Atris Suyantohadi Peneliti Kedelai yang Bersungguh-sungguh Memberdayakan Petani Kedelai Lokal

Dr. Atris Suyantohadi, STP, MT dilahirkan di Grobogan, 6 September 1968. Pendidikan SD dan SMP ia tempuh di kampung kelahirannya. Selepas lulus SMP tahun 1985 Atris meninggalkan desa kelahirannya untuk melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Surakarta. Tamat SMA tahun 1988 ia mendaftar masuk PTN dan diterima di Sastra Inggris UNS Surakarta. Namun Atris sadar bahwa ia kuliah bukan di bidang ilmu yang menjadi passionnya. Akhirnya pada tahun 1989 ia ikut ujian masuk PTN lagi dan ia sangat bersyukur berhasil diterima di fakultas yang diidamkannya yaitu Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Sekedar informasi, dunia pertanian telah menjadi kesehariannya semenjak kecil, karena ia dilahirkan di daerah sentra penghasil kedelai dan jagung.

Atris saat wisuda S1 tahun 1995

Sewaktu kuliah Atris lebih fokus ke studinya yaitu banyak belajar & berkutat dengan praktikum di lab. Sesekali ia ikut berkegiatan di HIMATIPA (Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Pertanian) dan sambil bekerja paruh waktu sebagai instruktur di Lembaga Manajemen Komputer, Yogyakarta. Dengan tidak banyak mengalami hambatan selama kuliah, akhirnya pada bulan Februari 1995 Atris berhasil meraih gelar S1-nya.

Tidak butuh waktu lama buat Atris mendapatkan pekerjaannya. Karena terbiasa menjadi asisten dosen yang  tugasnya membantu pekerjaan di laboratorium, begitu selesai wisuda ia diterima sebagai dosen di Sekolah Tinggi Manajemen Informasika dan Komputer Dian Nuswantoro, Semarang. Pada tahun 1996 saat ada informasi lowongan staf pengajar di lingkungan FTP, Atris diminta dosen seniornya mendaftar dan diterima menjadi dosen dengan status CPNS. Tidak lama kemudian, pada tahun 1997 SK pengangkatannya menjadi PNS turun. Sejak saat itulah karirnya menjadi dosen tetap di FTP dimulai.

Atris sedang bekerja di Lab Analisa Sistem dan Simulasi Departemen TIP FTP

Untuk mendukung karirnya pada tahun 1999 Atris memutuskan melanjutkan studinya. Karena basicnya bekerja dengan komputer di lab Analisa Sistem dan Simulasi Departemen TIP FTP, ia memilih kuliah di Jurusan Elektro Fakultas Teknik UGM dengan fokus mempelajari Sistem Komputer dan Informasi yang diaplikasikan dibidang teknologi pertanian. Pada tahun 2002 ia berhasil merengkuh gelar S2-nya.

Enam tahun kemudian Atris kembali melanjutkan jenjang studinya. Kali ini ia mengambil gelar S3 di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Hanya butuh dua setengah tahun  baginya untuk  mendapatkan gelar S3-nya. Tahun 2010 ia resmi menyandang gelar doktor dengan predikat cumlaude.

Atris di ruang kerjanya di Fakultas Teknologi Pertanian UGM

Atris tidak menyangka disertasinya yang menerapkan artificial life dengan kecerdasan sistem untuk optimasi budidaya kedelai, akan mengubah takdir hidupnya menjadi seorang peneliti kedelai dan setiap hari akan berkutat dengan masalah kedelai beserta varian produk olahannya. Saat menjadikan kedelai lokal sebagai obyek disertasinya,  Atris lama-lama paham dilematis dilema perkedelaian di Indonesia. Minat petani untuk menanam kedelai lokal kurang begitu tinggi, daerah–daerah sentra kedelai makin menyusut, akibatnya produksi menurun drastis dari tahun ke tahun. Seperti ia saksikan sendiri di tanah kelahirannya Grobogan, bagaimana lahan untuk bertanam kedelai semakin menyusut secara tajam. Sehingga di tahun 2014, Atris bersama dengan Bupati Grobogan dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab, Grobogan, sampai menggagas pendirian Rumah Kedelai Grobogan (RKG) untuk memunculkan kedelai lokal sebagai produk unggulan daerah kabupaten.

Atris sedang memaparkan gagasan pendirian Rumah Kedelai Grobogan pada tahun 2014

Atris masih ingat betul di tahun 1982-1984 saat negara kita berhasil dengan swasembada pangannya, termasuk padi dan kedelai. Tidak ada impor menyebabkab harga kedelai tinggi. Saat itu animo petani  menanam kedelai sangat tinggi, karena nilai tukar 1 kg kedelai setara dengan 2 kg beras. Kebutuhan kedelai secara nasional telah tercukupi tanpa perlu impor. Jauh berbeda  dengan yang terjadi saat ini, di mana kebutuhan kedelai nasional menurut data terbartu tercatat 3,8 juta ton / tahun sedangkan produksi kedelai lokal hanya berkisar 800 – 900 ribu ton / tahun. Artinya, hampir 80% kebutuhan kedelai kita baik untuk diproduksi & konsumsi ada ketergantungan kepada kedelai impor, dan mayoritas termasuk jenis GMO (Genetically Modified Organism) atau hasil rekayasa genetika. 

Melihat fenomena tersebut timbul kerisauan dalam hati Atris. Kepeduliannya tumbuh, rasanya harus ada gerakan atau sosialisasi dalam skala masif untuk lebih memperkenalkan kedelai lokal kepada petani dan masyarakat. Sayang sekali, kita punya banyak kedelai varietas unggulan lokal yang sebenarnya tidak kalah kualitasnya dengan kedelai impor, sebut saja varietas Anjasmoro, Grobogan, Agromulyo, Wilis, Burangrang, Biosoy dll. Namun yang terjadi para petani dan masyarakat masih memandang rendah, dalam benak mereka tertanam keyakinan bahwa kedelai lokal itu kecil-kecil, banyak kotoran dan tidak bagus dibuat tempe.

Kedelai impor GMO dan keledai lokal non-GMO

Atris percaya keyakinan itu bisa diubah, meski ia sadar akan butuh waktu lama dan tidak bisa dikerjakan sendirian. Akhir tahun 2014 dimulailah misi untuk meningkatkan value added kedelai lokal melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang didukung dari fakultas dan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM) UGM. Pelan-pelan ia menjalin hubungan baik dengan para petani kedelai di daerah sentra kedelai seputaran Jawa Tengah – DIY seperti Grobogan, Pati, Sukoharjo, Sleman dan Kulonprogo. Ia juga melakukan pembinaan intensif kepada UMKM di wilayah tersebut dengan melakukan pendekatan lewat Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam meningkatkan value kedelai menjadi produk–produk olahannya.

Berbagai upaya dilakukan Atris dalam mewujudkan misinya tersebut. Di antaranya adalah memperkenalkan kepada UMKM produk olahan berbahan kedelai lokal yang lebih healthy, serta mengajarkan mengolahnya menjadi berbagai varian produk seperti tempe, tahu, susu kedelai, soyghurt, dll. Untuk petani binaan Atris berupaya membantu dari hulu ke hilir,  dari pengadaan bibit yang asalnya dari pemerintah sampai mengusahakan hasil panen petani dibeli dengan harga yang pantas. Kemudian Atris juga berusaha menjembatani para petani dengan dunia industri. Yang telah terjalin komunikasi salah satunya dengan perusahaan snack sehat Soyjoy dan Nestle dengan produknya bubur bayi berbahan kedelai non-GMO.     

Atris bersama Rustono tahun 2014

Tahun 2014 terjadi sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka oleh Atris. Pada sebuah acara kampus Fakultas Teknologi Pertanian, UGM, ia bertemu narasumber pengisi acara yang bernama Rustono seorang pemuda asal Grobogan yang sukses besar menjadi pengusaha tempe di Jepang. Kebetulan Rustono adalah kakak kelas Atris saat di bangku SMP dulu. Pertemuan itu berlanjut saat ada tugas ke Jepang, Atris mengunjungi rumah Rustono di daerah Shiga, Kyoto.

Di Jepang Rustono menceritakan seluk beluk bisnisnya dari hulu ke hilir. Yang membuat Atris kagum adalah bagaimana pola kemitraan yang dijalin Rustono dengan petani kedelai di Jepang. Meski lahan di Jepang tidak seluas di Indonesia, namun produksi tempe Rustono tidak menggunakan kedelai impor. Berkat menjalin kemitraan yang bagus, kebutuhan kedelai sudah bisa tercukupi oleh petani lokal.  Atris berpikir hal itu sangat menginspirasi. Sistem demikian ini akan banyak membantu petani lokal untuk diterapkan di Indonesia.

Di lahan pertanian kedelai bersama kelompok tani binaan

Terinspirasi dari Rustono, pada tahun 2015 Atris mendukung istrinya mendirikan perusahaan pengolah kedelai lokal non-GMO dengan merk dagang “Attempe”. Produknya berupa tempe segar dalam berbagai kemasan, kripik tempe dan tempe instan. Di perusahaan tersebut Atris menerapkan pola kemitraan dengan petani kedelai yang sama-sama saling menguntungkan. Saat ini pabriknya mampu memproduksi kedelai dengan berbagai produk  tempe dan turunannya untuk dikomersialisasikan ke masyarakat berbahan baku 100% kedelai lokal.

Segala daya upaya yang telah dimulai Atris sejak 10 tahun yang lalu, di mana 5 tahun terakhir sangat intensif, menurut Atris perlahan mulai terasa pengaruhnya. Wacana yang berkembang di pedesaan khususnya bagi para petani dan masyarakat mulai menyadari kedelai lokal tidak serendah yang dibayangkan, bahkan sebaliknya lebih berkualitas dan menyehatkan. Ditambah dengan pola kemitraan yang dibangun secara jelas dan ada jaminan hasil  panen langsung terserap pasar, dampaknya membuat petani semakin banyak yang tertarik menanamnya. Untuk UMKM binaan sudah tumbuh kembali kebiasaan mengolah produk berupa tahu dan tempe berbahan baku kedelai lokal.

Atris sedang memberikan pelatihan kepada salah satu UMKM binaannya

Selain melakukan pembinaan intensif kepada petani dan UMKM, Atris juga masih terus melakukan penelitian dan inovasi terhadap kedelai lokal berdasar ilmu yang dikuasainya. Ia secara kontinyu terus mengembangkan kedelai dengan kecerdasan sistem untuk optimasi pertumbuhan. Selain itu ia juga mengembangkan inovasi produk-produk olahan kedelai seperti tempe instan dan tempe spirulina yang memiliki kandungan tinggi aktifitas antioksidan untuk pencegahan dan pengobatan kanker. Semua itu didukung oleh pengetahuan yang sangat mumpuni tentang aspek higienitas proses produksi serta mengutamakan penggunaan bahan baku lokal.  “Saat ini, kami mengembangkan tempe siap saji (ready to eat) dalam bentuk kaleng untuk memenuhi masyarakat Indonesia di luar negeri yang menginginkan tempe di sana.” kata Atris.

Atris merasa cukup puas atas pencapaiannya selama ini, namun ke depannya ia masih menyimpan harapan dan impian yang banyak. Satu yang terpenting, pemerintah harus mendukung sepenuhnya dalam menjembatani pemberdayaan petani kedelai dari hulu ke hilir jangan sampai terputus. Petani jangan sampai kesulitan dalam mendapatkan benih dan sarana produksi, lalu saat panen raya harga jangan sampai terlalu anjlok dan kalau bisa hampir semuanya terserap pasar.

Saat menjadi narasumber pada sebuah workshop yang diselenggarakan oleh BAPPEDA Jawa Tengah tahun 2018

Mengenai daerah binaannya yang hanya seputar wilayah DIY – Jateng saja, Atris mengatakan “Ini berkaitan dengan tenaga dan waktu yang kita miliki. Inginnya kita bisa mencakup wilayah yang lebih luas lagi, namun semua itu terkendala oleh terbatasnya sumber daya yang ada.”

“Yang terpenting adalah paling tidak kita sudah melakukan upaya mengangkat derajat kedelai lokal dan itu sudah terasa pengaruhnya. Petani-petani mulai semakin mengenal kedelai varietas lokal dan semakin tinggi animo menanamnya. Jika bukan kita yang memulai, lalu siapa lagi iya kan?” demikian ungkap Atris.

Baca juga: Lewat Attempe, Nurhayati Nirmalasari Mencoba Mengangkat Kedelai Lokal

Event Akan Datang

Urban Farming

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*