
Mengerek Kelas UMKM Pesantren: Saat “Owner-Operator” Mlangi Menjemput Takdir Digital
SLEMAN, KAGAMA.ID— Di sebuah sudut Mlangi, Sleman, deru mesin jahit dan aroma kopi sangrai bukan sekadar bebunyian harian. Di sana, geliat ekonomi pesantren tengah bersiap meloncati pagar-pagar tradisional. Bukan lagi sekadar menjajakan barang dari kedai ke kedai, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di lingkungan Pesantren Aswaja Nusantara kini tengah meniti jembatan digital untuk memperluas cakrawala pasar.

Potret kesiapan ini terekam jelas dalam Laporan Analisis Kebutuhan Peserta Pelatihan Digital Marketing yang disusun sebagai pijakan strategis kolaborasi antara Pengurus Pusat KAGAMA dan Pondok Pesantren (PP) Aswaja Nusantara Mlangi. Program ini menjadi bagian dari agenda Pra-Khaflah Tasyakkur Akhirussanah, sebuah ikhtiar nyata alumni “Kampus Kerakyatan” untuk turun ke akar rumput.
Realitas Bisnis: Bukan Sekadar Hobi
Data survei terhadap 21 responden terpilih menunjukkan profil yang mengejutkan. Alih-alih didominasi santri usia sekolah, peserta justru didominasi kelompok usia produktif matang, yakni antara 28 hingga 56 tahun. Mereka adalah para owner-operators—pemilik sekaligus pengelola langsung—dengan kepemilikan usaha mandiri mencapai 90,5 persen.

”Ini adalah bisnis riil, bukan sekadar hobi pengisi waktu luang,” tulis laporan tersebut. Buktinya nyata: omzet usaha di ekosistem ini telah menyentuh angka hingga Rp60 juta per bulan. Sektor fashion, seperti Batik Tulis Luk Ulo dan Shitaa Fashion, memimpin dengan proporsi 38,1 persen, disusul sektor kuliner seperti Dapur 68 dan Kopi Rajabasa sebesar 28,6 persen.
Namun, di balik angka omzet yang menggiurkan, terdapat jurang lebar yang disebut digital gap. Sebanyak 76,2 persen peserta mengaku belum pernah mencicipi pelatihan pemasaran digital secara formal. Selama ini, mereka bergerak secara otodidak, terjebak dalam pola trial and error yang berisiko memicu kejenuhan atau burnout akibat strategi yang tidak terukur.
Strategi “Mobile-First
KAGAMA melihat peluang unik dalam keterbatasan. Berbeda dengan korporasi besar, ekosistem UMKM Mlangi adalah dunia dalam genggaman alias mobile-first. Ketergantungan pada smartphone dan koneksi seluler (4G) mencapai 76,2 persen, sementara penggunaan perangkat komputer (PC) atau website masih sangat minim.
”Kami tidak akan memberikan ‘alat berat’ yang sulit dioperasikan. Pelatihan ini dirancang agar semua strategi bisa dieksekusi langsung dari ponsel di tangan para pelaku usaha,” ungkap Iwan JP, tim perumus kurikulum KAGAMA.

Hal ini menjadi krusial mengingat tantangan di lapangan adalah soal waktu dan konsistensi. Para peserta mengeluhkan kebingungan visualisasi produk, ketidaktahuan akan algoritma, hingga keterbatasan waktu untuk mengelola konten di tengah kesibukan produksi.
Kurikulum Berbasis Solusi
Menjawab tantangan tersebut, KAGAMA menyusun peta jalan pelatihan dalam dua tahap strategis:
- Fondasi dan Visual: Membangun Unique Selling Proposition (USP) yang kuat dan teknik fotografi produk hanya bermodalkan ponsel melalui aplikasi seperti Canva atau CapCut.
- Distribusi dan Efisiensi AI: Memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) seperti ChatGPT untuk membantu mencari ide konten dan menulis caption otomatis. Langkah ini diambil demi efisiensi waktu bagi pemilik usaha yang sibuk.
Menariknya, kesiapan transaksi digital di Mlangi sudah sangat mapan. Sebanyak 66,7 persen pelaku usaha sudah terbiasa dengan sistem pembayaran tunai dan non-tunai (transfer bank/QRIS). Artinya, hambatan transaksi sudah minim; yang dibutuhkan kini hanyalah “pengeras suara” digital untuk menarik pelanggan baru.

Menuju UMKM Naik Kelas
Langkah PP Aswaja Nusantara yang menggandeng PP KAGAMA dalam pelatihan tingkat menengah ini adalah bentuk modernisasi pesantren tanpa kehilangan jati diri. Pendekatan yang digunakan bukan lagi teoretis, melainkan andragogi—pembelajaran orang dewasa yang praktis dan langsung berdampak pada bisnis.

Ketika Batik Luk Ulo, Jogjanesia, hingga Kopi Rajabasa mulai mengoptimalkan algoritma Instagram Reels atau TikTok Shop, mereka tidak hanya sedang berjualan. Mereka sedang membuktikan bahwa dari gang-gang sempit Mlangi, produk pesantren mampu bersaing di panggung nasional.
Kini, infrastruktur sudah siap, produk sudah valid, dan motivasi sedang di puncak. Tugas selanjutnya bagi KAGAMA adalah memastikan bahwa jembatan digital ini kokoh untuk dilewati para pejuang ekonomi pesantren menuju kemandirian yang berkelanjutan.