Leadership During Crisis in VUCA Era

Oleh: Adi Mardianto Soekirno (Ketua Kagama Human Capital)

Kita ini hidup di jaman VUCA saat ini. VUCA adalah singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.

  • Volatiliy artinya perubahan yang sangat cepat terjadi
  • Uncertainty artinya ketidakpastian. Yakni kurangnya kecepatan kita untuk memprediksi segala peristiwa yang akan terjadi.
  • Complexity artinya sangat kompleks. Situasi adanya gangguan yang dihadapi oleh suatu organisasi sifatnya kompleks dan beragam.
  • Ambiguity artinya semua serba tidaK jelas, ambigu dan bias

Dalam era VUCA tersebut mengeksekusi isu-isu strategi sangatlah menantang. Dalam VUCA world ini perubahan yang lebih besar dan lebih cepat, serta mempunyai dampak yang sangat besar, kita sering menamainya dengan kondisi disruptive.

Pertanyaan disini adalah bagaimana kita sebagai pemimpin organisasi supaya tetap bertumbuh dan tetap kompetitif?

AGILE LEADER

Menurut Adi Mardianto Soekirno, Ketua Kagama Human Capital, di era VUCA ini dibutuhkan seorang agile leader yaitu pemimpin yang tangkas. Pemimpin yang agile adalah pemimpin yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungannya. Agile leadership ini yang perlu terus dikembangkan dan menjadi mindset yang dimiliki oleh setiap pemimpin yang ada dalam organisasi / lembaga apapun. Supaya bisa survive di VUCA world tersebut, hal penting yang perlu dipunyai para leader adalah kemampuan mengidentifikasi masalah dan atau peluang dan kemudian bergerak menindaklanjutinya solusi yang diperoleh dengan tangkas, dan dilakukan terus-menerus dengan adaptif hingga mencapai tujuan sukses yang diinginkan.

Dalam sesi LEADERSHIP yang digelar oleh KAGAMA HUMAN CAPITAL pada tanggal 12 September 2020, Ganjar Pranowo, Ketua Umum Kagama yang juga selaku Gubernur Jawa Tengah menjadi nara sumber dalam webinar tersebut. Ganjar memaparkan tentang tantangannya memimpin propinsi Jawa Tengah. Saat ini Covid-19 juga berimbas pada pada perekonomian di Jawa Tengah. Jelasnya, bahwa proyeksi dampak negatif Covid-19 terhadap perekonomian Jateng tahun 2020 adalah berpengaruh pada permintaan & penawaran yang ada. Permintaan ini adalah PKRT menurun, investasi turun drastis, ekspor impor anjlok dan pengeluaran konsumsi pemerintah naik. Sedangkan pada penawaran terjadi bahwa kinerja sektor-sektor usaha primer dan sekunder merosot.

Realisasi pertumbuhan Jawa Tengah pada beberapa tahun terakhir yaitu kuartal ! tahun 2018 hingga kuartal ke empat tahun 2019, terasa cukup bagus yaitu bergerak pada angka 5.37 hingga 6,34. Namun, Covid-19 berpengaruh signifikan selepas periode tersebut dimana terjadi kemrosotan pada kuartal satu tahun 2020 dimana pertumbuhan ekonomi hanya pada angka 2.6, kemudian terjadi kemerosotan terusa hingga pada kuartal kedua tahun 2020 dimana pertumbuhan ekonomi menjadi negatif yaitu pada angka minus 5,94.

Lebih lanjut, Ganjar menjelaskan tentang situasi ekonomi dunia saat ini bahwa pertumbuhan ekonomi global 2020 diproyeksi terkontraksi. Tingkat ketidakpastian yang tertinggi menunjukan masih adanya resiko downside pada proyeksi. Menurut data world bank pertumbuhan dunia diprediksikan turun menjadi -1,1 %, sedangkan menurut ADB diprediksikan turun menjadi -2,2 %, sedangkan menurut Moody’s diprediksikan turun menjadi -1,9 % dan sedangkan IMF memprediksikan ekonomi turun menjadi -3,0%

Lebih lanjut, Ganjar menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di Jawa juga mengalami penurunan dimana DKI -8,22 %. Jabar -5,98%, Jateng -5,94%, Banten -7,40%, DIY -6,74% dan Jatim -5,90%. Secara umum pertumbuhan ekonomi di jawa turun sebesar -6,69%.

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan bahwa ada sejumlah tantangan pandemi Covid-19 yang kita hadapi yaitu :

  • Mengubah pola pikir, tatanan regulasi dan pelaksanaan kegiatan
  • Menghindari kegiatan tatap muka dan memaksimalkan daring
  • Ekonomi tumbuh negatif, belanja/konsumsi rumah tangga dan kemampuan belanja rendah
  • Membutuhkan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity  dan Ambiguity)

Dijelaskan lebih lanjut, disaat VUCA sekarang ini tantangan bisnis yang dihadapi oleh para pelaku usaha adalah : perilaku baru konsumen, disrupsi di setiap lini dan kompetetitor yang tidak bisa diprediksi.

Di era VUCA saat ini, lalu apa yang semestinya pemimpinan lakukan ? Dijelaskan oleh Ganjar bahwa pemimpin ditengah pandemi haruslah :

  • Siap menghadapi dampak pandemi
  • Pemimpin mampu membaca situasi dan beradaptasi
  • Memfasilitasi ruang berbagi
  • Membawa birokrasi menyatu dengan masyarakat
  • Memiliki simpati dan empati terhadap segala dampak yang ada di masyarakat

Seorang pemimpin mesti paham akan masyarakat yang dipimpinnya. Apa saja sih yang diharapkan masyarakat pada pemimpinnya ? Menurut Ganjar ada 5 hal yang patut diketahui oleh pemimpin tentang harapan dari masyarakat, yaitu :

  • Memahami masalah dan dapat memberi solusi cepat dan tepat
  • Memiliki perencanaan dan langkah antisipasi
  • Program dan tindakan jelas
  • Menggerakkan dan mengkonsolidasi semua potensi
  • Memiliki empati dan simpati yang tepat

Sesi berikutnya, Ganjar menjelaskan bagaimana Implementasi  “Vuca Era” Di Birokrasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ada beberapa hal implementasi strategik yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini, yaitu :

  • Perubahan cepat diiringi inovasi
  • Masa pandemi memaksa seluruh instansi beradaptasi
  • Implementasi inovasi pelayanan publik

Dalam menghadapi VUCA, sejumlah inovasi sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yaitu :

A. PELAYANAN PUBLIK (99 INOVASI)

  • Pelayanan RS online (Antrean Pendaftaran, Dokter, Kamar, Obat, Rekam Medis dan Administrasi);
  • Pelayanan Perijinan online;
  • Sadewa Market, Rego Pantes, Agro Jowo dan Sihati;
  • Laporgub dan Twitter Kemala Jateng;
  • SAMSAT Online;
  • PPDB online

B. TATA KELOLA PEMERINTAHAN (62 INOVASI)

  • GRMS Jateng (Perencanaan,  Penganggaran, Penatausahaan, Pelaksanaan, Monitoring dan Evaluasi);
  • Aplikasi Si Jalan Cantik;
  • Gerakan 5 Ng;
  • Sistem Logistik Pangan Daerah (Sislogda);
  • Kepegawaian (Sinaga, Sinita, e-Mutasi);
  • Kepegawaian (Sijari on AKD dan Techno Training Center).

Dengan menerapkan sejumlah inovasi Birokrasi di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diperoleh manfaat yaitu :

  • WTP 8 kali. Opini Wajar Tanpa Pengecualian adalah opini audit yang akan diterbitkan jika laporan keuangan dianggap memberikan informasi yang bebas dari salah saji material. 
  • Pelaporan LHKPN Provinsi terbaik dari KPK 4 tahun berturut-turut
  • Perencanaan Pembangunan Daerah Terbaik 2019
  • Kategori Indeks RB jadi 74,4
  • SPBE Provinsi terbaik Tahun 2019
  • Refuse Derived Fuel (Rdf) Cilacap & Pltsa Solo & Semarang

Selanjutnya disampaikan beberapa contoh inovasi yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam Penanganan Dampak Covid-19 yaitu :

1. Inovasi Tata Pemerintahan Berbasis Elektronik (Online)

2. 1 Perangkat Daerah 1 Desa Dampingan
Program Maju Bareng Untuk Penanggulangan Kemiskinan melalui Gerakan “Satu Perangkat Daerah Minimal  Membina Satu Desa Dampingan” 745  Desa Merah di 14 Kabupaten Prioritas di Jawa Tengah

3. Mapitulung dan Gotong Royong

  • Menjaga dan Melestarikan Budaya
  • Meningkatkan Kemampuan dan Kesadaran Rasa Kebersamaan
  • Meningkatkan Kepedulian dan Peran Serta
  • Meningkatkan Rasa Memiliki dan Tanggungjawab

Pada penjelasan berikutnya dipaparkan tentang penumbuhkembangan start up inovasi sebagai Upaya pengentasan kemiskinan dan pengangguran yang meningkat sebagai dampak Covid-19 di Desa, yaitu dengan melakukan beberapa kegiatan yaitu :

  • Peningkatan potensi ekonomi berbasis inovasi
  • Inkubasi start up berbasis produk lokal
  • Terapkan inovasi teknologi sesuai kebutuhan masyarakat /kelompok usaha /BUMDes

Dalam sesi terakhir, Ganjar menjelaskan sejumlah prestasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bidang Inovasi yaitu :

BUDHIPURA

  • Juara I tahun 2013 kategori  penguatan kelembagaan iptek
  • Juara I tahun 2014 Kategori sumber daya iptek
  • Juara III tahun 2018 budhipura kategori Penguatan sistem inovas

BUDHIPURA KENCANA

  • Tahun 2015 Juara Budhipura Kencana (Penghargaan Juara 1, 3kali berturut- turut

INNOVATIVE GOVERNMENT AWARD (IGA)

  • Pada tahun 2019 meraih Juara I dan menjadi Provinsi terinovatif

Penghargaan inovasi Tatanan Normal Baru produktif dan aman COVID-19 Tahun 2020 Mendapatkan 3 kategori penghargaan pada sektor :

  1. Pariwisata (Juara I)
  2. Transportasi umum (Juara I)
  3. Pelayanan Perizinan /PTSP (Juara III)

Adalah hal menarik dan bermanfaat sekali apa yang sudah disampaikan Ganjar pada forum Webinar Kagama Human Capital diatas. Niscaya, apa yang sudah direncanakan dan diimplementasikan di Jawa Tengah bisa menjadi percontohan bagi provinsi lainnya di Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan juga menghadapi era yang penuh ketidakpastian ini, yaitu VUCA Era.