Air Bersih Jadi Nyawa di Aceh Tamiang: Dari Gang-Gang Terpencil, Relawan Kagama Care Menggerakkan Program WASH

Air Bersih Jadi Nyawa di Aceh Tamiang: Dari Gang-Gang Terpencil, Relawan Kagama Care Menggerakkan Program WASH

Aceh Tamiang — Sepekan lebih setelah banjir bandang meluluhlantakkan permukiman di Kabupaten Aceh Tamiang, antrean jerigen kembali mengular di sejumlah titik pengungsian dan kampung—dari Lubuk Sidup sampai Sukajadi. Di tengah lumpur pekat dan pasokan air perpipaan yang belum pulih, warga menunggu truk air dan unit filtrasi bergerak. Foto-foto dari lapangan menunjukkan betapa krisis air bersih masih menjadi pekerjaan rumah utama di hari-hari pemulihan.

Nut Graf: Mengapa Ini Penting

Krisis air bersih pascabencana menjadi titik kritis yang menentukan kesehatan, kebersihan, dan ketahanan warga untuk bangkit. Tim Kagama Care—melalui Program WASH (Water, Sanitation, and Hygiene)—memproduksi air bersih dari posko, mendistribusikannya ke kampung-kampung yang sulit diakses truk PDAM, serta melakukan normalisasi (pengurasan) sumur warga. Dalam periode 14–27 Desember 2025, tim mencatat kapasitas produksi hingga 10.000 liter/hari dari sumber sumur bor di Ponpes Abu Halif; total distribusi 31.000 liter ke 5.498 KK (16.494 jiwa) di berbagai titik Rantau, Kejuruan Muda, Bendahara, Sekerak dan sekitarnya; serta pengurasan sumur yang baru efektif di 4 titik karena akses tertutup lumpur dan keterbatasan moda.

Skala Bencana: Dari Sungai Tamiang ke Ribuan Pengungsi

Data resmi sepanjang Desember 2025 menggambarkan skala kerusakan yang luas. BNPB merekap lebih dari 1.100 korban jiwa di Aceh dan Sumatra, dengan ratusan ribu pengungsi; Aceh Tamiang termasuk kabupaten terdampak paling berat dan menjadi pengusul hunian sementara (huntara) terbanyak—sekitar 13.000 unit.
Analisis morfologi DAS Tamiang menunjukkan bentuk “leher botol” (bottleneck): hulu luas menyempit di hilir, menyebabkan akumulasi debit air di wilayah permukiman—memperparah risiko banjir bandang, terlebih saat material kayu dari hulu terbawa arus.

Hujan Masih Tinggi, Risiko Kembali Menguat

BMKG memperingatkan curah hujan intens di Aceh hingga 27–30 Desember 2025, memicu potensi banjir susulan, genangan, dan longsor. Kondisi atmosfer—dari Monsun Asia hingga belokan angin/konvergensi—mendukung pertumbuhan awan hujan; Aceh Tamiang berada di antara wilayah yang diprediksi masih diguyur hujan lebat.

Pasokan Perpipaan Terputus, Sumur Tertutup Lumpur

PDAM di sejumlah daerah Aceh dilaporkan mengalami kerusakan sumber air dan jaringan, membuat layanan terhenti—sebagian intake rusak, alur sungai berubah, dan distribusi bahan kimia pengolahan air terganggu. Situasi ini mempertegas kebutuhan air bersih alternatif di permukiman, posko, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
Platform koordinasi kemanusiaan menyebut air bersih sebagai kebutuhan paling mendesak karena jaringan PDAM belum berfungsi, sementara sumur warga tertutup lumpur dan distribusi tidak merata.

Upaya Pemerintah: Pengeboran 27 Sumur di Aceh Tamiang

BNPB—bersama TNI/Polri dan relawan—melakukan pengeboran 27 sumur di Aceh Tamiang untuk mengatasi krisis akses air bersih sambil menunggu pemulihan jaringan PDAM. Operasi pembersihan kawasan terdampak juga digenjot dengan alat berat bekerja hingga malam untuk membuka akses vital, termasuk pesantren dan jalan nasional.

Di Lapangan: Tiga Sumbu WASH Kagama Care

1) Produksi air bersih di posko Kagama Care.
Air bersih diolah setiap hari untuk kebutuhan masak/minum relawan dan warga sekitar posko. Kapasitas produksi harian mencapai 10.000 liter dari sumur bor Ponpes Abu Halif—sebuah simpul suplai yang menjaga kontinuitas layanan dasar.

2) Distribusi ke kampung-kampung sulit akses.
Dengan pickup dan tangki 2.000 liter, tim mengirim total 31.000 liter ke titik-titik seperti Sukajadi (Karang Baru), Landuh (Rantau), Teluk Kemiri (Bendahara), Lubuk Sidup (Sekerak), Durian (Rantau), Sungai Liput (Kejuruan Muda), hingga posko pesantren. Distribusi ini menyentuh 5.498 KK/16.494 jiwa, memprioritaskan domisili yang berada di gang/pedalaman.

3) Normalisasi/pengurasan sumur.
Pengurasan dilakukan di 4 titik (antara lain Sukajadi, Kantor Pos, Dusun Salam–Desa Babo), namun terkendala akses tertutup lumpur, keterbatasan moda, dan rembesan genangan yang terus masuk ke dinding sumur.

Angka Kunci WASH Kagama Care (14–27 Desember 2025)

  • Produksi posko: hingga 10.000 L/hari (sumur bor SDIT Abu Halif).
  • Distribusi: 31.000 L ke 5.498 KK / 16.494 jiwa di 12+ lokasi.
  • Normalisasi sumur: 4 titik efektif; banyak lokasi belum bisa karena akses dan genangan.

Catatan standar: Pedoman Sphere 2018 menetapkan kebutuhan minimum ≈15 liter/orang/hari untuk memenuhi keperluan dasar (minum, masak, kebersihan). Angka distribusi Kagama Care bersifat tambahan dan melengkapi suplai dari pemerintah/relawan lain (drilling sumur, airdrop, truk PDAM), bukan satu-satunya sumber.

Tantangan di Lapangan: Data, Akses, Kapasitas

Evaluasi tim di Aceh Tamiang menyoroti tiga perkara:
(a) cakupan terdampak sangat luas dan posko tersebar, menyulitkan pendataan akurat dan penentuan target; (b) kapasitas distribusi air bersih terbatas dibanding permintaan; (c) normalisasi sumur terkendala akses berlumpur dan genangan yang merembes terus—sehingga sumur cepat kembali tercemar.

Konteks di luar itu pun memperberat kerja lapangan: curah hujan masih tinggi (BMKG), material kayu gelondongan menutup fasilitas publik (ANTARA/AFP), dan akses jalan nasional baru dibuka bertahap melalui operasi alat berat lintas lembaga.

Dimensi Sosial: Air, Kebersihan, dan Pemulihan Martabat

Satu bulan setelah banjir, laporan dari lapangan menunjukkan air bersih dan listrik sebagai kebutuhan mendesak warga untuk kembali beraktivitas, membersihkan rumah, dan memulai usaha kecil yang sempat terhenti. Penyaluran bantuan pangan tidak lagi rutin di sebagian lokasi, sehingga pasokan air menjadi penyangga penting kebersihan, kesehatan, dan semangat pemulihan.

Apa Selanjutnya: Rekomendasi Berbasis Standar

Pertama, lanjutkan drilling sumur di titik-titik padat pengungsi dan kampung yang belum terlayani, sembari mempercepat rehabilitasi PDAM (intake, pipa, bahan kimia).
Kedua, tingkatkan armada distribusi (tangki 2.000–5.000 L) dan tandon komunal di posko kecil untuk meratakan persebaran air bersih.
Ketiga, matangkan pendataan terpadu lintas posko agar suplai mengikuti kebutuhan real-time (jumlah KK/jiwa, status kesehatan, prioritas kelompok rentan).
Keempat, dukung edukasi WASH (cuci tangan, pengolahan air rumah tangga, pengelolaan limbah) dengan paket hygiene kit sesuai Sphere—termasuk kebutuhan spesifik perempuan/lansia/disabilitas.

Kebijakan Makro: Hunian Sementara, Pemulihan, dan Mitigasi

Di tingkat kebijakan, BNPB memprioritaskan percepatan bantuan dasar dan pembangunan huntara untuk warga yang rumahnya rusak berat/hanyut—termasuk usulan lahan HGU yang siap difungsikan di Aceh Tamiang. Kebijakan ini perlu “dikawinkan” dengan pemulihan air bersih dan sanitasi sebagai layanan dasar.
Pascabencana, penting memastikan kebijakan tata guna lahan di DAS Tamiang—agar bottleneck hilir dan deforestasi tidak terus memperbesar risiko banjir bandang di masa depan.

Epilog

Di antara tumpukan lumpur dan puing kayu yang baru sebagian teratasi, air bersih adalah harapan yang paling sederhana sekaligus paling mendesak. Program WASH Kagama Care menunjukkan bahwa pelayanan dasar bisa menembus gang-gang sempit yang luput dari truk besar—mengembalikan martabat melalui segelas air layak di tanggan warga. Kerja bersama pemerintah, komunitas, dan relawan memperlihatkan bahwa pemulihan bukan sekadar membangun hunian dan jaringan listrik, tetapi memastikan air kembali mengalir—dengan mutu, kuantitas, dan jangkauan yang adil.

Catatan Redaksi (Data & Referensi Utama)

  • Laporan Kegiatan WASH Kagama Care — Aceh Tamiang (14–27 Desember 2025): kapasitas produksi posko 10.000 L/hari; distribusi 31.000 L untuk 5.498 KK/16.494 jiwa; normalisasi sumur efektif di 4 titik; lokasi utama distribusi dan kendala lapangan.
  • BNPB/Media: skala bencana, korban, pengungsi, progres huntara; Aceh Tamiang pengusul terbanyak; curah hujan tinggi menghambat pemulihan.
  • BMKG: peringatan dini hujan lebat berlanjut di Aceh termasuk Aceh Tamiang sepanjang 25–30 Desember 2025.
  • PDAM/Perpamsi: kerusakan sumber air dan jaringan; layanan terhenti di sejumlah daerah; kebutuhan bahan kimia terhambat.
  • UNOCHA/IHCP: air bersih paling mendesak; PDAM tidak berfungsi; sumur warga tertutup lumpur; persebaran air tidak merata.
  • BNPB (operasional): pengeboran 27 sumur di Aceh Tamiang; operasi alat berat pembersihan jalan dan fasilitas publik hingga malam.
  • Sphere 2018: standar minimum air bersih ≈15 L/orang/hari untuk keperluan dasar WASH.
  • Latar morfologi: DAS Tamiang “leher botol” membuat hilir rentan akumulasi debit; material kayu gelondongan memperparah dampak.