
KAGAMA Dorong Lompatan Digital UMKM Pesantren: Dari Mlangi Menuju Ekosistem Ekonomi Berbasis Teknologi
SLEMAN — Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah lanskap ekonomi nasional, sebuah gerakan akar rumput tumbuh dari lingkungan pesantren. Pondok Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi menjadi panggung kolaborasi strategis antara PP KAGAMA, Indosat Ooredoo Hutchison, dan komunitas UMKM pesantren untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha kecil dalam menghadapi transformasi ekonomi digital. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Haflah Pesantren yang digelar pada 31 Januari 2026 dan diikuti peserta lintas profesi: santri, alumni, hingga warga sekitar.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan suasana belajar, tetapi juga memperlihatkan semangat baru pesantren dalam menafsir ulang perannya di tengah perubahan zaman. Gus Mustafid, Pengasuh PPM Aswaja Nusantara, menegaskan bahwa banyak UMKM memiliki produk berkualitas namun tak mampu menembus pasar digital karena keterbatasan pengetahuan pemasaran.
“Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan hambatan,” ujarnya dalam sambutan pembuka.
Setelah sambutan tersebut, hadir pesan kuat dari PP KAGAMA melalui Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat dan Pelestarian, Sulastama Raharja, yang menegaskan pentingnya kesiapan UMKM pesantren memasuki ekonomi digital.
“Di era ketika pasar bergerak secepat sentuhan layar, kemampuan digital bukan lagi keunggulan—melainkan syarat dasar bagi UMKM untuk bertahan. Melalui pelatihan ini, KAGAMA ingin memastikan para pelaku usaha pesantren tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai pemain yang percaya diri di panggung ekonomi digital Indonesia.”
— Sulastama Raharja
Kutipan ini menjadi penanda komitmen KAGAMA sebagai katalis perubahan—bukan sekadar fasilitator pelatihan.
Mengisi Celah Digital UMKM Pesantren
Selama ini UMKM pesantren dikenal sebagai motor ekonomi lokal, namun literasi digitalnya masih tertinggal. Data survei PP KAGAMA dalam Laporan Analisis Kebutuhan Peserta Pelatihan Digital Marketing menunjukkan bahwa meski 90,5 persen pelaku usaha adalah owner-operators, 76,2 persen di antaranya belum pernah mengikuti pelatihan digital formal. UMKM bergerak dengan pola coba-coba tanpa strategi jelas, sehingga mudah mengalami stagnasi dan burnout.

Padahal, omzet sebagian UMKM pesantren telah mencapai Rp 60 juta per bulan, terutama dari sektor fesyen (38,1 persen) dan kuliner (28,6 persen). Potensi besar ini membutuhkan sentuhan digital agar tidak berhenti di pasar lokal.
Di sinilah relevansi intervensi PP KAGAMA masuk. Dengan ekosistem Mlangi yang mobile-first, peserta diarahkan menggunakan strategi digital yang dapat dieksekusi langsung dari ponsel, bukan perangkat rumit.
“Kami tidak akan memberikan alat berat yang sulit dioperasikan,” jelas Iwan JP, tim kurikulum KAGAMA.
Pesantren sebagai Pusat Inovasi Sosial-Ekonomi
Pelatihan di Aula Pesantren Aswaja Nusantara ini mengusung format workshop interaktif: kurasi akun media sosial peserta, perencanaan strategi digital, hingga praktik membuat foto dan video promosi. Peserta berasal dari berbagai jenis usaha, seperti kuliner rumahan, kerajinan tangan, fesyen, hingga kedai kopi lokal.

Gus Mustafid kembali mengingatkan bahwa pesantren harus adaptif terhadap perubahan perilaku konsumsi.
“Produk UMKM kita sudah bagus. Masalahnya ada di pemasaran,” tegasnya.
Indosat dan KAGAMA: Sinergi Membangun Jembatan Digital
Kolaborasi dengan Indosat memperdalam dampak pelatihan. Melalui program CSR “GenSi”, Indosat telah lama mendorong literasi digital UMKM. Materinya mencakup branding, konten visual, hingga analisis performa media sosial—yang kemudian disesuaikan oleh PP KAGAMA agar aplikatif dan relevan bagi UMKM pesantren dengan sumber daya terbatas.
Pendekatan teknis ini menjadikan pelatihan lebih sistematis, terukur, dan dapat diulang oleh peserta di rumah atau tempat usaha mereka.
Menjemput Takdir Digital
Transformasi UMKM pesantren Mlangi memperlihatkan bahwa digitalisasi bukan lagi wacana elitis yang hanya hidup di kota besar, melainkan kebutuhan mendesak yang telah menyentuh ruang-ruang budaya dan religius di Indonesia. Pesantren yang selama ini dikenal menjaga tradisi, kini menunjukkan kesiapan menjadi pusat inovasi sosial-ekonomi.

Kolaborasi antara pesantren, KAGAMA, dan Indosat pada akhirnya bukan sekadar pelatihan, tetapi pijakan bagi lahirnya ekosistem ekonomi digital yang lebih inklusif—berbasis komunitas, berakar pada budaya, dan didorong oleh teknologi.
Penutup: Ketika Pesantren Bergerak, Ekonomi Rakyat Ikut Maju
Sebagaimana ditegaskan oleh Ajar Edi, Kepala Bidang Kerjasama & Hubungan Lembaga PP KAGAMA, pelatihan ini bukan hanya tentang menguasai keterampilan digital, tetapi menciptakan ekosistem kolaboratif yang menyejahterakan masyarakat luas.

“Kolaborasi antara pesantren, KAGAMA, dan berbagai mitra strategis seperti Indosat menunjukkan bahwa pemberdayaan UMKM membutuhkan kekuatan bersama. Kami di bidang kerjasama melihat pelatihan ini sebagai model sinergi yang harus diperluas, karena ketika pesantren bergerak, desa bergerak, dan ekonomi rakyat ikut terangkat.”
— Ajar Edi, Kepala Bidang Kerjasama & Hubungan Lembaga PP KAGAMA
Dengan seluruh kekuatan ini, Mlangi bukan hanya menjadi lokasi pelatihan—tetapi titik awal gerakan baru pemberdayaan ekonomi pesantren berbasis teknologi