Lebaran di Huntara: Ikhtiar Kagama Aceh Membangun Harapan Penyintas Sekumur

Lebaran di Huntara: Ikhtiar Kagama Aceh Membangun Harapan Penyintas Sekumur

ACEH TAMIANG, KAGAMA.id — Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dilalui dengan penuh keterbatasan oleh ratusan penyintas banjir bandang di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Namun, di tengah situasi darurat, upaya gotong royong berbagai pihak—termasuk Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama)—mulai menghadirkan secercah harapan bagi warga yang kehilangan rumah sejak bencana hidrometeorologi November 2025.


Pada Sabtu (28/3/2026), Pengurus Kagama Aceh berlebaran di hunian sementara (huntara) di Sekumur bersama dengan perangkat desa dengan bertamu ke huntara yang sdh dihuni. Sejak awal hingga akhir Maret, empat unit huntara telah selesai dibangun dan ditempati, dua unit masih dalam tahap pengerjaan, serta 20 unit tambahan direncanakan segera dibangun secara bertahap. Data ini disampaikan oleh Kagama Aceh berdasarkan perkembangan lapangan terbaru.

Dari Tenda Darurat ke Huntara
Desa Sekumur merupakan salah satu wilayah yang mengalami kerusakan terparah akibat banjir bandang dan longsor pada 26 November 2025. Seluruh permukiman warga dilaporkan rata dengan tanah, menyisakan masjid, kantor desa, dan satu rumah yang masih berdiri. Selama berbulan-bulan, lebih dari 270 kepala keluarga terpaksa bertahan di tenda-tenda pengungsian dengan fasilitas terbatas, bahkan harus menjalani ibadah puasa dan menyambut Lebaran tanpa hunian layak.

Kondisi tersebut mendorong percepatan pembangunan hunian sementara oleh berbagai pemangku kepentingan. Secara nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebutuhan huntara di Aceh mencapai 16.294 unit, dengan Aceh Tamiang menjadi daerah dengan kebutuhan terbesar. Hingga Maret 2026, sekitar 1.000 unit huntara di Aceh Tamiang telah rampung, sementara ribuan lainnya masih dalam proses pembangunan.

Ikhtiar Kagama dan UGM
Di tengah besarnya skala kebutuhan, kontribusi komunitas dan organisasi masyarakat sipil menjadi elemen penting. Kagama Aceh, bekerja sama dengan Pengurus Pusat Kagama dan Universitas Gadjah Mada (UGM), menempatkan Aceh Tamiang sebagai prioritas pembangunan huntara berbasis swadaya masyarakat. Program ini dilaksanakan dengan pendekatan pemanfaatan material lokal, agar pembangunan dapat dilakukan cepat serta berkelanjutan.

Huntara yang dibangun dirancang tidak hanya sebagai tempat berteduh, tetapi sebagai ruang hidup sementara yang lebih layak, dilengkapi fasilitas dasar dan memungkinkan warga kembali menjalani aktivitas sosial, ibadah, serta pendidikan keluarga.
“Bagi kami, huntara bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah jembatan menuju pemulihan martabat dan kehidupan warga,” ujar salah satu relawan Kagama Aceh di Sekumur.

Lebaran dalam Kesederhanaan
Perayaan Idul Fitri di huntara Sekumur berlangsung sederhana. Tanpa kemeriahan seperti tahun-tahun sebelum bencana, warga berkumpul untuk saling bersilaturahmi, berdoa, dan berbagi makanan ala kadarnya. Bagi sebagian penyintas, momen ini menjadi Lebaran pertama yang tidak lagi dijalani sepenuhnya di bawah tenda darurat.


Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi. Banyak keluarga belum tersentuh bantuan hunian dan menanti kepastian pembangunan lanjutan maupun relokasi ke hunian tetap. Di sejumlah wilayah Aceh lainnya, bahkan empat bulan pascabencana, sebagian penyintas masih belum menerima huntara.

Kolaborasi Masih Dibutuhkan
Pemerintah melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana menyatakan komitmennya untuk terus mempercepat pembangunan huntara dan mengurangi jumlah pengungsi di tenda darurat. Hingga Februari 2026, pemerintah mencatat lebih dari 4.400 unit huntara telah selesai dibangun di seluruh Aceh, meski pekerjaan belum mendekati garis akhir.


Dalam konteks inilah, inisiatif komunitas seperti Kagama Aceh dipandang sebagai penguat upaya negara. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil dinilai krusial untuk memastikan pemulihan tidak hanya cepat, tetapi juga berkeadilan dan berbasis kebutuhan warga.

Menjaga Bara Harapan
Bagi warga Sekumur, empat unit huntara yang berdiri kokoh hari ini mungkin masih jauh dari cukup. Namun, ia menjadi simbol bahwa harapan dapat dibangun, satu demi satu, bahkan di tengah keterbatasan.
“Lebaran kali ini sederhana, tapi kami punya tempat bernaung yang lebih layak. Itu sudah berarti besar,” tutur seorang warga Sekumur.
Di tanah yang pernah luluh lantak oleh bencana, ikhtiar kolektif untuk bangkit terus berjalan—pelan, namun pasti.