NO HEALTH WITHOUT MENTAL HEALTH menggema di Pasraman Gurukula, Bangli.

NO HEALTH WITHOUT MENTAL HEALTH menggema di Pasraman Gurukula, Bangli.

Kesehatan mental adalah isu yang universal di seluruh kelompok usia dan gender.  Mengenalkan kesehatan mental sedini mungkin pada anak menjadi krusial untuk mendukung perkembangan anak secara maksimal. Anak-anak yang sehat mental akan tumbuh menjadi remaja yang tangguh, dewasa yang produktif, dan menua secara bermakna.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai suatu keadaan kesejahteraan di mana individu menyadari kemampuannya, dapat mengatasi stres hidup, bekerja secara produktif, dan memberikan kontribusi kepada komunitasnya. Kesehatan mental bukan hanya berarti tidak adanya gangguan mental, tetapi juga mencakup pengelolaan aspek emosional, psikologis, dan sosial yang mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku.

Kesehatan mental yang baik penting untuk kesejahteraan secara keseluruhan dan berkaitan erat dengan kesehatan fisik. Tercatat prevalensi gangguan mental di Indonesia mencapai 9,8% pada tahun 2021, dengan angka depresi mencapai 6,6%. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat di tahun 2024, terutama akibat dari dampak pandemi COVID-19 yang berkepanjangan.

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama yang dilaksanakan pada tahun 2022 mengukur angka kejadian gangguan mental pada remaja 10 – 17 tahun di Indonesia.  Datanya menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka ini setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja. Remaja dalam kelompok ini adalah remaja yang terdiagnosis dengan gangguan mental sesuai dengan panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Kelima (DSM-5) yang menjadi panduan penegakan diagnosis gangguan mental di Indonesia.

Fakultas Psikologi UGM yang sedang merayakan Dies Natalis ke 61 menyambut baik gagasan Kapsigama (Keluarga Alumni Psikologi Gadjah Mada) untuk bersama-sama keluar kandang mengenalkan kesehatan mental kepada anak dan remaja. Outreach program, begitu Pak Dekan menyebutnya. Bali dengan latar kultur yang berbeda dipilih menjadi tempat pengabdian masyarakat kali ini.

Foto : Kegiatan Diskusi Kesehatan Mental untuk Usia SMP – SMA

Foto : Kegiatan Diskusi Kesehatan Mental untuk Usia SMP – SMA

Foto Kegiatan Mengenalkan Kesehatan Mental untuk Usia TK

Foto Kegiatan Mengenalkan Kesehatan Mental untuk Usia SD

Foto Kegiatan Mengenalkan Kesehatan Mental untuk Usia SD

Foto Kegiatan Mengenalkan Kesehatan Mental untuk Usia SD

“Kami ingin mengenalkan lebih banyak lagi kesehatan mental kepada anak-anak dan remaja di Indonesia Timur. Tahun ini Fakultas dan Kapsigama memulainya dari Bali. Ke depan, bersama-sama alumni, semoga kami mendapat kesempatan untuk makin ke timur”, tutur Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D, Dekan Fakultas Psikologi UGM.  “Universitas Gadjah Mada (UGM) telah melahirkan lebih dari 375.000 alumni yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia maupun di luar negeri. bidang, baik di tingkat nasional maupun internasional. Luasnya jejaring alumni merupakan potensi untuk terus berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa”, imbuh Pak Dekan.

Foto : Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D, Dekan Fakultas Psikologi UGM

Prabaswara Dewi, Ketua Kapsigama menyampaikan bahwa Kapsigama memandang perlunya pengabdian sosial sebagai bentuk nyata kontribusi alumni kepada masyarakat dengan fokus pada penguatan kesehatan mental. Mempertimbangkan hal tersebut Kapsigama menginisiasi outreach program untuk menjangkau remaja dalam mempromosikan kesehatan mental dan berdiskusi bersama dengan para remaja untuk hal-hal yang penting bagi perkembangan kesehatan mental remaja. Diharapkan outreach program Kesehatan mental ini membuka wawasan dan kesadaran siswa mengenai Kesehatan mental, memberikan insight untuk membangun kekuatan diri dan saling menjaga satu sama lain. Lebih jauh program ini dapat menjadi awalan terbangunnya diskusi dan jejaring untuk anak dan remaja tentang kesehatan mental.

Foto : Prabaswara Dewi, Ketua Kapsigama

DR. Ni Made Swasti Wulanyani, S.Psi., M.Erg, Psikolog, selaku Ketua Panitia outreach Kesehatan Mental dan juga mewakili Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, juga sangat berbangga hati karena Prodi Psikologi Udayana turut berkontribusi. Diharapkan kerja bersama ini makin menguatkan jejaring alumni Prodi Psikologi di Universitas Udayana khususnya dan di Bali umumnya.  Bahkan Sekolah Cendikia Harapan dan alumni-alumni di Bali secara perorangan sangat bersemangat mendukung dan terlibat dalam program ini. Kegiatan ini semoga menjadi stimulasi kesadaran pentingnya kepekaan terhadap kesehatan mental sejak dini.

DR. Ni Made Swasti Wulanyani, S.Psi., M.Erg, Psikolog, Ketua Panitia outreach Kesehatan Mental

Outreach program bertempat di Yayasan Pasraman Gurukula, Bangli, Bali. Dilakukan hari Sabtu, 31 Januari 2026 mulai pukul : 9.00 WITA Seluruh siswa pasraman Gurukula dari TK – SMA menjadi peserta program Kesehatan mental ini.  Selama sehari siswa-siswa  TK – SMA Gurukula berkegiatan bersama Kapsigama serta dosen dan mahasiswa Prodi Psikologi Udayana.

Ketua Yayasan Pasraman Gurukula, I Wayan Arsada, S.Pd, M.Ag, menyambut baik outreach program Kesehatan mental untuk siswa ini. Kolaborasi ini diharapkan menjadi penggugah guru dan orang dewasa untuk sungguh-sungguh memperhatikan Kesehatan mental siswa.  “Saya juga berharap, ini akan membuka ruang-ruang diskusi lebih lanjut untuk Kesehatan mental anak-anak di sini”, ungkapnya. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa sekolah-sekolah berasrama sangat membutuhkan pendampingan dari Psikolog.

Foto : Ketua Yayasan Pasraman Gurukula, I Wayan Arsada, S.Pd, M.Ag

Sebagai rangkaian kegiatan outreach Kesehatan mental ini, dilakukan juga launching buku karya Alumni-alumni Fakultas Psikologi UGM. Dilanjutkan dengan penyerahan beasiswa Kapsi-sayang dari Kapsigama untuk mahasiswa Psikologi UGM yang membutuhkan.  Acara diakhiri dengan penanaman pohon manggis di halaman Pasraman Gurukula.

Foto : Simbolis penanaman pohon