
KAGAMA Pekalongan Sasar Kantong Pengungsian Banjir
PEKALONGAN, KAGAMA.ID— Di tengah kepungan banjir yang belum kunjung surut di pesisir utara, solidaritas kemanusiaan terus mengalir ke titik-titik pengungsian paling kritis di Kota dan Kabupaten Pekalongan. Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Cabang Kota Pekalongan mengambil langkah taktis dengan menyalurkan bantuan logistik dan obat-obatan guna mencegah penurunan status kesehatan pengungsi yang kian rentan.
Aksi bertajuk “Baksos Pekalongan Darurat Banjir” ini dilaksanakan pada Kamis (22/1/2026), dengan menyasar wilayah terdampak parah, seperti daerah Tirto, Pacar, dan Meduri. Berdasarkan pantauan Kagama.id, debit air di wilayah tersebut masih berkisar antara 30 hingga 50 sentimeter akibat tingginya curah hujan di hulu dan pengaruh pasang air laut (rob).

Ketua Harian Pengurus Cabang (Pengcab) Kagama Kota Pekalongan, dr. H. Dwi Heri Wibawa, M.Kes., menyatakan bahwa aksi ini merupakan respon cepat organisasi untuk mengisi celah kebutuhan yang belum terjangkau di dapur umum. “Kami bergerak langsung ke titik jantung pengungsian untuk memastikan bantuan tersalurkan secara presisi. Fokus kami adalah pemulihan harapan dan meringankan beban warga di tengah situasi darurat ini,” ujar Dwi Heri saat melepas tim, diikuti oleh Sekretaris, Koordinator Bidang Sosial dan Pengabdian Masyarakat serta Anggota KAGAMA Pekalongan di RSUD Bendan, Kamis petang.

Distribusi Logistik
Laporan singkat hasil aksi kemanusiaan tersebut mencatat pendanaan baksos bersumber dari alokasi dana kas internal organisasi ditambah donasi spontanitas para anggota. Bantuan tersebut diwujudkan dalam paket bahan pokok dan obat-obatan yang disebar ke empat lokasi strategis.
Di wilayah Kota Pekalongan, bantuan diarahkan ke posko pengungsian di Masjid Al-Karomah dan Masjid Al-Kautsar. Sementara untuk wilayah Kabupaten Pekalongan, tim menyisir Musholla Pacar/Meduri dan Tegal Dowo yang aksesnya sempat terisolasi akibat genangan air yang menutup akses jalan utama desa.
”Bantuan ini memang tidak menutup seluruh kebutuhan, namun kami menitikberatkan pada urgensi logistik di dapur umum mandiri yang dikelola warga, seperti di Tegal Dowo dan Pacar/Meduri,” tambah Dwi Heri. Langkah ini dipandang krusial karena pasokan logistik di beberapa dapur umum mandiri mulai menipis memasuki hari kelima banjir.

Ketahanan Pesisir
Aksi Kagama Pekalongan ini tidak berdiri sendiri. Secara akademis dan praktis, para alumni UGM di Pekalongan juga mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat proyek infrastruktur pengendali banjir pesisir. Banjir yang terjadi di Januari 2026 ini kembali mengingatkan pada urgensi penguatan tanggul raksasa dan optimalisasi pompa pembuangan yang sering terkendala masalah teknis.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa wilayah Pekalongan masih berada dalam puncak musim hujan dengan potensi cuaca ekstrem yang tinggi hingga akhir Januari. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan organisasi sosial dan kemanusiaan untuk tetap siaga.
Kagama Pekalongan menegaskan bahwa semangat “Guyub, Rukun, lan Migunani” (Kebersamaan, Rukun, dan Bermanfaat) akan terus diimplementasikan dalam bentuk aksi nyata. Tidak hanya saat darurat bencana, tetapi juga dalam fase pascabencana, terutama dalam pemulihan sanitasi lingkungan bagi warga terdampak.

Hingga berita ini diturunkan, sejumlah pengungsi dilaporkan mulai terserang penyakit kulit. Bantuan obat-obatan diharapkan dapat memberikan pertolongan pertama bagi warga yang membutuhkan.