Kagama Teater Plus Persembahkan Lakon “Dandang Gula di Hutan Tambak Baya” pada Event Pentas Rebon TBY, Pukau 1.000 Lebih Penonton

Kagama Teater Plus pentaskan fragmen dengan lakon“Dandang Gula di Hutan Tambak Baya” pada event Pentas Rebon yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (22/4). Kisahnya bersumber dari novel silat legendaris“Nagasasra Sabuk Inten” karya penulis produktif S.H. Mintardja.

Sekedar informasi, Pentas Rebon adalah agenda rutin TBY yang sudah berlangsung selama sekitar satu dekade, dihelat 3 kali selama setahun dan selalu mengambil hari Rabu Wage. Satu malam digelar 3 pertunjukan dengan genre yang berbeda, yaitu teater, ketoprak, dan dagelan, di mana masing-masing grup tampil selama sekitar 40 menit.

Pentas sengaja mengusung nama Kagama Teater Plus, karena Kagama Teater tidak tampil sendirian, namun berkolaborasi dengan aktor-aktor panggung top Jogjakarta. Selain itu juga melibatkan anak-anak binaan TBY lewat programnya Art for Children.

Penulis naskah “Dandang Gula di Hutan Tambak Baya”, Ikun Sri Kuncoro sangat pintar meramu cerita. Ia berhasil memunculkan semua tokoh-tokoh penting dalam buku “Nagasasra Sabuk Inten”, seperti Mahesa Jenar, Roro Wilis, Pasingsingan, Ki Pandan Alas, Jaka Soka, dan Lawa Ijo dalam satu frame.

Kemudian sutradaranya yang juga merupakan ketua Kagama Teater, Patah Ansori, berhasil menciptakan sebentuk “teater modern Indonesia”, berbahasa Indonesia, yang merawat hubungan persaudaraannya dengan ekspresi seni, budaya tradisional ketoprak, tembang macapat Jawa, serta dagelan. Selain itu pertunjukan juga diwarnai koreografi teatrikal yang bertumpu pada gerak-gerak silat dan tari Jawa yang indah.Tak ayal begitu pertunjukan berakhir, lebih dari 1.000 penonton memberikan apresiasinya yang sungguh luar biasa.

Seusai pementasan, Patah tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya dengan diberinya kepercayaan Kagama Teater untuk ikut berpartisipasi pada event Pentas Rebon TBY. Ia juga merasa mendapat kehormatan banyak aktor panggung top Jogjakarta yang bersedia mendukung pementasan.

“Terima kasih kepada panitia Pentas Rebon TBY yang telah memberi kepercayaan kepada kami untuk mengisi event yang keren ini. Selain itu matur nuwun juga kepada kawan-kawan aktor yang sudah berkenan ikut pentas,” tuturnya.

Patah menambahkan, sengaja pentas menampilkan beberapa karakter pengawal wanita yang berwatak berani, karena waktu pertunjukan berdekatan dengan Hari Kartini. Untuk memberikan kesan bahwa wanita itu bukan makhluk yang lemah dan ketakutan ketika ditindas, namun sangat tangguh dan bermental baja, serta sanggup menjadi garda terdepan dalam menentang ketidakadilan.

Selain itu, Patah menggarisbawahi keikutsertaan adik-adik binaan TBY sebagai pembuka pentas. Ia memuji langkah TBY lewat program Art for Children-nya yang telah memberikan ruang buat anak-anak dalam mengembangkan kreativitasnya. Ia menilai sangat bagus anak diberi diberi wahana untuk bermain, bersenang-senang, sekaligus mengasah bakatnya.

Penampilan anak-anak binaan TBY sebagai pembuka acara

“Kolaborasi anak-anak dalam membuka pentas kami sangat kami apresiasi. Semoga mampu membuka wawasan mereka akan seni pertunjukan teater sedari dini,” pungkasnya.