Merawat Harapan di Bulan Ramadan: Kagama NTB dan Anak‑Anak Asuh di Lombok Barat

Merawat Harapan di Bulan Ramadan: Kagama NTB dan Anak‑Anak Asuh di Lombok Barat

Di sebuah sudut Lombok Barat, sore Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda. Bukan hanya karena menjelang waktu berbuka, tetapi karena anak‑anak yang biasanya menjalani hari dengan kesederhanaan tampak lebih ceria. Mereka duduk berderet, sebagian menggenggam bingkisan, sebagian lain tersenyum malu-malu. Hari itu, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Nusa Tenggara Barat hadir membawa santunan—dan lebih dari itu, perhatian.

Kagama NTB menyerahkan santunan kepada anak‑anak asuh dalam sebuah kegiatan Ramadan yang digelar di Lombok Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen alumni Universitas Gadjah Mada untuk terus hadir di tengah masyarakat, terutama kelompok rentan yang membutuhkan dukungan berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sesaat.

Santunan diberikan kepada anak‑anak asuh yang selama ini berada dalam pendampingan Kagama NTB. Bagi organisasi alumni ini, pendampingan bukan sekadar relasi pemberi dan penerima, melainkan ikatan jangka panjang yang dibangun atas dasar tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.

Ramadan, menurut pengurus Kagama NTB, menjadi momentum penting untuk memperkuat empati. Bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang mengasah kepekaan terhadap kehidupan orang lain. Dalam suasana itulah, santunan diserahkan—tanpa seremoni berlebihan, dalam suasana kekeluargaan.

Bagi anak‑anak penerima, perhatian semacam ini menghadirkan rasa aman. Di tengah berbagai keterbatasan, mereka tahu bahwa ada orang‑orang dewasa yang memikirkan masa depan mereka. Kehadiran Kagama NTB, dengan latar belakang para alumninya yang beragam, memberi pesan bahwa pendidikan dan kepedulian sosial bisa berjalan beriringan.

Pendampingan, Bukan Sekadar Santunan

Di Nusa Tenggara Barat, persoalan anak yatim dan anak dari keluarga rentan masih menjadi pekerjaan bersama. Data dan berbagai laporan kegiatan sosial selama Ramadan menunjukkan bahwa banyak komunitas, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat sipil bergerak untuk mengisi ruang kepedulian tersebut—mulai dari santunan, pembinaan spiritual, hingga pendampingan pendidikan.

Kagama NTB menempatkan diri dalam ekosistem kepedulian itu dengan pendekatan yang berkelanjutan. Anak‑anak asuh tidak hanya menerima bantuan material, tetapi juga didorong untuk tetap bersekolah, menjaga semangat belajar, dan membangun kepercayaan diri. Bagi para alumni UGM yang tergabung di Kagama NTB, keberhasilan pengabdian masyarakat tidak diukur dari besarnya bantuan, melainkan dari keberlanjutan relasi.

“Yang kami jaga adalah kontinuitas. Anak‑anak ini perlu merasa didampingi, bukan hanya diingat saat Ramadan,” ujar Ketua Harian Kagama NTB Nurhandini Eka Dewi dalam kegiatan tersebut.

Pendekatan ini sejalan dengan praktik pengabdian sosial di berbagai wilayah NTB, di mana santunan sering dirangkai dengan kegiatan keagamaan, edukasi, dan penguatan karakter. Ramadan menjadi ruang belajar bersama—bagi penerima maupun pemberi.

Gerakan Alumni di Berbagai Daerah

Apa yang dilakukan Kagama NTB juga menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas. Di berbagai daerah di Indonesia, cabang‑cabang Kagama memanfaatkan momentum Ramadan untuk berbagi dengan masyarakat, menyesuaikan bentuk kegiatan dengan kebutuhan lokal. Di kota‑kota besar, kegiatan berbagi menyasar pekerja informal dan warga miskin kota. Di daerah lain, fokus diberikan pada anak yatim, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Di Lombok Barat sendiri, berbagai kelompok masyarakat—mulai dari lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, hingga komunitas jurnalis—turut menghidupkan tradisi berbagi selama Ramadan. Kehadiran banyak aktor ini menunjukkan bahwa solidaritas sosial tumbuh dari banyak arah, dengan tujuan yang sama: memastikan tidak ada yang merasa sendirian di bulan suci.

Bagi Kagama, pengabdian masyarakat merupakan bagian dari identitas alumni. Nilai guyub, rukun, dan migunani yang tumbuh sejak masa mahasiswa diterjemahkan ke dalam praktik nyata setelah lulus. Pendidikan, dalam pandangan ini, tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut dalam relasi dengan masyarakat.

Menjaga Asa, Menyemai Masa Depan

Sore itu, menjelang berbuka, anak‑anak asuh Kagama NTB meninggalkan lokasi kegiatan dengan bingkisan di tangan. Namun yang mereka bawa pulang bukan hanya bantuan material. Ada rasa diperhatikan, ada kehangatan yang sulit diukur dengan angka.

Di Lombok Barat, Ramadan kembali menjadi pengingat bahwa harapan bisa dirawat melalui tindakan sederhana. Bagi Kagama NTB, santunan ini adalah bagian dari ikhtiar panjang—menjaga asa, menyemai masa depan, dan memastikan bahwa pengabdian tidak berhenti pada satu musim.