Adinindyah, Alumnus Arsitektur yang Mengembangkan Tenun Tradisional Indonesia melalui Pemberdayaan Perempuan

Bagi Adinindyah, alumnus Teknik Arsitektur UGM angkatan 1991, hidup mengalir begitu saja apa adanya. Kepada media kagama.id yang menemuinya di tempat kerjanya di daerah Krapyak, Sewon, Bantul, ia mengakui tidak menyangka jika garis hidupnya akhirnya bermuara ke dunia pelestarian tenun, mengingat basis ilmunya adalah arsitektur. Perempuan yang akrab disapa Nin itu menyebut Lawe Indonesia, perusahaan pengembang tenun tradisional yang didirikan bersama keempat temannya, juga lahir dari sebuah proses yang mengalir secara alami. Lawe terbentuk bukan dirancang secara muluk-muluk, namun karena timbulnya kesadaran para pendirinya agar tenun tradisional nusantara tetap terjaga eksistensinya dan semakin dinamis perkembangannya.

Awal mula berdirinya Lawe adalah ketika Nin bertemu dengan Ita Natalia yang sama-sama terlibat dalam pendampingan mengenai kain tenun tradisional di Sumba Timur pada bulan Januari 2004. Pada akhir tugas mereka berdua baru menyadari bahwasanya kain tenun Sumba sebenarnya menyimpan banyak potensi, namun belum terpikirkan untuk menggarap pasarnya. Para penenun Sumba pada waktu itu menenun ya hanya sekedar menenun. Produk dijual ketika membutuhkan uang saja. Bahkan terkadang mereka menjualnya dengan harga yang terlalu murah.

Mengapa akhirnya menggarap lurik Yogyakarta? Ceritanya saat itu Nin menikah pada bulan Februari 2004, dan tak lama kemudian hamil. Jadi pekerjaan di Bogor tidak diperpanjang kontraknya, dan Nin balik Yogyakarta untuk istirahat.

Karena salah satu pendiri Lawe yang biasa mengembangkan produk, Westiani Agustin tinggalnya di Yogyakarta, akhirnya diputuskan membuat workshop tenun yang berbasis di kota kelahiran mereka. Dari sini mereka mulai mencari tahu tradisi tenun di Yogyakarta. Barulah mereka paham, kalau lurik adalah termasuk tenun tradisional Yogyakarta.

“Permasalahannya kain tenun lurik identik dengan rakyat kecil karena banyak digunakan oleh kusir andong dan buruh gendong. Lurik juga identik dengan kesan kuno karena warna-warna yang digunakan. Kalau begini terus tidak akan berkembang pasarnya,” ucap Fitria Werdiningsih, Communication Manager Lawe, yang ikut mendampingi Nin saat wawancara.

Nin menambahkan, “Para founder Lawe melihat negara tetangga seperti Filipina, Thailand, Kamboja, atau Vietnam lebih kreatif dalam mengembangkan tenun. Kita boleh dibilang saat itu belum banyak mengembangkan tenun menjadi produk fungsional.”

Dari pemikiran seperti itulah, berlanjut diskusi demi diskusi yang intens. Hingga pada akhirnya pada akhir tahun 2004, Nin, Ita, Westiani, plus 2 orang kawan mereka, yaitu Rita Anita dan Paramita Iswari memutuskan untuk memulai sebuah usaha yang bertujuan mengangkat dan mengembangkan tenun tradisional Indonesia.

Disepakati brand yang dipilih adalah Lawe, berasal dari Bahasa Jawa yang yang memiliki makna serat alam yang ditenun. Sesuai namanya, Lawe memiliki tujuan untuk melestarikan kain tenun tradisional. Tujuan mulia tersebut menjadi penyemangat Lawe untuk menjadi pelopor gerakan pelestarian tenun tradisional Indonesia dan menjadi penyedia beragam produk berbahan kain tenun yang berkualitas tinggi.

“Lawe mencoba menjembatani penenun lurik dengan pasar modern. Mulai dengan melayani permintaan kain tenun lurik dengan warna cerah, hingga mengubah lurik menjadi produk modern fungsional seperti tas, dompet, tempat laptop, dll,” ucap Nin.

“Perlu dicatat, lurik ‘hanya’ salah satu dari sekian banyak jenis tenun tradisional Indonesia yang ingin didukung Lawe untuk lebih maju dan mampu menjawab tantangan jaman serta permintaan pasar masa kini. Jadi yang digarap lawe bukan hanya lurik saja, tetapi lebih luas lagi yaitu tenun tradisional Indonesia,” imbuh Nin.

Konsep modernisasi warna yang ditawarkan Lawe kepada penenun tradisional di Yogyakarta, pada awalnya mendapat penolakan. Karena memang susah merubah kebiasaan lama selama bertahun-tahun, dan juga mereka takut tidak laku produknya. Namun setelah pasar menerima dengan baik, mereka tertarik mencobanya dan tak segan-segan bermain-main dengan corak dan warna kontemporer.

Meski usahanya sudah menampakkan hasil bagus, namun Lawe tidak mau terjebak menjadi stagnan. Nin dkk selalu mencoba berkreasi dan berinovasi menciptakan desain-desain baru. Terakhir mereka menciptakan motiv yang terinspirasi oleh warna bulu burung endemik Indonesia, seperti burung gelatik jawa. Nin mengatakan Lawe ke depannya akan terus berimprovisasi mencari sumber inspirasi dari alam, seperti bunga anggrek yang sangat bervariasi warnanya.

Menurut Nin, Lawe bukanlah perusahaan yang berbisnis mencari keuntungan semata. Sejak awal berdiri Lawe sudah mencanangkan dirinya sebagai community social enterprise. Keuntungan yang digunakan untuk kegiatan sosial bukanlah hanya sebagian kecil yang dipakai untuk dana CSR, namun bisa dikatakan bisnis Lawe hasilnya untuk membiayai program mereka yang bermacam-macam.

Nin mengatakan selama ini Lawe secara rutin menggelar program-program yang bermanfaat buat masyarakat, seperti pelatihan untuk umum yang bukan hanya di Yogyakarta saja akan tetapi sudah merambah ke Sumatra, Kalimantan, Bali dan NTT. Untuk Yogyakarta, umumnya pelatihan membuat tenun tradisional menjadi produk fungsional. Untuk luar Jawa, melatih pengrajin dan penenun agar produknya memenuhi standar dan mendorong mengembangkan motiv. Biasanya Lawe bekerja sama dengan lembaga atau instansi terkait di lokasi pelatihan.

Lalu Lawe juga mengembangkan program weaving advocate, yaitu mendidik relawan yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum untuk secara gencar melakukan kampanye atau promosi tenun ke mana-mana, khususnya lewat media sosial. Selama ini untuk program tersebut Lawe telah bekerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi seperti Jurusan Teknik Arsitektur UGM, Fakultas Komunikasi UAJY, UKDW, Unpar, dan Hiroshima University of Economic (bekerja sama dengan FEB UGM).

Selain itu Lawe punya satu program lagi yang dinamakan “Sisterhood of Lawe”, yaitu sebuah program yang memberikan dukungan pada mereka yang memiliki passion yang sama seperti Lawe, yaitu melestarikan tenun Indonesia. Para sister ini dibantu untuk mewujudkan usaha kerajinan tenun mereka di daerahnya masing-masing.

“Mereka dapat mengirimkan kain tradisionalnya ke Lawe, kemudian kita akan berdiskusi mengenai branding, segmen pasar yang menjadi target, kemudian style produk yang diinginkan, dan Lawe akan membuatkan prototipe produknya, serta menghitungkan harga produksinya. Selanjutnya sister ini bisa memilih mana yang akan diproduksi. Lawe akan membantu produksinya, dan akan mengirimkan produk jadi kepada para sister, untuk kemudian mereka pasarkan sendiri. Sampai saat ini sudah ada 9 sister Lawe, tersebar dari Sumatra Utara hingga NTT,” jelas Nin.

Nin menegaskan, Lawe sebagai community social enterprise tidak bisa lepas dari misi sosial yang diusungnya, salah satunya adalah turut mengemban misi utama pemberdayaan perempuan. Lawe dalam hal ini menggunakan sebagian besar tenaga kerja perempuan, dan sistemnya sangat manusiawi yaitu menerapkan pendekatan mother friendly working hours dan emphatical design.

“Penjahit Lawe mayoritas perempuan dan bekerja di rumah, jadi jam kerjanya terserah mau jam berapa, yang penting target yang disepakati bisa terpenuhi. Target jumlah jahitan dan deadline juga kami konsultasikan ke mereka dulu,” jelas Fitria.

Sedangkan untuk empathical design, Fitria menjelaskan bahwa Lawe tidak memaksakan kemampuan pengrajin mereka. Apabila pengrajin hanya mampu menjahit lurus, maka tidak akan dipaksa membuat produk berbentuk melengkung.

“Kita tahu jika dipaksakan mereka akan tersiksa dan hasil tidak akan lolos quality control, jadi disesuaikan dengan kemampuan penjahitnya,” imbuh Fitria.

Mengenai pencapaian usahanya, Nin mengatakan bahwa Lawe merupakan perintis yang mengubah kain tradisional menjadi produk fungsional. “Dulu Lawe adalah pemain tunggal yang mengubah kain tenun tradisional menjadi produk fungsional dalam ajang Inacraft. Namun demikian, seiring berjalannya waktu banyak produsen yang melakukan hal serupa. Berarti Lawe bisa menjadi contoh untuk produsen lain. Meskipun itu berarti juga memunculkan kompetitor baru, tapi bukan masalah bagi kami. Betul kompetitor semakin banyak, namun kita tetap bisa mengambil sisi positifnya, yaitu beban kami semakin berkurang dalam hal pelestarian tenun tradisional,” ujar Nin.

Kemudian mengenai tantangannya ke depan, Nin menjelaskan tantangan terberat yang dihadapi Lawe adalah regenerasi. Menurutnya pekerjaan menenun kurang menarik minat kaum muda, mungkin karena hasilnya yang kurang memuaskan. Di Yogyakarta sendiri, sampai saat ini masih belum banyak program yang menggaungkan regenerasi penenun. Untuk itu Lawe berusaha meningkatkan pendapatan penenun, sehingga nantinya bisa memberikan penawaran yang menarik bagi generasi muda.

Di akhir wawancara, Nin mengatakan showroom Lawe yang berada di Jln. Krapyak Wetan 293, Sewon, Bantul sering dikunjungi orang-orang untuk melakukan studi banding. Nin mengakui sebenarnya mereka yang belajar ke Lawe belum mendapatkan hasil yang optimal, dikarenakan fasilitasnya yang belum memadai. Hal itulah yang mengilhami Nin dkk untuk mempunyai pusat edukasi tenun sendiri.

Tim Lawe Indonesia

“Kami bercita-cita menjadikan Lawe sebagai center of exellence untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan tenun. Doakan agar tak lama lagi bisa terealisasi,” pungkas Nin.