Berkayuh dari Mahakam untuk Nusantara: KAGAMA Kalimantan Timur Merajut Pengabdian, Ilmu, dan Kebinekaan di Tengah Transformasi Borneo

Di tepian Sungai Mahakam, tempat peradaban Kalimantan Timur bertumbuh selama berabad-abad, sebuah semangat gotong royong kembali hendak diteguhkan. Bukan melalui pidato-pidato besar atau seremoni semata, melainkan melalui gerakan yang berangkat dari keyakinan sederhana: kemajuan bangsa hanya dapat dicapai ketika ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan kolaborasi berjalan beriringan.

Semangat itulah yang melandasi rangkaian peringatan Dies Natalis ke-77 Universitas Gadjah Mada yang akan diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Kalimantan Timur sepanjang 2026 dengan tema”Kayuh Baimbai Gawi Sabumi Gasan Nusantara”. Berdasarkan kerangka strategis yang disusun Pengurus Daerah KAGAMA Kalimantan Timur, tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan representasi nilai lokal Kalimantan yang dipadukan dengan semangat kebangsaan.

Dalam bahasa Banjar, kayuh baimbai berarti mendayung bersama. Di dalamnya terkandung filosofi kebersamaan, kesetaraan, dan gerak kolektif menuju tujuan yang sama. Sementara gawi sabumi gasan nusantara mengandung makna bekerja dan mengabdi dari tanah tempat berpijak untuk kemanfaatan yang lebih luas, yakni Indonesia. Bagi KAGAMA Kalimantan Timur, nilai tersebut menjadi relevan di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung di Borneo, terutama setelah Kalimantan Timur ditetapkan sebagai wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).

Bagi alumni UGM, pengabdian kepada masyarakat bukanlah konsep baru. Sejak didirikan pada 18 Desember 1958, KAGAMA lahir dari kesadaran para alumni untuk mengambil bagian dalam penyelesaian persoalan bangsa melalui kontribusi keilmuan, kepemimpinan, dan kerja sosial. Organisasi ini dibentuk bukan sebagai ruang nostalgia, melainkan wadah pengabdian yang menghubungkan kampus dengan kehidupan nyata masyarakat.

Karena itu, menurut Ketua KAGAMA Kalimantan Timur, Lalu Fauzul Idhi, momentum Dies Natalis UGM tidak cukup dimaknai sebagai perayaan usia institusi pendidikan. Lebih dari itu, ia menjadi kesempatan untuk membumikan nilai-nilai kerakyatan dan keilmuan yang selama ini menjadi identitas UGM.

“Alumni harus hadir sebagai penerang, penghubung, dan pembaharu di tengah masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh di kampus harus menemukan relevansinya dalam kehidupan warga,” ujar Fauzul Idhi dalam berbagai kesempatan penguatan peran alumni di Kalimantan Timur.

Pandangan tersebut tercermin dalam desain kegiatan yang disusun KAGAMA Kaltim. Berbeda dengan pendekatan yang berpusat pada satu kota, seluruh pengurus cabang di berbagai kabupaten dan kota dilibatkan dalam sebuah gerakan kolaboratif lintas wilayah. Dari Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Berau, Bontang hingga Penajam Paser Utara, setiap daerah diarahkan menjadi simpul pengabdian yang saling terhubung.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Juli hingga September dengan fokus pada konservasi lingkungan, ketahanan pangan, edukasi masyarakat, dan pelestarian budaya lokal. Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah pengembangan padi Gamagora 7, varietas hasil riset UGM yang dirancang untuk lahan tadah hujan. Program ini menjadi simbol bagaimana penelitian kampus dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi tantangan pangan di daerah.

Selain itu, kegiatan konservasi mangrove, edukasi sejarah kawasan pecinan tua, hingga festival budaya Topeng Hudoq menjadi bagian dari upaya menjaga memori ekologis dan kebudayaan Kalimantan Timur. Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, pelestarian warisan budaya dianggap penting agar pembangunan tidak memutus hubungan masyarakat dengan akar sejarahnya.

Memasuki Oktober, fokus kegiatan bergeser pada aksi kemanusiaan serentak berupa donor darah dan bakti sosial yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh seluruh pengurus cabang. Gerakan ini mencerminkan salah satu nilai utama KAGAMA, yakni migunani, atau memberi manfaat bagi masyarakat seluas-luasnya. Nilai tersebut selama ini menjadi landasan berbagai program sosial KAGAMA di berbagai daerah Indonesia.

Sementara pada November hingga Desember, agenda diarahkan pada isu kesehatan, lingkungan, dan penguatan wawasan kebangsaan. Penanaman pohon di daerah aliran Sungai Mahakam, dialog kebangsaan bersama generasi muda, serta penyelenggaraan KAGAMA Balikpapan Fun Run menjadi sarana mempertemukan kepedulian lingkungan, gaya hidup sehat, dan solidaritas sosial dalam satu gerakan bersama.

Bagi Fauzul Idhi, kolaborasi menjadi kata kunci dalam keseluruhan rangkaian tersebut. Pengalaman KAGAMA Kalimantan Timur selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas lokal, dan warga masyarakat harus bergerak dalam irama yang sama.

Pandangan itu bukan tanpa dasar. Berbagai program pemberdayaan yang pernah diinisiasi alumni UGM di Kalimantan Timur, mulai dari ecoprint, konservasi lingkungan, pengembangan desa inklusi hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat, menunjukkan bahwa sinergi multipihak mampu menghasilkan dampak yang lebih berkelanjutan.

Di tengah transformasi Kalimantan Timur sebagai beranda Ibu Kota Nusantara, kebutuhan terhadap model pembangunan yang inklusif dan berbasis pengetahuan menjadi semakin mendesak. Pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas manusia, pelestarian lingkungan, serta penjagaan harmoni sosial. Dalam konteks inilah peran komunitas alumni menjadi penting sebagai jembatan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat.

Akhirnya, “Kayuh Baimbai Gawi Sabumi Gasan Nusantara” bukan hanya tema peringatan Dies Natalis ke-77 UGM. Ia merupakan ajakan moral untuk terus berkayuh bersama dalam menghadapi tantangan zaman. Sebab seperti aliran Mahakam yang menghubungkan hulu dan hilir, kemajuan bangsa pun pada hakikatnya lahir dari kemampuan berbagai elemen masyarakat untuk bergerak dalam satu arus kebersamaan.

Dari Kalimantan Timur, semangat itu kembali dikirimkan untuk Indonesia: bahwa ilmu harus hadir dalam pengabdian, bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan bahwa masa depan Nusantara hanya dapat dibangun oleh mereka yang bersedia berkayuh bersama.

Guyub, rukun, migunani. Dari Mahakam untuk Nusantara.