Gerakan Kemanusiaan Alumni Gelanggang Menggalang Donasi Peti Mati

Saat ini Covid-19 kembali merebak di mana-mana termasuk di Yogyakarta. Permasalahan yang timbul belakangan adalah dengan semakin banyaknya kasus positif yang meninggal dunia setiap harinya, membuat pasokan peti mati ikut terdampak. Sehingga membuat beberapa rumah sakit rujukan Covid-19 merasa kesulitan.

Kebetulan RSUP dr. Sardjito juga mengalami masalah akibat adanya kelangkaan peti mati. Dana untuk pengadaan jelas ada, namun karena pasokan dari rekanan yang sulit terpenuhi menjadi persoalan tersendiri untuk diatasi.

Capung Indrawan, penggagas awal donasi peti mati (Foto: Tom Blero)

Melihat fenomena yang terjadi, Capung Indrawan, alumnus Fisipol UGM yang merupakan mantan aktivis gelanggang, merasa terpanggil. Ia lalu menghubungi sejumlah alumni Gelanggang Mahasiswa UGM, berinisiatif membuat peti peti untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan RS Sardjito. Dan gayung pun bersambut, teman-teman gelanggang dengan antusias bersedia membantu.

Problemanya, meski di rumah Capung sudah ada fasilitas untuk workshop pertukangan, namun ia belum berpengalaman sama sekali membuat peti mati. Selain itu, belum ada bahan bakunya. Namun, Capung yang terkenal keteguhannya dan tekad kuatnya untuk urusan kemanusiaan, bukan menjadikan hal itu sebagai kendala. Paling tidak sampel harus dibuat lebih dulu agar tidak hanya menjadi sekedar wacana.

Dan akhirnya Capung berhasil membuat satu contoh peti berbahan papan multipleks miliknya dari pekerjaan lainnya. Peti yang sudah jadi kemudian dievaluasi, didiskusikan, diukur secara detil, dan dihitung kebutuhan bahan serta biayanya.

Kawan-kawan alumni gelanggang ikut membantu pembuatan peti mati (Foto: Tom Blero)

Ketika merasa sudah siap untuk memproduksi massal, mulailah dilakukan penggalangan donasi dari teman-teman dekat, khususnya sesama alumni gelanggang, untuk memproduksi peti mati lebih banyak lagi. Bantuan juga datang dari Kagama Care. Lalu, setelah informasinya disebar lewat media sosial seperti Facebook dan grup WA, sumbangan mulai berdatangan dari luar seperti Kagama Depok.

Ketika dana sudah dirasa mencukupi, produksi segera direalisasi, dikerjakan dari pagi sampai malam hari. Dalam pengerjaan, Capung dibantu oleh teman-teman alumni gelanggang, dan 3 tukang yang kompeten ilmunya. Juga melibatkan kawan-kawan Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L) UGM, untuk finishing dan distribusinya.

Penyerahan secara simbolis donasi peti mati kepada RS Sardjito (Foto: Herlambang Yudho)

Karena dikerjakan beberapa orang, maka lumayan cepat juga produksinya. Dan pada hari Jumat (9/7/2021) donasi peti mati tahap pertama telah diserahterimakan kepada pihak RS Sarjito sebanyak 15 unit. Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh komandan PK4L UGM, Arif Nurcahyo, dan diterima pihak rumah sakit yang diwakili oleh dr. Lipur Sp.Forensic, selaku penanggung jawab pemulasaran jenazah yang sedang bertugas.

“Kami melakukan penggalangan dana bukan untuk membeli peti mati, tapi untuk membeli bahan dan membuatnya sendiri.” jelas Herlambang Yudho, juru bicara alumni gelanggang dalam gerakan kemanusiaan tersebut, ketika dihubungi kagama.id di tempat produksi.

Herlambang Yudho, juru bicara kegiatan, ikut serta dalam proses pengerjaan peti mati (Foto: Erwin Octavianto)

“Gerakan ini kami lakukan, karena kami merasa prihatin dengan kondisi yang ada. Jenazah yang sudah disucikan atau dimandikan, harus menunggu sekian lama untuk bisa dimakamkan karena ketiadaan peti mati. Tenaga kesehatan yang mengurusi jenazah, tentu saja akan lebih terbebani, sementara risiko terinfeksi juga besar. Apa yang kami lakukan hanyalah sekedar ingin memperingan beban para nakes tersebut.” imbuh Herlambang.

Herlambang menambahkan, peti mati akan terus dibikin selama ada dana untuk produksi. Namun ia justru berharap bahwa produksi akan berakhir tidak lama lagi. Itu artinya ia mendoakan badai Covid segera berlalu dan korban yang meninggal karena pandemi tidak banyak lagi, sehingga permintaan terhadap peti mati sudah bisa terpenuhi.

“Untuk saat ini ketika permintaan peti mati begitu tinggi, saya berharap gerakan kami ini bisa diduplikasi di tempat lain, sehingga kebutuhan bisa tercukupi.” ujar Herlambang.

Setiap hari selalu saja ada teman-teman sukarelawan yang datang membantu (Foto: Tom Blero)

Sementara itu, Capung yang dihubungi di tempat yang sama, mengatakan ia hanya berupaya membantu sekedar yang bisa dilakukannya. Meski dalam kondisi ‘darurat’ jenazah tidak perlu dimasukkan dalam peti mati, dan bisa hanya dibungkus dengan kantong mayat, namun ia tetap kurang sreg karena ia berprinsip memuliakan mereka yang sudah meninggal sudah menjadi kewajiban kita yang masih hidup.

“Kami memproduksi peti mati sendiri untuk sekedar ikut membantu kelangkaan yang terjadi. Dan kami tidak bercita-cita menjadi sentra pembuatan peti mati, tapi hanya ingin menjadi proyek percontohan. Justru saya sangat senang apabila semua kampung di Yogyakarta bisa melakukan swadaya peti mati sendiri untuk warganya yang meninggal, seperti apa yang kami lakukan.” ujar Capung.

Saat ini pembuatan peti mati masih terus berlangsung di tempat workshop di pinggir jalan Ring Road Barat, Mlangi, Nogotirto, Sleman. Herlambang mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada semua pihak yang telah berkenan membantu, baik berupa donasi uang, menyumbang tenaganya, maupun hanya sekedar memberikan sumbang saran.

“Tidak ada kata sedikit untuk sebuah niat baik. Terbukti dari yang sedikit-sedikit itu terkumpul menjadi perbuatan baik yang besar. Keguyuban dan gotong royong meringankan perjuangan kita menghadapi pandemi. Sekali lagi terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah berkenan membantu. Mari kita bersama-sama ‘memuliakan kematian untuk menghargai kehidupan’.” demikian pungkas Herlambang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*