
Di Makassar, “Cantelan” Menautkan Kepedulian Warga
Dari sembako yang digantung di tali, tumbuh gerakan pemberdayaan yang mengubah wajah kampung-kampung miskin kota
Di sebuah gang kecil di Lingkungan Dampang Bira, Makassar, seutas tali membentang rendah di antara dua tiang. Dari ujung ke ujung, tergantung kantong-kantong berisi beras, telur, sayur, minyak goreng, dan bumbu dapur. Tak ada antrean. Tak ada pencatatan penerima. Hanya pesan yang ditulis sederhana: “Yang butuh, silakan mengambil. Yang berlebih, silakan memberi.”
Konsep itu sangat sunyi—tetapi justru di situlah gaung kepedulian terasa paling kuat.

Inilah Cantelan, sebuah gerakan sosial yang sejak 2021 dirawat oleh KAGAMA Sulawesi Selatan. Ia lahir dari semangat gotong royong dalam bentuk paling sederhana: memberi kesempatan bagi siapa pun yang sedang kesusahan untuk tetap memiliki martabat ketika menerima bantuan. Tidak ada label “penerima manfaat”, tidak ada syarat administrasi. Yang ada hanya kepercayaan.
Bertumbuh dari 10 Paket Menjadi 150
Sejak pertama kali digagas, Cantelan berkembang melampaui dugaan para penggeraknya. Dari yang awalnya hanya 10 paket per pekan, jumlah distribusi kini stabil di 75 paket, bahkan pernah mencapai 150 paket dalam satu minggu.
Gerakan ini menyasar dua kantong kemiskinan urban: Lingkungan Dampang Bira dan Kampung Lette di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala—wilayah yang selama ini membutuhkan pendampingan jangka panjang

Di tempat-tempat inilah, tali Cantelan bukan hanya menggantungkan sembako, tetapi juga menggantungkan harapan bahwa masyarakat kota bisa saling menopang tanpa memandang status.
Kolaborasi yang Terus Mengakar
Jika pada awalnya Cantelan adalah inisiatif kecil KAGAMA Sulsel, kini jejaring kolaborasinya meluas. Sejumlah mitra terlibat secara rutin: Kapsigama, SIT Al-Fatih Makassar, Yayasan PELIPUR, Bosowa Peduli, Hotel Al Badar, hingga donatur pribadi yang tak ingin disebutkan namanya.
Dalam tiga tahun terakhir, mahasiswa Fakultas Psikologi UNM juga bergabung melalui program MBKM Proyek Kemanusiaan, membantu distribusi, asesmen kebutuhan warga, hingga evaluasi program.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa gerakan kerelawanan bisa tumbuh secara organik jika dipelihara dengan konsisten.
Dari Sembako ke Pemberdayaan
Yang menarik, Cantelan kini bukan lagi sekadar menyalurkan bantuan pangan. Ia berubah menjadi program pemberdayaan.
Di dapur dan lahan sempit belakang rumah warga, kelas-kelas keterampilan kecil digelar:
- pembuatan sabun batang dari minyak jelantah,
- pembuatan eco-enzyme,
- berkebun sayur di ruang terbatas,
- hingga budidaya jamur tiram.
Transformasi ini membuat warga sasaran bukan sekadar penerima bantuan, tetapi peserta aktif dalam proses yang membangun kemandirian ekonomi.

Dalam bahasa sederhana: tangan yang dulu hanya mengambil, pelan‑pelan tumbuh menjadi tangan yang bisa memberi kembali.
Gerakan yang Konsisten Melampaui Waktu
Memasuki tahun kelima, Cantelan menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak selalu harus spektakuler untuk berdampak besar. Keberlanjutan justru lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus.
Sebagaimana dicatat penulis laporan ini, Kurniati Zainuddin—dosen Fakultas Psikologi UNM sekaligus Ketua Yayasan PELIPUR—Cantelan adalah bukti bahwa “konsistensi dan kolaborasi mampu menumbuhkan gerakan sosial secara organik.”

Di dua kampung binaan itu, tali yang membentang menjadi simbol solidaritas: siapa pun bisa memberi, siapa pun boleh menerima, tanpa rasa malu ataupun takut diperdebatkan. Di kota besar yang kerap membuat orang merasa sendirian, Cantelan menghadirkan ruang kecil di mana keberpihakan pada sesama menjadi nyata.
Lebih dari Sekadar Tali
Program ini memberi pelajaran penting: pembangunan sosial tidak selalu membutuhkan intervensi besar-besaran dari lembaga resmi. Ia bisa muncul dari komunitas, dari alumni, dari para relawan yang menyadari bahwa problem kemiskinan bukan hanya soal bantuan, tetapi soal keberlanjutan relasi sosial.
Di gang-gang sempit Dampang Bira dan Kampung Lette, Cantelan mengikat sesuatu yang lebih kuat daripada sembako: rasa percaya.
Percaya bahwa ketika warga diberi ruang dan martabat, mereka bisa menjadi bagian aktif dari solusi. Percaya bahwa solidaritas tetap hidup, bahkan di tengah kerasnya kota.
Dan percaya bahwa dari sebuah tali yang sederhana, perubahan bisa tumbuh pelan-pelan—tapi pasti.