
Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Remu Ransiki meneguhkan komitmennya dalam membangun Tanah Papua melalui dukungan penuh terhadap pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kembali dilaksanakan di Kabupaten Manokwari pada tahun 2025. Program ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat harus berjalan beriringan dalam satu gerak pengabdian yang berkelanjutan.
Kehadiran KKN-PPM UGM di Manokwari bukanlah hal baru. Program ini telah lebih dulu hadir pada tahun-tahun sebelumnya dan meninggalkan jejak pengabdian yang bermakna bagi masyarakat. Melalui sinergi antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat lokal, KKN-PPM telah menjadi ruang pembelajaran sekaligus medan pengabdian yang menjawab tantangan nyata pengelolaan sumber daya alam di Papua Barat.
Kepala Balai BPDAS Remu Ransiki, Zayinul Farhi, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa dukungan BPDAS terhadap KKN-PPM UGM bukan sekadar dukungan administratif, melainkan komitmen ideologis untuk memastikan bahwa rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) benar-benar memberi manfaat nyata bagi rakyat. Sebagai alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1997, ia memandang KKN-PPM sebagai ruang strategis untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kehutanan yang berpihak pada keberlanjutan dan keadilan ekologis.
“Agroforestry adalah jalan tengah yang kuat antara menjaga hutan dan menghidupi masyarakat. Melalui KKN-PPM ini, kami mendorong lahirnya demplot-demplot ketahanan pangan sebagai bukti bahwa RHL bukan hanya menanam pohon, tetapi menanam harapan dan masa depan,” tegas Zayinul Farhi.
Dalam pelaksanaannya, BPDAS Remu Ransiki mendorong pengembangan demplot atau lahan percontohan agroforestry yang mengintegrasikan tanaman kehutanan dengan komoditas pangan dan bernilai ekonomi. Demplot ini diharapkan menjadi laboratorium lapangan, tempat mahasiswa belajar, masyarakat berdaya, dan ekosistem dipulihkan secara bersamaan.
Langkah ini sejalan dengan kerja sama strategis antara BPDAS Remu Ransiki dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Papua Barat, yang mendorong pemanfaatan hasil RHL berbasis ketahanan pangan. Arah kebijakan ini tidak berhenti pada penanaman, tetapi bergerak lebih jauh menuju hilirisasi produk hasil RHL, sehingga mampu menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan memperkuat ekonomi masyarakat sekitar hutan.
Melalui hilirisasi tersebut, rehabilitasi hutan dan lahan diharapkan menjadi motor penggerak pembangunan lokal, bukan hanya instrumen pemulihan lingkungan. RHL menjadi simbol perlawanan terhadap kerusakan, sekaligus wujud keberpihakan negara dan perguruan tinggi kepada masyarakat di tapak.
Melihat besarnya potensi dan dampak strategis kegiatan ini, BPDAS Remu Ransiki juga berencana mengusulkan kembali pelaksanaan KKN-PPM UGM di Manokwari pada tahun 2026. Usulan ini merupakan bentuk konsistensi dan komitmen jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan program pengabdian dan pengelolaan DAS yang berpihak pada masa depan Papua.
Kolaborasi antara BPDAS Remu Ransiki, Universitas Gadjah Mada, pemerintah daerah, Kadin Papua Barat, serta masyarakat menjadi fondasi kuat dalam membangun ketahanan pangan, memulihkan bentang alam, dan menumbuhkan harapan. Dari Manokwari, semangat pengabdian rimbawan kembali dinyalakan: menjaga hutan, menguatkan pangan, dan memuliakan manusia