In Memoriam Dr. Singgih Hawibowo, Perintis ‘Sepeda Hijau’ di Kampus UGM

Universitas Gadjah Mada pada hari Rabu (06/10/2021) pukul 18:30 WIB kehilangan salah satu putra terbaiknya. Ia dalah Dr.-Ing. Ir. Singgih Hawibowo., dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika FT-UGM dan Ketua Program Studi Magister Teknik Fisika UGM.

Dr. Singgih merupakan alumnus Teknik Nuklir UGM angkatan 1981 dan melanjutkan pendidikan hingga meraih Doktor Ingineur (Dr.-Ing) di The Technische Universität Berlin, Jerman. Sejumlah jabatan penting pernah disandangnya seperti Direktur Direktorat Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset (DPPA) UGM. Selama menjadi Pimpinan DPPA, ia merintis penyediaan sepeda kampus secara gratis di lingkungan UGM yang telah dirintis sejak 2005 bersama Pusat Studi Transportasi dan Logistik, Pusat Studi Pariwisata, dan Pusat Studi Lingkungan Hidup yang dikenal dengan program “Sepeda Hijau”.

Konsepnya berupa layanan sepeda kampus gratis untuk dipinjam mahasiswa, tenaga pendidik dan tamu yang berkunjung ke UGM. Stasiun-stasiun sepeda disediakan di hampir setiap fakultas dan moda perpindahan transportasi seperti dekat halte Transjogja dan area parkir Wisdom Park UGM. Mobil listrik juga dihadirkan ditujukan bagi difabel, lansia, tamu VIP dan sivitas kampus UGM yang berhalangan menempuh perjalanan dalam kampus dengan bersepeda atau berjalan.

Insinyur nuklir tersebut juga memiliki hak paten terkait peralatan pengukur permukaan jalan terhadap aspek guncangan pada kendaraan dengan memanfaatkan teknologi komputer yang telah terdaftar resmi pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Ia juga termasuk yang menginisiasi berdirinya Kantor Jaminan Mutu UGM.

Dr. Singgih termasuk produktif dalam menilis buku. Yang menarik beberapa di antaranya tidak membahas keilmuannya, di antaranya buku berjudul “Pemikiran Para Pemimpin Negara tentang Pancasila” yang diterbitkan oleh Pusat Studi Pancasila UGM, dan “Ringkasan Eksekutif Program Aksi Meluruskan Reformasi: Dialog Kebangsaan 11-14 Maret 2004”.

Dr. Singgih kini telah tiada. Raganya terbaring abadi di pemakaman UGM Sawitsari. Raga boleh tiada namun pengabdian dan karya-karyanya tetap akan dikenang abadi selamanya. [arma]

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*