
Bakti Sosial KAGAMA Malang Raya Tebar Tali Asih bagi Penarik Gerobak Sampah dan Salurkan Al Quran ke Masjid dan Musala
Malang — Bulan Ramadhan kembali menjadi ruang berbagi bagi keluarga besar Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Malang Raya. Melalui rangkaian kegiatan bakti sosial, KAGAMA Malang Raya menyalurkan tali asih kepada para penarik gerobak sampah di Kota Malang serta mendonasikan ratusan mushaf Al Quran ke masjid dan musala di wilayah Malang dan sekitarnya.
Ketua KAGAMA Malang Raya, Prof. Nur Hidayat, menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum penting untuk menumbuhkan kepekaan sosial, sekaligus mengajak alumni UGM untuk tidak ragu berbagi, meski dengan cara sederhana.

“Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kemuliaan. Pada bulan ini umat Islam meningkatkan amal saleh dengan berbagai bentuk kebaikan. Namun, sering kali ada rasa sungkan karena merasa yang diberikan tidak seberapa. Melalui kegiatan ini, kami mengajak seluruh anggota KAGAMA untuk berpartisipasi dan berbagi bersama,” ujar Prof. Nur Hidayat usai penyerahan tali asih kepada para penarik gerobak sampah.
Kepedulian yang Berpindah dari Tahun ke Tahun
Kegiatan sosial Ramadhan telah menjadi agenda rutin KAGAMA Malang Raya setiap tahun. Lokasi pelaksanaan pun selalu berpindah, menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Selain sebagai wujud kepedulian sosial, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan KAGAMA kepada masyarakat luas.
“Ini juga bagian dari ikhtiar kami mengenalkan UGM dan KAGAMA kepada masyarakat. Siapa tahu, dari desa-desa yang kami kunjungi, kelak ada anak-anak yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke UGM,” kata Prof. Nur.

Pada Ramadhan tahun ini, kegiatan difokuskan di dua lokasi utama. Pekan sebelumnya, KAGAMA Malang Raya menyalurkan 245 mushaf Al Quran ke lima masjid dan 11 musala di Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Kawi. Penyerahan Al Quran disambut hangat warga dan ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama.
Salah seorang takmir masjid setempat menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan tersebut.
“Dengan adanya Al Quran ini, anak-anak sekarang tidak perlu lagi bergantian saat belajar mengaji. Mereka sangat senang karena bisa belajar menggunakan Al Quran yang baru,” ujarnya.
Donasi Mengalir hingga Lintas Daerah
Menariknya, semangat berbagi tidak berhenti setelah kegiatan di Desa Babadan selesai. Donasi Al Quran terus mengalir, termasuk dari para donatur di luar Malang. Dengan persetujuan para penyumbang, KAGAMA Malang Raya kemudian menyalurkan bantuan tambahan ke wilayah lain, yakni Kabupaten Rembang (Jawa Tengah) dan Kabupaten Tuban (Jawa Timur).

Di Rembang, bantuan disalurkan ke pondok pesantren berupa 20 mukena. Sementara di Tuban, bantuan diberikan kepada para guru Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) dalam bentuk kebutuhan sehari-hari, mukena, serta uang tunai. Donatur kegiatan ini tidak hanya berasal dari anggota KAGAMA Malang Raya, tetapi juga dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan dari masyarakat umum yang bukan anggota KAGAMA.
Menghargai Pekerja Sunyi Kota
Puncak kegiatan bakti sosial digelar melalui penyerahan 105 paket tali asih kepada para penarik gerobak sampah di Kota Malang. Setiap paket berisi kebutuhan pokok sehari-hari, sarung, serta uang tunai. Para penerima merupakan pekerja sektor informal yang selama ini berperan penting menjaga kebersihan kota, namun kerap luput dari perhatian.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan shalat Tarawih berjamaah di kediaman Prof. Djanggan, salah satu tokoh KAGAMA Malang Raya. Suasana kebersamaan terasa hangat, dihadiri oleh banyak anggota KAGAMA lintas generasi.

“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Yang terpenting, semoga apa yang kami lakukan ini membawa manfaat dan keberkahan, baik bagi penerima maupun bagi para donatur,” ujar ketua panitia kegiatan Pak Tibyani.
Melalui kegiatan ini, KAGAMA Malang Raya menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, menghidupkan nilai-nilai kerakyatan, pengabdian, dan kepedulian sosial—nilai yang menjadi ruh Universitas Gadjah Mada sejak awal berdiri.