
Wudi Chicken dan Kagama Pegiat Inklusi Gelar Pelatihan Budidaya Ayam Kampung Unggulan bagi Wanita Tani Peternak di IKN
IKN NUSANTARA – Langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan di Ibu Kota Nusantara (IKN) terus digulirkan. Kali ini, fokus diarahkan pada pemberdayaan ekonomi perempuan melalui sektor peternakan. Pada Jumat, 13 Februari 2026, Direktorat Ketahanan Pangan Otoritas Ibu Kota Nusantara (OIKN) menggelar pelatihan intensif bertajuk “Budidaya Ayam Kampung Unggulan” yang bertempat di Pusat Pembibitan IB KIPP Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi apik antara pemerintah dengan sektor privat dan akademisi, menghadirkan Wudi Chicken Balikpapan dan Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada) Pegiat Inklusi. Pelatihan ini menyasar 10 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berasal dari desa-desa penyangga di sekitar wilayah IKN, di antaranya Desa Telemov, Sukaraja, Argomulyo, Bumi Harapan, Pemaluan, dan Karang Jinawi.

Direktorat Ketahanan Pangan OIKN menegaskan bahwa keterlibatan kaum wanita dalam ekosistem pangan IKN adalah kunci pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dengan menghadirkan Fauzul Idhi, seorang Ahli Peternakan Ayam Kampung Unggul dari Wudi Chicken sekaligus perwakilan Kagama Pegiat Inklusi, para peserta dibekali kemampuan teknis yang mumpuni untuk mengelola peternakan secara profesional.
“Kami ingin memastikan bahwa warga lokal, khususnya ibu-ibu di sekitar IKN, tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam menyuplai kebutuhan protein hewani di ibu kota baru ini,” ujar perwakilan OIKN dalam pembukaan acara.

Dalam paparan materinya, Fauzul Idhi menekankan pentingnya pemahaman mengenai siklus hidup ayam kampung, terutama pada usia 32 hari yang dikenal dengan istilah fase “lepas listrik”. Pada tahap ini, ayam dianggap telah melewati masa kritis awal pertumbuhan dan siap dipindahkan ke kandang yang lebih luas.
Salah satu sorotan utama dalam pelatihan ini adalah manajemen kualitas udara dan lingkungan kandang. Banyak peternak pemula yang mengabaikan akumulasi Amoniak (NH_3), gas berbahaya yang muncul dari kotoran dan sisa pakan yang membusuk.
“Amoniak adalah musuh dalam selimut. Jika konsentrasinya melebihi 20 ppm, ayam akan mengalami kerusakan pernapasan dan mata,” tegas Fauzul.
Untuk memitigasi hal ini, peternak disarankan meningkatkan ventilasi, menggunakan bahan pengabsorbsi seperti zeolit atau karbon aktif, serta menjaga kebersihan kandang secara rutin.

Selain amoniak, kelembapan udara menjadi parameter yang wajib dipantau. Untuk ayam muda (0-4 minggu), kelembapan ideal berada di kisaran 60-70%. Kelembapan yang terlalu tinggi (di atas 80%) dapat memicu pertumbuhan jamur, virus, dan bakteri yang menyebabkan penyakit pernapasan.
Inovasi Herbal untuk Kesehatan Ternak
Sebagai bagian dari komitmen terhadap peternakan sehat dan berkelanjutan, pelatihan ini juga mempromosikan penggunaan bahan-bahan herbal alami untuk meningkatkan imunitas ternak. Penggunaan herbal dianggap lebih aman dan mampu menekan biaya operasional obat-obatan kimia.
Namun, Fauzul mengingatkan agar pemberian dilakukan dengan dosis yang tepat karena penggunaan berlebihan tetap dapat menimbulkan efek samping bagi ternak. Herbal ini dapat diberikan dengan cara dicampur ke pakan, dijadikan minuman (teh herbal), atau dioleskan pada kulit untuk mengobati luka luar.
Menutup sesi materi, pelatihan ini juga mengidentifikasi berbagai faktor eksternal yang dapat menghambat perkembangan ayam, seperti serangan predator (tikus, ular), stres akibat suhu yang tidak stabil, serta ancaman virus seperti Newcastle Disease dan Gumboro. Kebersihan sanitasi dan kualitas air minum tetap menjadi pilar utama dalam menjaga kesehatan ekosistem peternakan.

Melalui pelatihan ini, diharapkan 10 KWT dari wilayah sekitar IKN dapat menerapkan standar budidaya ayam kampung yang profesional. Dengan penguasaan teknis mulai dari fase “lepas listrik” hingga manajemen limbah amoniak, para wanita peternak ini diharapkan mampu menjadi pilar pendukung kedaulatan pangan di IKN Nusantara.
Pada tahap sepanjutnya masih akan terus dilakukan pelatihan dan pendampingan dengan materi yang berbeda, seperti penanganan DOC (day old chicken), ayam pulet, pemanfaat kotoran ternak untuk media tanam dan materi tentang penyediaan pakan ternak organik yang sehat
Wudi Chicken dan Kagama Pegiat Inklusi berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan pasca-pelatihan guna memastikan keberlanjutan program dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal di Kalimantan Timur.