
Melawan Amnesia Kebencanaan: Menghidupkan Tradisi Bertutur dan Sains di Era Digital
YOGYAKARTA, KAGAMA.ID — Dua dekade sejak gempa bumi dahsyat melanda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 27 Mei 2006 silam, memori kolektif masyarakat terhadap bencana dinilai mulai mengikis. Padahal, secara geologis, wilayah Pulau Jawa saat ini tengah berada di bawah bayang-bayang ancaman megathrust yang mampu memicu gempa bermagnitudo hingga 8,9 atau 9,0.
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP Kagama), Nezar Patria, mengingatkan adanya kecenderungan sosiologis di mana publik dengan cepat melupakan peristiwa bencana besar yang pernah terjadi di masa lalu.
”Kita ini memang bangsa yang gampang lupa. Mungkin ini menjadi semacam karakter di Nusantara,” ujar Nezar dalam forum Refleksi 20 Tahun Gempa Yogyakarta yang digelar atas kerja sama Kagama dan UGM di Yogyakarta.
Nezar, yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, merefleksikan pengalamannya saat menyaksikan langsung dua bencana terbesar di Indonesia dalam rentang waktu berdekatan: tsunami Aceh pada Desember 2004 dan gempa Yogyakarta pada Mei 2006.

Gempa bumi di Yogyakarta dua dekade silam, yang tercatat berdaya rusak tinggi dengan korban jiwa mencapai sekitar 6.600 orang serta merusak 280.000 bangunan [01:50], kini mulai asing bagi generasi muda. Generasi baru yang lahir setelah tahun 2006 dinilai mengalami keterputusan ingatan sejarah atau lost memory karena tidak lagi terikat dengan memori kolektif krisis tersebut.
Ironi Literasi dan Dongeng “Smong”
Kelemahan literasi publik ini, menurut Nezar, sempat memicu kepanikan massal yang tidak logis sesaat setelah guncangan gempa melanda Yogyakarta pada 2006. Hanya dalam waktu 35 hingga 45 menit pasca-gempa, ribuan warga di Jalan Solo hingga kawasan Janti berlarian panik ke arah timur karena isu tsunami.
Padahal, secara geografis, jarak pantai selatan ke pusat kota Yogyakarta berkisar lebih dari 25 kilometer. “Kepanikan luar biasa itu menggambarkan betapa butuhnya kita pada literasi bencana dan pengetahuan yang lebih mendalam,” tuturnya.
Sebaliknya, Nezar mencontohkan keberhasilan mitigasi kultural berbasis kearifan lokal masyarakat di Pulau Sinabang, Aceh. Melalui tradisi bertutur, syair, dan dongeng turun-temurun tentang smong (bahasa lokal untuk tsunami), masyarakat Sinabang langsung berlari ke tempat tinggi begitu merasakan gempa besar . Hasilnya, saat tsunami dahsyat menerjang tahun 2004, korban jiwa di pulau tersebut berhasil ditekan hingga hanya empat orang.
”Di Sinabang literasinya berjalan karena komunikasi publik lewat cara tradisional itu terus hidup. Berbeda dengan daerah lain yang sepuluh tahun setelah bencana, jejak fisiknya hilang dan memorinya terlupakan,” kata Nezar.
Sains, AI, dan Tantangan Era “Post-Truth”. Kondisi mitigasi kebencanaan saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan situasi dua dekade lalu. Ruang publik kini dibombardir oleh hoaks, misinformasi, dan fenomena post-truth di media sosial yang dapat melipatgandakan kepanikan massal di tengah situasi krisis.
Menghadapi potensi ancaman gempa bumi dari dua zona megathrust utama di selatan Pulau Jawa, Nezar menekankan perlunya lompatan strategi mitigasi yang mengintegrasikan sains, komunikasi publik yang jernih, dan adopsi teknologi modern .
Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dapat dioptimalkan untuk menganalisis data seismik dengan kecepatan dan akurasi tinggi nhằm mendeteksi anomali geologi lebih awal. Selain itu, teknologi digital twins (kembaran digital) dapat diadopsi untuk menciptakan replika virtual suatu wilayah, sehingga simulasi dampak gempa terhadap infrastruktur kritis dapat dipetakan secara real-time.
Meskipun sains belum mampu memprediksi hari dan jam kedatangan gempa secara presisi, analisis prediktif setidaknya dapat memberikan estimasi masa tumbukan lempeng bagi pengambil kebijakan. Langkah taktis ini tidak dapat dikerjakan oleh satu instansi saja, melainkan membutuhkan kolaborasi pentahelix yang solid antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, komunitas masyarakat, dan media. Sinergi berkelanjutan tersebut diringkas dalam filosofi kebersamaan alumni UGM: Guyub, Rukun, dan Migunani (berguna bagi masyarakat).
”Momentum dua dekade gempa Yogya ini bukan sekadar untuk refleksi masa lalu, melainkan sebagai bentuk komitmen bersama untuk membangun masa depan Nusantara yang lebih tangguh melalui kekuatan teknologi dan kolaborasi,” pungkas Nezar.
Video sumber tulisan dapat diakses melalui tautan berikut: KAGAMA Channel –