Syawalan Trah Gadjah Madan Mataram Raya Perkuat Silaturahmi Alumni dan Sinergi dengan UGM

Syawalan Trah Gadjah Madan Mataram Raya Perkuat Silaturahmi Alumni dan Sinergi dengan UGM

YOGYAKARTA, KAGAMA.id — Tradisi Syawalan menjadi ruang penting untuk merawat silaturahmi dan memperkuat ikatan kebangsaan. Hal itu tercermin dalam kegiatan Syawalan dan Silaturahmi Trah Gadjah Madan Mataram Raya yang digelar di Wisma Keluarga Alumni Gadjah Mada (Wisma Kagama), Sabtu (28/3/2026).

Kegiatan ini dihadiri alumni Universitas Gadjah Mada dari berbagai lintas angkatan, lintas fakultas, dan lintas entitas KAGAMA, yang berasal dari beragam daerah, komunitas, dan latar belakang profesi. Turut hadir pula jajaran pimpinan UGM serta Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA). Kehadiran yang begitu majemuk tersebut menegaskan kekhasan KAGAMA sebagai rumah besar alumni UGM yang inklusif dan cair, berbeda dengan komunitas alumni perguruan tinggi lain yang umumnya terfragmentasi pada ikatan fakultas atau angkatan semata.

Acara yang berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 13.00 WIB tersebut dikemas secara inklusif, memadukan nilai keagamaan, kebudayaan, dialog, dan kebersamaan. Lebih dari sekadar halal bihalal, Syawalan Trah Gadjah Mada Mataram Raya menjadi wahana mempererat jejaring alumni lintas generasi sekaligus menguatkan sinergi antara UGM dan KAGAMA dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan.

Tradisi Akademik dan Nilai Kebangsaan

Kegiatan dibuka dengan doa bersama, dilanjutkan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Hymne Gadjah Mada”. Rangkaian ini menegaskan posisi komunitas alumni UGM bukan hanya sebagai jejaring profesional, melainkan juga bagian dari ekosistem kebangsaan yang menjunjung nilai persatuan, integritas, dan pengabdian.

Dalam laporan panitia, Sulastama Raharja menyampaikan bahwa Syawalan Trah Gadjah Mada Mataram Raya merupakan agenda rutin tahunan yang terus dijaga keberlanjutannya. Tradisi ini dinilai efektif sebagai medium mempertemukan alumni lintas generasi dan lintas latar belakang dalam suasana egaliter dan penuh kehangatan—sebuah karakter yang menjadi ciri khas perjumpaan alumni UGM.

Wakil Ketua PP KAGAMA Prof. Paripurna P. Sugarda, dalam sambutannya, menegaskan pentingnya menjaga jejaring alumni sebagai kekuatan sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat.

“Silaturahmi ini bukan semata ritual tahunan, tetapi bagian dari praktik kebudayaan dan nilai yang kita rawat bersama. Dari ruang-ruang seperti inilah tumbuh kepercayaan, dialog, dan sinergi,” ujarnya.

UGM–KAGAMA: Sinergi Menghadapi Tantangan Zaman

Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada Arie Sudjito menekankan bahwa hubungan UGM dan KAGAMA merupakan kemitraan strategis yang perlu terus diperkuat di tengah dinamika global dan nasional.

Menurut Arie, berbagai tantangan—baik di bidang pendidikan tinggi, riset, maupun pembangunan bangsa—memerlukan kolaborasi erat antara perguruan tinggi dan alumni. Ia menegaskan bahwa integritas UGM sebagai institusi bertumpu pada nilai dan karakter yang dipegang bersama oleh sivitas akademika dan alumni.

“UGM mungkin belum sempurna, tetapi komitmen untuk terus berproses dan memperbaiki diri harus dijaga. Dalam situasi krisis nasional dan global, kita membutuhkan komunikasi yang elegan, solidaritas, dan saling menguatkan,” kata Arie.

Ia juga mengapresiasi KAGAMA sebagai mitra strategis yang selama ini aktif mendukung agenda tridarma perguruan tinggi, mulai dari pendidikan, riset, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Ruang Dialog dan Ekspresi Kebhinekaan

Salah satu ciri khas Syawalan tahun ini adalah dibukanya sesi dialog akrab antara peserta dengan pimpinan UGM dan KAGAMA. Peserta dari berbagai daerah dan wadah KAGAMA—termasuk KAGAMA wilayah Jawa Tengah dan DIY—memanfaatkan forum tersebut untuk berdiskusi secara terbuka mengenai peran alumni, kontribusi ke daerah, hingga peluang kerja sama ke depan.

Kehangatan acara juga tercermin dari keberagaman komunitas alumni yang hadir. Sejumlah komunitas menampilkan ekspresi seni dan kegiatan sosial, seperti komunitas tari dan senam, serta berbagi pengalaman mengenai pengabdian sosial, termasuk dukungan bagi komunitas penyintas kanker.

Keberagaman semakin terasa melalui busana Nusantara yang dikenakan peserta. Pada sesi ramah tamah, panitia memberikan apresiasi kepada peserta dengan busana daerah terbaik, menegaskan bahwa kebhinekaan bukan sekadar simbol, melainkan identitas yang hidup dan dirawat dalam jejaring alumni UGM.

Ikrar Syawalan: Merawat Tradisi dan Persaudaraan

Puncak acara ditandai dengan pembacaan Ikrar Syawalan, yang berisi komitmen untuk saling memaafkan, merajut persaudaraan, dan menjaga nilai-nilai luhur sebagai bagian dari identitas bersama.

Dalam ikrar tersebut, para peserta menyatakan tekad untuk terus memperkuat persaudaraan, menjunjung kerukunan, serta melestarikan tradisi sebagai fitrah dan warisan budaya. Ikrar juga ditutup dengan doa agar pertemuan tersebut menjadi wasilah turunnya keberkahan, kesehatan, dan umur yang bermanfaat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan berjabat tangan, foto bersama, serta makan siang dan hiburan, menandai penutupan rangkaian Syawalan Trah Gadjah Mada Mataram Raya 2026.

Merawat Kebersamaan, Menguatkan Peran Alumni

Syawalan Trah Gadjah Mada Mataram Raya tahun ini menunjukkan bahwa komunitas alumni tidak hanya berfungsi sebagai jejaring nostalgia, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang relevan. Dengan karakter KAGAMA yang inklusif—melintasi sekat fakultas, angkatan, dan kepentingan—ruang silaturahmi seperti ini menjadi penting untuk membangun kepercayaan, menyamakan visi, dan merumuskan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan semangat kebersamaan dan dialog, Syawalan menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Gadjah Mada—integritas, keberanian, dan pengabdian—tetap hidup dan terus diperjuangkan oleh alumni di mana pun berada.