
Merangkai Bahagia di Ramadhan ke‑18: KAGAMA Karanganyar Berbagi Beasiswa untuk Anak Yatim
Pagi yang hangat di Sabtu, 7 Maret 2026—tepat hari ke‑18 Ramadhan—halaman Sekretariat KAGAMA Karanganyar terasa lebih hidup dari biasanya. Di ruang yang juga menjadi rumah literasi bagi warga sekitar itu, sembilan anak yatim dan piatu datang bersama pendamping mereka. Ada yang mengenakan seragam sekolah, ada pula yang masih memeluk tas kecil berisi buku. Wajah-wajah itu memancarkan harapan, juga sedikit rasa canggung yang pelan-pelan luluh ketika para pengurus menyambut mereka satu per satu.

KAGAMA Karanganyar, bersama Keluarga Canthelan dan DT Peduli Surakarta, menggelar acara penyerahan beasiswa dan paket Ramadhan. Tahun ini, seperti tahun sebelumnya, bantuan diberikan kepada sembilan anak yang terdiri dari tujuh siswa SD dan dua siswa SMP. Kegiatan ini bukan hanya tradisi, tetapi wujud kepedulian yang terus dijaga agar tidak padam meski dilakukan sederhana.
Menguatkan Tradisi Kepedulian
Acara dibuka dengan suasana kekeluargaan. Tidak ada panggung megah, tidak ada spanduk besar. Hanya ruangan sederhana dan sambutan hangat yang membuat anak-anak itu merasa diterima. Rahayu Hariyati, Sekretaris KAGAMA Karanganyar yang juga pegiat gerakan Canthelan sejak masa pandemi 2020, tampil memberi sambutan.

Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada anak-anak yang bersedia hadir di tengah kegiatan sekolah dan puasa Ramadhan. Lebih dari itu, ia menyampaikan rasa syukur kepada para donatur—baik dari kalangan KAGAMA maupun masyarakat luas—yang kembali bersatu untuk berbagi kebahagiaan.
“Dalam kesempatan Ramadhan ini, seperti tahun kemarin, para keluarga Canthelan dan KAGAMA terpanggil untuk kembali memberi. Mohon maaf karena kami baru mampu berbagi dalam jumlah yang masih terbatas,” ujarnya dengan nada rendah hati.
Ucapan itu disambut anggukan para pengurus. Di balik keterbatasan, ada tekad besar untuk menjaga agar kegiatan ini terus berlanjut.
Ceria yang Mengalir dalam Kesederhanaan
Tidak butuh acara panjang untuk membuat pagi itu terasa istimewa. Ketika amplop beasiswa diserahkan—masing-masing berasal dari DT Peduli, Keluarga Canthelan, dan anggota KAGAMA—mata anak-anak itu berbinar.
Di tangan mereka juga tergenggam goodie bag berisi paket Ramadhan dari KAGAMA Canthelan. Keceriaan kecil yang tampak sederhana itu justru menjelma jadi gambaran kuat tentang arti kehadiran.

Beberapa anak tak kuasa menyembunyikan senyum. Ada yang memeluk erat amplopnya, ada yang berlindung di balik punggung pendampingnya sambil tersipu. Para pengurus dan donatur hanya saling pandang dan tersenyum—bahwa secuil kebahagiaan itu cukup membuat segala jerih payah penggalangan donasi menjadi terbayar.
Dari Canthelan ke Jejaring Kebaikan
Gerakan Canthelan yang lahir di masa pandemi 2020 menjadi salah satu penopang moral kegiatan ini. Berawal dari menggantung paket sembako di depan rumah warga dengan pesan “yang butuh, ambillah; yang berlebih, marilah memberi”, Canthelan berkembang menjadi jaringan kebaikan yang menembus batas komunitas.
KAGAMA Karanganyar merawat nilai-nilai itu hingga kini—mendorong solidaritas, menyambungkan kepedulian, dan memastikan bahwa bantuan yang kecil sekalipun tetap bermakna besar bagi penerimanya.
Bagi para pengurus, berbagi di bulan Ramadhan bukan sekadar menunaikan amanah sosial, tetapi menjaga nyala gotong royong yang semakin redup oleh kesibukan dan jarak.
“Belum banyak yang bisa kami berikan,” ujar Rahayu, “tapi dengan sedikit memberi, setidaknya ada senyum ceria yang cukup melegakan dan membahagiakan kami.”
Merekam Harapan di Ramadhan
Acara pagi itu ditutup tanpa formalitas berlebih. Anak-anak pulang dengan langkah lebih ringan, sementara para pengurus tetap tinggal sejenak, memastikan semuanya berjalan lancar.
Di ruang sekretariat yang sederhana itu, KAGAMA Karanganyar kembali merangkai ingatan: bahwa kebaikan tidak harus besar, tidak harus sempurna—cukup dilakukan dengan tulus dan konsisten.
Pada hari ke‑18 Ramadhan itu, di sebuah rumah literasi kecil di Karanganyar, kebaikan bergema tanpa pengeras suara. Ia mengalir pelan, tetapi menyentuh. Ia mungkin sederhana, tetapi justru di situlah nilainya tak tergantikan.