
Kagama Aceh Salurkan Bantuan ke Empat Desa Terdampak Banjir di Aceh Utara dan Bireuen
Banda Aceh, 15 April 2025 — Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Aceh kembali menegaskan komitmennya dalam kerja-kerja kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen. Pada penyaluran terbaru ini, Kagama Aceh mendistribusikan bantuan ke empat desa yang terdampak cukup parah, yakni Desa Lueng Daneun di Kabupaten Bireuen, serta Desa Mane Tunong (Kecamatan Muara Batu), Desa Kuta Lhoksukon, dan Desa Krueng Lingka (Kecamatan Langkahan) di Kabupaten Aceh Utara.

Banjir yang melanda wilayah utara Aceh tersebut merupakan dampak dari curah hujan tinggi yang terjadi beruntun dalam beberapa pekan terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh mencatat, hujan berintensitas sedang hingga lebat menyebabkan luapan sungai di sejumlah daerah aliran sungai (DAS), merendam permukiman, fasilitas umum, serta lahan pertanian warga, khususnya di Aceh Utara dan Bireuen.
Bantuan Kebutuhan Dasar hingga Perlengkapan Bayi
Bantuan yang disalurkan Kagama Aceh meliputi pakaian baru, perlengkapan mandi, serta kebutuhan bayi seperti popok sekali pakai. Bantuan tersebut berasal dari berbagai sumber, antara lain sumbangan dari istri Wakil Gubernur Aceh, anggota Kagama Aceh, serta masyarakat non-alumni yang turut berpartisipasi dalam penggalangan donasi.
Selain kebutuhan bayi dan perempuan, warga juga menerima pakaian layak pakai untuk anak-anak hingga dewasa, serta perlengkapan ibadah, yang sangat dibutuhkan mengingat banyak barang milik warga rusak atau hanyut dibawa banjir.

Menurut pengurus Kagama Aceh, bantuan darurat ini ditujukan untuk menjawab kebutuhan paling mendesak masyarakat di fase awal pascabencana. “Kami berupaya memastikan bantuan sampai langsung ke desa-desa yang terdampak, terutama kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan perempuan,” ujar salah satu perwakilan Kagama Aceh.
Dorong Pemulihan Ekonomi Warga
Tidak hanya menyalurkan bantuan kebutuhan dasar, Kagama Aceh juga memberikan dukungan pemulihan ekonomi bagi warga terdampak. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menerima bantuan berupa uang tunai dan satu unit lemari pendingin satu pintu, yang dapat dimanfaatkan untuk kembali menjalankan usaha mereka.

Langkah ini sejalan dengan rekomendasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menekankan pentingnya pemulihan mata pencaharian warga sebagai bagian dari pemulihan pascabencana, agar masyarakat tidak terjebak dalam siklus kerentanan berkepanjangan akibat kehilangan sumber penghasilan.
“Kami menyadari nilai bantuan ini belum besar, tetapi kami berharap bisa menjadi pemantik agar warga perlahan bangkit dan memulai kembali aktivitas ekonominya,” ujar pengurus Kagama Aceh.
Donasi untuk Fasilitas Sanitasi Pesantren
Khusus di Desa Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, bantuan yang disalurkan Kagama Aceh memiliki dampak jangka menengah. Melalui penggalangan dana yang dikoordinasikan oleh pengurus Kagama Aceh bidang Fasilitasi dan Pemberdayaan Alumni, Cut Mita, bersama Mirwatul dari bidang Keagamaan, berhasil dihimpun donasi sebesar Rp 9.950.000.

Sebagian dana tersebut telah dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas bak wudu bagi santri di Pesantren Madinatul Huda, sementara sisanya direncanakan untuk pembuatan atap bak wudu. Fasilitas ini diharapkan dapat menunjang kebutuhan sanitasi dan ibadah sekitar 180 santri, yang selama ini harus berbagi fasilitas terbatas, terutama setelah banjir merusak sebagian sarana pesantren.
Kondisi sanitasi dan akses air bersih menjadi salah satu persoalan krusial pascabencana banjir. BPBD Aceh dan Dinas Kesehatan setempat kerap mengingatkan bahwa keterbatasan fasilitas air bersih meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan, terutama di lingkungan padat seperti pesantren dan tempat pengungsian.
Komitmen Berkelanjutan
Aksi kemanusiaan ini merupakan bagian dari rangkaian program “Kagama Aceh Peduli”, yang sebelumnya juga menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan wilayah lainnya di Aceh. Kagama Aceh menegaskan komitmennya untuk terus hadir tidak hanya dalam situasi darurat, tetapi juga dalam fase pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat.
Di tengah potensi cuaca ekstrem yang masih diperingatkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah Aceh, kerja sama lintas komunitas, pemerintah, dan masyarakat sipil dinilai menjadi kunci agar penanganan bencana tidak bersifat reaktif semata, melainkan berkelanjutan dan berkeadilan bagi warga terdampak