berbagai penjuru negeri.
ACEH TAMIANG, KAGAMA — Jarak yang jauh, akses yang sulit, dan keterbatasan infrastruktur tidak menghalangi langkah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) menuju Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Di kawasan pedalaman yang porak-poranda akibat banjir bandang pada akhir 2025 itu, Kagama datang membawa pesan yang lebih besar daripada bantuan fisik: masyarakat tidak sedang menghadapi bencana sendirian.

Pada 5 Juli 2026, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kagama menyerahkan secara simbolis 26 unit hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana. Namun bagi masyarakat Sekumur, rumah-rumah itu sesungguhnya bukan bangunan yang baru diresmikan. Sebagian besar telah lebih dahulu ditempati oleh para penyintas yang selama berbulan-bulan bertahan di tenda pengungsian. Serah terima tersebut menjadi penanda bahwa kerja gotong royong yang dibangun sejak masa tanggap darurat akhirnya menjelma menjadi ruang hidup yang layak bagi warga.

Kehadiran Kagama di Aceh Tamiang memperlihatkan bagaimana sebuah organisasi alumni dapat bertransformasi menjadi kekuatan kemanusiaan. Organisasi yang menghimpun alumni UGM dari berbagai profesi dan generasi itu tidak hanya berfungsi sebagai wadah jejaring intelektual, tetapi juga menjadi ruang kolektif untuk menggerakkan solidaritas sosial ketika masyarakat menghadapi situasi krisis. Melalui jejaring yang tersebar di berbagai daerah, Kagama mengonsolidasikan dukungan untuk menjangkau wilayah yang terdampak paling berat dan membutuhkan perhatian segera.
Di lapangan, semangat tersebut tampak dalam berbagai bentuk. Selain membangun huntara, Kagama juga terlibat dalam perbaikan sekolah, penyediaan perlengkapan pendidikan, dukungan logistik, hingga berbagai program yang mendukung proses pemulihan masyarakat. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Kagama Nezar Patria menegaskan bahwa pembangunan huntara hanyalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk membantu warga bangkit setelah bencana. “Kami membangun 26 unit hunian sementara. Selain itu, terdapat sejumlah pembangunan yang kami lakukan, seperti perbaikan sekolah dan perlengkapan sekolah di beberapa titik di Aceh Tamiang dan Aceh Timur,” ujarnya.

Namun, kehadiran PP Kagama di Aceh Tamiang menunjukkan bahwa aksi kemanusiaan tersebut merupakan kerja kolektif organisasi, bukan kerja seorang tokoh semata. Selain Nezar Patria, kegiatan penyerahan bantuan dan pendampingan masyarakat juga melibatkan Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan PP Kagama Sulastama Raharja, Ketua Bidang Hubungan Almamater PP Kagama Sandhya Yuddha, serta Ketua Bidang Kerja Sama dan Hubungan Antarlembaga PP Kagama Ajar Edi. Kehadiran para pengurus dari berbagai bidang tersebut mencerminkan upaya Kagama untuk mengintegrasikan pengabdian masyarakat, penguatan jejaring almamater, serta kolaborasi antarlembaga dalam mendukung pemulihan masyarakat pascabencana.
Pilihan untuk memusatkan bantuan di Kampung Sekumur juga mencerminkan pendekatan yang berbasis kebutuhan. Sebelum pembangunan dimulai, UGM dan Kagama Aceh melakukan pemetaan wilayah terdampak. Hasilnya menunjukkan bahwa Sekumur merupakan salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling berat sekaligus relatif sulit dijangkau. Karena itulah bantuan difokuskan ke wilayah tersebut. Di tengah keterbatasan akses, keputusan itu menunjukkan keberpihakan kepada warga yang paling membutuhkan pertolongan.

Sebagian material huntara bahkan berasal dari kayu-kayu yang hanyut saat banjir dan kemudian dimanfaatkan kembali dalam pembangunan rumah sementara. Dari sisa-sisa kehancuran, lahir ruang baru yang menopang harapan warga untuk memulai kehidupan kembali. Bagi para penyintas, huntara bukan hanya tempat berlindung dari panas dan hujan, melainkan titik awal untuk mendapatkan kembali rasa aman dan martabat yang sempat hilang akibat bencana.

Namun Kagama tidak berhenti pada penyediaan tempat tinggal. Organisasi alumni tersebut juga mulai menyentuh aspek pemulihan ekonomi masyarakat. Berbagai upaya pendampingan dan penguatan sektor produktif dilakukan untuk membantu warga memperoleh kembali sumber penghasilan yang hilang akibat banjir. Di wilayah seperti Sekumur yang bergantung pada sektor perkebunan dan perikanan, pemulihan ekonomi menjadi bagian tak terpisahkan dari pemulihan kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Peran kemanusiaan yang dimainkan Kagama sesungguhnya berakar pada tradisi panjang pengabdian yang menjadi bagian dari identitas UGM. Sebagai universitas yang lahir bersama republik, UGM sejak awal mengusung gagasan bahwa ilmu pengetahuan harus hadir untuk menjawab persoalan masyarakat. Melalui Kagama, semangat itu terus hidup setelah para mahasiswa menjadi alumni. Pengabdian tidak berakhir ketika seseorang meninggalkan kampus, melainkan menemukan bentuk baru melalui kontribusi sosial di berbagai bidang kehidupan.
Dalam konteks yang lebih luas, apa yang dilakukan Kagama di Aceh Tamiang memperlihatkan wajah lain dari Indonesia. Ketika warga di pedalaman Aceh mendapatkan dukungan dari jejaring alumni yang berasal dari berbagai daerah, profesi, dan latar belakang, yang bekerja bukan sekadar mekanisme bantuan sosial. Yang hadir adalah semangat gotong royong sebagai fondasi kebangsaan. Solidaritas melampaui batas geografis dan identitas, mempertemukan orang-orang dalam kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, 26 unit huntara di Sekumur tidak hanya merepresentasikan 26 bangunan yang berdiri di tengah wilayah terdampak bencana. Di dalamnya terdapat cerita tentang kepedulian, pengabdian, dan persaudaraan. Ada kerja sunyi para alumni yang bergotong royong menggalang dukungan. Ada semangat untuk memastikan bahwa warga yang berada jauh dari pusat perhatian tetap mendapatkan uluran tangan. Dan ada keyakinan bahwa kebangkitan masyarakat pascabencana hanya dapat terwujud ketika solidaritas sosial ikut bekerja.
Melalui kepemimpinan kolektif PP Kagama—mulai dari Nezar Patria sebagai Sekretaris Jenderal, Sulastama Raharja yang membidangi pengabdian masyarakat dan pelestarian lingkungan, Sandhya Yuddha yang memperkuat hubungan almamater, hingga Ajar Edi yang menjalin kolaborasi antarlembaga—organisasi alumni ini menunjukkan bahwa solidaritas dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
Di Kampung Sekumur, rumah-rumah sederhana itu kini telah dihuni oleh para penyintas. Anak-anak kembali memiliki ruang untuk belajar. Orang tua mulai memikirkan cara membangun kembali kebun dan mata pencaharian mereka. Kehidupan perlahan bergerak ke depan. Di balik semua itu, Kagama menunjukkan bahwa organisasi alumni bukan sekadar himpunan orang-orang yang pernah belajar di kampus yang sama. Ia dapat menjadi jembatan kemanusiaan yang menghubungkan kepedulian dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Dari sebuah kampung di pedalaman Aceh Tamiang, Kagama mengingatkan bahwa Indonesia pada akhirnya tidak hanya dirawat oleh lembaga-lembaga formal, tetapi juga oleh gotong royong warganya. Dan ketika solidaritas itu diwujudkan dalam tindakan nyata, kemanusiaan selalu menemukan jalannya.