KAGAMA Perkuat Dukungan UGM untuk Korban Gempa Manggarai

YOGYAKARTA, KAGAMA.ID — Di tengah masih berlangsungnya gempa susulan yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kebutuhan layanan kesehatan, pengungsian, dan dukungan psikososial menjadi tantangan utama yang dihadapi masyarakat terdampak. Situasi tersebut mendorong Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) memperkuat koordinasi respons kemanusiaan bersama berbagai mitra, termasuk Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), untuk memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Sejak hari-hari awal pascabencana, DPKM UGM melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Rumah Sakit Akademik UGM (RSA UGM), RSUP Dr Sardjito, Pengda KAGAMA NTT, serta Bidang Pengabdian Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan Hidup (PM & PLH) PP KAGAMA. Kolaborasi tersebut difokuskan pada pendataan, pemetaan kebutuhan, penyiapan relawan, dan penyusunan langkah respons yang terkoordinasi agar dukungan yang diberikan dapat berlangsung cepat, tepat sasaran, dan bermanfaat bagi proses pemulihan masyarakat.

Bencana yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) itu menjadi salah satu gempa terbesar yang melanda Flores dalam beberapa tahun terakhir. Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan pengungsian dalam skala luas. Hingga 16 Agustus 2026, BNPB mencatat sedikitnya 53 korban meninggal dunia, lebih dari 100 korban luka, serta ribuan warga masih bertahan di lokasi-lokasi pengungsian.

Data BNPB juga menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya dirasakan oleh masyarakat, tetapi juga melumpuhkan berbagai fasilitas publik. Ratusan rumah mengalami kerusakan, sementara fasilitas kesehatan, sekolah, kantor pemerintahan, rumah ibadah, dan infrastruktur pendukung lainnya turut terdampak. Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerusakan paling signifikan.

Dalam rapat koordinasi yang melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, rumah sakit akademik, dan jejaring alumni, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai menyampaikan bahwa sektor kesehatan saat ini menghadapi tekanan luar biasa. Sebanyak 25 puskesmas terdampak gempa, dengan sejumlah bangunan mengalami kerusakan berat berupa retakan struktural hingga runtuh sehingga pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan optimal.

Kondisi paling berat dilaporkan terjadi di wilayah utara Kabupaten Manggarai. Di sejumlah daerah, masyarakat masih bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan di sekitar rumah masing-masing karena khawatir terhadap gempa susulan yang masih terus terjadi.

Dalam situasi tersebut, kebutuhan yang paling mendesak justru adalah tenaga medis dasar. Dokter umum dibutuhkan untuk melakukan pelayanan kesehatan primer, skrining kesehatan pengungsi, serta mendukung operasional posko kesehatan yang tersebar di berbagai lokasi terdampak. Saat ini Posko Reo yang menjadi salah satu pusat layanan kesehatan utama baru didukung oleh dua dokter umum sehingga diperlukan tambahan tenaga medis untuk didistribusikan ke berbagai posko lainnya.

Selain dokter umum, Kabupaten Manggarai juga masih membutuhkan dokter spesialis anestesi dan bedah. Dukungan dokter ortopedi dan dokter bedah memang telah datang dari Surabaya, namun kebutuhan tenaga kesehatan di lapangan masih jauh dari memadai untuk melayani masyarakat terdampak.

Sementara itu, RSUD Ruteng tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat meski harus memanfaatkan fasilitas darurat berbasis tenda. Pemerintah melalui BNPB telah menyiapkan pembangunan rumah sakit lapangan guna memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap berjalan selama proses pemulihan fasilitas kesehatan berlangsung.

Tidak hanya sektor kesehatan yang menghadapi tantangan. Berdasarkan laporan lapangan, wilayah utara Kabupaten Manggarai juga membutuhkan tambahan tenda pengungsian karena banyak warga belum berani kembali ke rumah mereka. Gempa susulan yang terus terjadi membuat kebutuhan tenda, baik untuk pengungsi maupun operasional posko pelayanan, terus meningkat.

Kebutuhan logistik dasar juga masih sangat besar. Pengajuan bantuan beras telah mencapai sekitar 31 ton dan diperkirakan terus bertambah. Selain itu, masyarakat membutuhkan obat-obatan, selimut, tempat tidur lapangan (velbed), toilet portabel, genset untuk daerah yang mengalami pemadaman listrik total, serta perangkat komunikasi seperti handy talky (HT) untuk mendukung koordinasi lapangan.

Kondisi tersebut sejalan dengan data BNPB yang menunjukkan bahwa kebutuhan mendesak masyarakat terdampak mencakup pemenuhan kebutuhan dasar di pengungsian, layanan kesehatan, logistik pangan, air bersih, tenda darurat, dan perlengkapan penunjang kehidupan sehari-hari.

Di luar kebutuhan fisik, rapat juga menyoroti dampak psikologis yang dialami masyarakat, terutama anak-anak. Banyak anak menjadi korban terdampak dan masih harus menjalani kehidupan di lingkungan pengungsian. Karena itu, program healing crisis, dukungan psikososial, dan pendampingan pemulihan trauma dipandang sebagai bagian penting dari respons kemanusiaan yang perlu segera dilakukan.

Pada saat yang sama, UGM bersama jejaring rumah sakit akademik nasional tengah menyiapkan dukungan yang lebih terstruktur. Berdasarkan hasil koordinasi rumah sakit akademik, wilayah Bajawa akan didukung oleh UGM bersama RSUP Dr Suharso, sedangkan wilayah Ruteng mendapat dukungan dari RSCM Jakarta dan RSUD Dr Soetomo Surabaya.

FKKMK UGM, RSUP Dr Sardjito, dan RSA UGM telah menyatakan kesiapan untuk mendukung kebutuhan lapangan berdasarkan hasil asesmen yang terus diperbarui. Salah satu fokusnya adalah penyediaan tenaga kesehatan yang dapat segera diterjunkan sesuai kebutuhan pemerintah daerah.

Selain dukungan tenaga kesehatan, DPKM UGM juga mulai menyiapkan skema KKN Peduli Bencana. Sejumlah mahasiswa KKN yang sebelumnya berada di wilayah NTT telah ditarik, sementara pelaksanaan KKN-PPM Periode III yang direncanakan berlangsung pada Oktober mendatang sedang dipetakan untuk mendukung proses tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.

Mahasiswa profesi dan koas dari bidang kesehatan menjadi salah satu potensi sumber daya yang sedang diidentifikasi untuk mendukung pelayanan kemanusiaan. Direktorat Kemahasiswaan UGM juga mulai menyisir potensi relawan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan untuk dilibatkan dalam program kemanusiaan secara terkoordinasi.

Untuk memperkuat upaya tersebut, KAGAMA mengambil peran sebagai mitra pendukung melalui jejaring alumni yang tersebar di berbagai daerah. Bersama Pengda KAGAMA NTT, PP KAGAMA membantu memperkuat pendataan kebutuhan, membangun komunikasi dengan posko-posko lapangan, serta menggalang dukungan kemanusiaan dari alumni UGM di seluruh Indonesia.

Dukungan KAGAMA difokuskan pada penguatan sumber daya yang dibutuhkan dalam fase tanggap darurat maupun pemulihan awal, termasuk bantuan kesehatan, logistik dasar, kebutuhan pengungsi, serta dukungan bagi pelaksanaan program kemanusiaan yang dikoordinasikan bersama UGM dan pemerintah daerah.

Koordinasi dengan KAGAMA NTT menjadi penting karena jejaring alumni di daerah memiliki akses langsung terhadap perkembangan kondisi lapangan, kebutuhan masyarakat, serta mekanisme distribusi bantuan yang paling efektif dan tepat sasaran.

Bagi UGM dan KAGAMA, bencana di Manggarai bukan hanya persoalan kerusakan bangunan dan infrastruktur. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan kesehatan, perlindungan sosial, dukungan psikososial, serta pendampingan selama masa pemulihan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, DPKM UGM, rumah sakit akademik, KAGAMA, komunitas alumni, dan masyarakat sipil menjadi fondasi penting untuk memastikan proses tanggap darurat berjalan efektif sekaligus membuka jalan bagi pemulihan yang berkelanjutan bagi masyarakat Flores yang terdampak gempa.