
Buka Puasa Kagama AI: Dari Refleksi Pemikiran Islam, Etika AI, hingga Kedaulatan Data
JAKARTA, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Artificial Intelligence (AI) memperkuat sinergi dengan fokus akselerasi program kerja prioritas di tahun 2026. Dalam pertemuan tatap muka yang berlangsung hangat di Rumah Dinas Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jumat (13/3), diskusi beragam topik hangat menyeruak mulai dari refleksi para ilmuwan muslim, etika penggunaan teknologi AI, kedaulatan data, hingga literasi AI.

Ketua Kagama AI, Ajar Edi, didampingi Sekretaris Kagama AI, Sulastama Raharja, menjelaskan seperti halnya Al-Khwarizmi yang meletakkan dasar aljabar untuk peradaban, Kagama AI ingin berkontribusi untuk memastikan bahwa adopsi AI di Indonesia didasari semangat kedaulatan sebagai fondasi bagi kemajuan bangsa, bukan sekadar tren teknologi.
Untuk itu, Kagama AI ingin mengakselerasi program organisasi di 2026, agar tetap memastikan relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI yang berkelindan dengan isu geopolitik. Untuk itu, demi kedaulatan AI di Indonesia, diperlukan kolaborasi lintas generasi dan lintas profesi, dari akademisi, pemerintah, hingga praktisi industri, sebagai salah satu kunci.

“Kami berfokus pada kontribusi nyata. Alumni UGM diharapkan menjadi salah satu motor penggerak transformasi digital nasional dan adopsi AI yang inklusif,” ujar Ajar Edi.
Pertemuan dan diskusi hangat tersebut mengonfirmasi lima agenda diskusi strategis. Pertama, rencana penyelenggaraan konferensi tentang implementasi etika AI. Kedua, optimalisasi platform digital Kagama Apps untuk memperkuat jejaring antar-alumni. Ketiga, peluang Kagama AI untuk berperan aktif dalam pengembangan teknologi dan ekosistem digital di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Isu keempat yang krusial adalah perlindungan data pribadi dan penegasan kedaulatan data nasional. Kelima, strategi dukungan bagi pertumbuhan ekosistem startup berbasis AI di tanah air melalui inkubasi dan pendanaan.

Dalam sesi diskusi, Wamen Komdigi Nezar Patria, yang juga Pembina Kagama AI, membagikan pandangannya mengenai lanskap AI global saat ini. Mengutip pandangan klasik Al-Kindi, filsuf Muslim abad ke-9 bahwa tujuan ilmu adalah mendekatkan manusia pada kebenaran dan kemaslahatan. Pandangan ini, menurut Nezar, relevan untuk memastikan AI berkembang dengan nilai etika yang kuat.
Dia menekankan perlunya Indonesia mengambil peran aktif, memperkuat kolaborasi antara negara Global South dan tidak sekadar menjadi pasar bagi teknologi asing. Dalam AI Impact Summit pada pertengahan bulan Februari lalu, Nezar menjelaskan beberapa pelajaran berharga dari India.

“India membangun ‘Digital Public Infrastructure’ (DPI) yang inklusif, yang didukung oleh regulasi yang memfasilitasi inovasi namun tetap menjaga kepentingan publik,” ungkapnya. Model kolaborasi ini, dengan penyesuaian konteks lokal, sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia. “Bisa jadi best practice, untuk mengakselerasi transformasi digital kita,” tambahnnya.
Dia menegaskan kembali pentingnya tata kelola AI berlandaskan kedaulatan digital dan kemanusiaan. “Inovasi harus berdampak sosial-ekonomi positif sembari memitigasi risiko. Kita tidak boleh melupakan bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan tujuan utamanya adalah kesejahteraan manusia,” tuturnya.

Diskusi hangat tersebut, yang melibatkan para pengurus duduk lesehan, melahirkan draf program prioritas untuk mempercepat literasi AI, merekomendasikan kebijakan penggunaan etis, serta membangun kemitraan strategis pemerintah-industri-akademisi demi menyongsong tantangan digital masa depan.