Kagama Berbagi 2: Suka Duka Menjadi Tionghoa di Indonesia

Minggu (14/2/2021) pukul 19:30 – 22:00 WIB, Pengurus Pusat Kagama kembali menyelenggarakan kegiatan Webinar Kagama Berbagi 2 dengan mengangkat tema “Suka Duka Menjadi Tionghoa di Indonesia” melalui aplikasi Zoom Meetings dan disiarkan langsung di kanal Youtube Kagama Channel. Dialog Virtual Interaktif Kagama Berbagi 2 memperingati perayaan Tahun Baru Imlek 2021, menghadirkan 3 narasumber yaitu Didi Kwartanada (Sejarawan / Alumnus Jurusan Sejarah FIB UGM), Indra Wijaya Kusuma (Dosen FEB UGM), dan Katherina (Marine Conservation Worker). Tampil sebagai moderator adalah Wiwit Wijayanti, dari tim Humas PP Kagama. Kemudian Ganjar Pranowo, Ketua Umum PP KAGAMA, berkenan memberikan keynote speech.

Ganjar Pranowo, Ketua Umum PP KAGAMA

Ganjar Pranowo mengawali sambutan dengan berpesan merayakan Imlek di rumah saja. Ia menyebutkan pada masa Orde Baru merayakan Imlek merupakan hal yang tabu dan terkesan rasial. Di masa sekarang, merayakan Imlek sudah menjadi agenda kita bersama secara nasional. Kebhinekaan adalah sebuah keniscayaan yang sudah ada sejak lama di Indonesia. Suka duka Tionghoa adalah tema yang menarik. Sebagai alumni UGM, kampus yang berbasis kerakyatan dan Pancasila sudah tentu menerima semua perbedaan suku, agama, ras dan antar-golongan di dalamnya. Sehingga, webinar ini memupuk rasa persatuan dan kesatuan bersama sebagai warga negara Indonesia.

Didi Kwartanada

Didi Kwartanada menceritakan kisahnya sebagai generasi ke-7 dari ayah beretnis Tionghoa dan ibu beretnis Jawa. Didi menyebutkan ayahnya, seorang keturunan Tionghoa merupakan pegawai Departemen Penerangan (Deppen) yang bertugas di RRI ditahun 1980-an. Dalam keluarganya lebih condong menggunakan kebudayaan Jawa melalui bahasa dan adat Jawa dan tidak lagi merayakan Imlek dalam keluarga. Walaupun memiliki darah Jawa dari Ibu, Didi mengalami kesulitan dalam mengurus keperluan administrasi seperti mengurus surat-surat ke kelurahan dan kecamatan namun ia mensyukuri dalam menempuh pendidikan jenjang SD, SMP dan SMA bergaul dalam keberagaman berbagai etnis.

Semasa kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UGM, Didi tidak mengalami kendala dalam bergaul. Pergaulan di Fakultas Sastra yang dinamis dan plural membuat dirinya nyaman bergaul dengan berbagai teman-teman dengan etnis yang berbeda. Didi merasakan UGM sebagai institusi pendidikan yang mencerminkan nilai-nilai keberagaman Indonesia.

Indra Wijaya Kusuma

Cerita berbeda datang dari Indra Wijaya Kusuma yang mengisahkan masa kecilnya bukan sebagai anak Tionghoa dari golongan kaya melainkan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Diasuh hingga usia sekolah dasar oleh Neneknya karena kondisi ekonomi keluarga. Baru pada masa SMP dan SMA, Indra tinggal bersama kedua orang tuanya. Saat perayaan Imlek, Indra menerima angpao dari kerabat dan saudara-saudaranya. Indra pun merasakan kesulitan mengurus soal administrasi seperti status kewarganegaraan dan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia). Semasa berkuliah di UGM tepatnya di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntasi, rasa duka sebagai keturunan Tionghoa sama sekali tidak dirasakannya.

Katherina

Sementara itu narasumber yang paling muda, Katherina menyebutkan dirinya merupakan keturunan keenam dari kakeknya yang berasal dari Guangzhou. Namun sudah lama merantau ke Indonesia tepatnya di Bangka. Di masa kecil, ia sering mendapatkan ejeken dan kata cemoohan seperti “dasar china” dari teman-temannya. Katherina juga mengalami kesulitan mengurus administrasi dokumen status kewarganegaraan dan SBKRI. Namun, semua itu bisa dilaluinya sampai dia lulus SMA dan menjadi mahasiswa di Fakultas Biologi UGM. Semasa kuliah, Katherina merasakan atmosfer keberagaman dan keterbukaan, Ia tidak lagi di ejek dan mendapatkan pandangan skeptis.

Wiwit Wijayanti, moderator webinar

Ketiga narasumber menanggapi pertanyaan yang ditanyakan peserta webinar secara bergantian. Mereka menegaskan walaupun secara etnis merupakan keturunan Tionghoa, ketiganya menampik stigma dan pandangan bakal kembali atau pun akan hidup di negara asal nenek moyangnya. Ketiganya secara tegas mengatakan bangga menjadi warga negara Indonesia yang lahir, tumbuh, berkembang bahkan hingga meninggal dunia pun tetap bagian Indonesia.[arma]

*) Materi webinar selengkapnya bisa dilihat di Youtube Kagama Channel:

https://www.youtube.com/watch?v=6sFU5fMvrRQ&t=2334s

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*