Strategi Desa Wisata Menyambut Pranatan Anyar Plesiran Jogja

Sabtu (06/03/2021) pukul 09.00 – 12.00 WIB, Pengurus Pusat Kagama bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mengadakan webinar melalui aplikasi Zoom Meetings dan disiarkan langsung di kanal Youtube Kagama Channel dengan menghadirkan tema “Strategi Desa Wisata Menyambut Pranatan Anyar Plesiran Jogja”. Webinar menghadirkan tiga narasumber yakni, Dr. Suci Iriani Sinuraya, M.Si., MM. (Plt. Kadispar Kab. Sleman), Eka Priastana Putra (Dewita Sejarah Kelor) dan Esthy Handayani (Dewita Grogol). Kata sambutan diberikan oleh Anwar Sanusi, Ph.D (Wakil Ketua Umum II PP Kagama) dan Dra. Hj. Kustini Sri Purnomo (Bupati Kab. Sleman). Wiwit Wijayanti, dari tim Humas PP Kagama bertindak sebagai moderator.

Dr. Suci Iriani Sinuraya

Narasumber pertama, Dr. Suci Iriani Sinuraya, M.Si., MM menyampaikan materi  dengan judul “Pandemi Covid-19 sebagai Momentum Desa Wisata Menggali USP”. Sektor pariwisata merupakan sektor penting dalam pembangunan daerah Kabupaten Sleman. Pandemi Covid-19 yang membuat kehidupan masyarakat harus menjalankan physical distancing berdampak besar pada sektor pariwisata. Sektor pariwisata menyumbang pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat meliputi sajian kuliner, akomodasi, transportasi, industri fashion dan kerajinan. Pada periode September 2020, penurunan sektor pariwisata telah mencapai angka 13,23 % dari sumbangan pariwisata terhadap PAD Kabupaten Sleman.

Suci menuturkan jumlah kunjungan wisatawan ke kabupaten Sleman sepanjang Januari s/d Desember 2020 adalah sebesar 4.250.119 kunjungan yang didominasi 99,43 wisatawan domestik. Sebelumnya, pada tahun 2019, kunjungan wisata ke Kabupaten Sleman mencapai angka 10.378.118 kunjungan. Sehingga telah terjadi penurunan sebesar 59,05 %. Akibat penurunan kunjungan wisatawan sejumlah usaha pariwisata terpaksa tutup dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagian besar karyawan pada sektor pariwisata. Namun, geliat pandemi mulai menemukan secercah harapan saat vaksin Covid-19 yang tentunya dapat kembali menumbuhkan sektor pariwisata.

“Be tourist, not just traveler.” ujar Suci.

Suci menambahkan desa wisata menjadi salah satu yang mampu bertahan dalam situasi pandemi. Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat menjadi ujung tombak yang dikemas dengan menarik dan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia. 53 desa wisata yang berada di wilayah Kabupaten Sleman menjadi tumpuan akselerasi dalam meningkatkan pendapatan dalam sektor pariwisata. Desa wisata di desain dengan memperhatikan berbagai indikator yang terdapat didalamnya sehingga dapat ditangkap sebagai sebuah peluang.

USP/ Unique Selling Proposition menjadi rencana strategi yang diterapkan oleh Kabupaten Sleman untuk meningkatkan sektor pariwisata dengan memperhatikan tiga komponen diantaranya meningkatkan kualitas sektor pariwisata, melakukan branding ulang dan menggali serta memunculkan keunikan dari desa wisata tersebut. Tentunya perlu kerjasama lintas sektor pemerintah daerah dan masyarakat untuk mewujudkannya.” ujar Suci mengakhiri paparannya.

Eka Priastana Putra

Narasumber kedua, Eka Priastana Putra (pengelola Dewita Kelor) mengemukakan materi tentang Desa Wisata Kelor yang terus bergerak dengan modal sosial. Eka mengawali paparannya dengan bercerita pengalamannya pada tahun 2006 merintis Desa Wisata Kelor, Turi, Sleman. Dengan prinsip pemberdayaan masyarakat dan peran partisipatif serta melibatkan transparansi dalam pengelolaannya.

Desa Wisata Kelor tidak luput terkena imbas pandemi Covid-19. Semua terdampak seperti sarana dan prasana wahana yang ada sebelum pandemi datang, seperti joglo bersejarah, trekking sungai, kebun salak, kolam ikan, jurit malam, bumi perkemahan, berbagai pelatihan (kerajinan janur, batik, budidaya salak, telur asin, pembuatan tempe, dan kreasi olahan salak) serta outbound. Saat pandemi berlangsung, kepatuhan melaksanakan protokol kesehatan dilaksanakan berbarengan dengan penambahan destinasi wisata seperti, standplat sepeda, kegiatan bersama / sinau bareng, kegiatan rapat dan temu kangen serta wisata sejarah yang dipadukan trekking darat.

“Berjarak agar tetap tegak.” ujar Eka.

Kuliner yang disajikan ketika dibukanya standplat sepeda di hari Minggu adalah sajian kuliner dengan khas menggunakan kelor sebagai bagian penting dari setiap menu. Pecel kelor pincuk, bobor kelor, soto dan aneka olahan daun kelor lainnya. Desa wisata juga menyediakan berbagai jajanan pasar juga dihidangkan bersamaan dengan wedang secang atau jahe sereh dan teh daun kelor.

“Inovasi warga Desa Wisata Kelor juga ditampilkan melalui olahan kelor berupa mie, stick, kerupuk dan baso goreng. Olahan salak dan singkong seperti keripik telo, geplak salak dan jenang salak juga dihidangkan sebagai menu kreasi menarik untuk wisatawan. Bahkan dalam waktu dekat, Dewita Kelor juga membuka wahana family trip dengan jumlah 30 orang yang direncanakan ada pada 21 Maret 2021 mendatang.” kata Eka mengakhiri paparannya.

Esthy Handayani

Narasumber ketiga, Esthy Handayani (pengelola Desa Wisata Grogol) menceritakan potensi ALUI (Asli, Lokal, Unik dan Indah) sebagai daya tarik Dewita Grogol, Seyegan, Sleman. Dengan Tagline Keserasian Alam Yogyakarta sebagai tema besar yang dimulai sejak tahun 2001, Desa wisata Grogol menampilkan produk-produk kebudayaan tradisional khas Yogyakarta dengan menitikberatkan pada pelestarian kegiatan berbasis budaya Jawa.

Esthy menjelaskan sebelum pandemi melanda, paket wisata yang dihadirkan berbasis aktivitas alam dan budaya secara berkelompok. Di saat pandemi Covid-19, Desa Wisata Grogol mulai berbenah. Regulasi berkumpul dan ketakutan masyarakat untuk berwisata disiasati dengan penerapan protokol kesehatan serta menyediakan paket wisata baru. Desa Wisata Grogol adalah desa wisata yang memiliki sertifikat CHSE dari Kementrian Pariwisata RI sebagai arena outbound dan area camping.

Paket wisata baru yang dihadirkan, di antaranya paket belajar tata sungging wayang, proses pembuatan dan bermain dengan gamelan, belajar membuat wayang suket/janur, pertunjukan seni tradisi seperti jathilan, ketoprak, serta ritual budaya petilasan peninggalan Sunan Kalijaga yakni Adat Midhang dan Udhik-udhik.

“Belajar terkait busana pakaian tradisional, pembuatan jamu tradisional, pembuatan gula semut, jemparingan atau kegiatan memanah, paket bertani tradisional, paket kuliner tumpengan dan wiwitan dan paket wisata gerobak sapi serta bersepeda ria bersama juga kami hadirkan dalam desa wisata Grogol.” ujar Esthy menutup presentasinya. [arma]

*) Materi webinar selengkapnya bisa disaksikan di Youtube Kagama Channel:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*