
KAGAMA Sumbar Menjembatani Harapan: Dari Dapur Darurat hingga Paket Sekolah, Langkah Nyata di Bumi yang Basah
PADANG — Di tengah rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat sejak akhir 2025 hingga awal 2026—banjir, galodo, dan longsor yang merusak pemukiman, memutus akses, mengungsikan ribuan warga—gerak cepat komunitas akademisi Universitas Gadjah Mada yang berhimpun dalam KAGAMA Sumbar menjadi salah satu simpul solidaritas di lapangan. Mereka menutup celah: dari logistik harian hingga pemulihan pendidikan anak, dari dukungan alat komunikasi sampai alat kerja pembersihan lingkungan.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 14 Januari 2026 mencatat skala bencana di Sumatera—termasuk Sumbar—sangat besar: >1.180–1.190 korban jiwa, ratusan orang hilang, dan lebih dari ratusan ribu warga mengungsi. Di Sumbar, sebagian besar wilayah sudah bergerak ke fase transisi pemulihan, dengan prioritas pemulihan akses, perbaikan fasilitas dasar, dan hunian sementara.

Di lapangan, rentetan kejadian memperlihatkan betapa rentannya wilayah: Padang Pariaman (Lubuk Alung) berkali-kali tergenang, sebagian warga harus dievakuasi ke SDN 19 Surantih; Maninjau diterjang banjir bandang yang memutus akses dan merusak rumah; Bayang Utara (Pesisir Selatan) mengalami isolasi dan relokasi warga dari zona bahaya; Kota Solok dengan ribuan jiwa terdampak di kawasan Tanah Garem.
Menjawab Kritisnya Jam Pertama
Tahap tanggap darurat. Laporan keuangan rinci KAGAMA SB Peduli menunjukkan penghimpunan dana Rp 70.000.000 untuk respons cepat. Dana tersebut dialokasikan terarah ke kantong-kantong terdampak: Padang Pariaman (Lubuk Alung) Rp 10.092.500 (sembako, kompor gas mini, magic com, perlengkapan makan, susu bayi, tabung gas, handy talky), Pesisir Selatan—Bayang Utara Rp 26.355.000 (alas tidur; 64 paket harian berisi selimut, sarung, kebutuhan kebersihan; pangan bergizi; obat, dan perlengkapan perempuan/anak); Agam—Batang Maninjau Rp 20.300.000 (kasur/tikar, terpal, obat-obatan, colokan listrik, HT, CCTV pemantau posko); serta Lima Puluh Kota—Aie Angek Rp 9.740.200 untuk dapur umum (bahan pangan segar, beras, telur, minyak, bumbu) yang menyasar kebutuhan makan warga dan relawan.

Dengan pola itu, KAGAMA Sumbar memadukan tiga prinsip respon darurat: (1) cepat, karena daftar belanja diarahkan pada kebutuhan harian paling mendesak; (2) tepat, sebab komponen bantuan—dari gizi anak hingga sanitasi dan dukungan komunikasi (HT/CCTV)—menyasar klaster prioritas Sphere; dan (3) transparan, melalui pelaporan rinci penerimaan dan penyaluran.

Konteks wilayah menunjukkan respons ini menjawab situasi faktual. Di Lubuk Alung, evakuasi massal dilakukan menyusul luapan Batang Anai dan Batang Surantiah; banjir sempat menyentuh atap rumah dan 250 jiwa harus diungsikan. Di Maninjau, banjir bandang berulang menimbun ruas jalan serta merusak rumah; kondisi listrik dan akses kerap lumpuh. Di Bayang Utara, empat nagari sempat terisolasi, pemulihan akses menjadi kunci awal.

Mengikat Ulang Masa Depan Anak
Tahap pemulihan. Setelah fase darurat mereda, KAGAMA mengalihkan fokus pada pemulihan dini, terutama pendidikan anak. Penghimpunan dana Rp 47.180.000 untuk pemulihan menutup kebutuhan paket sekolah: 101 paket di Muaro Pingai, Solok (tas, buku tulis dan matematika, alat tulis/gambar, penggaris, correction pen, botol minum, susu); 70 paket di Tanah Garem, Kota Solok; serta 70 paket di Batu Busuak–Pauh, Kota Padang. Paket pemulihan ini memastikan anak kembali ke ritme belajar di tengah rumah tangga yang porak-poranda.
Langkah ini relevan dengan peta risiko cuaca. BMKG sejak akhir 2025 mengeluarkan peringatan beruntun potensi hujan lebat–ekstrem di Sumbar hingga Januari 2026; peringatan itu berdampak ke jadwal sekolah, mobilitas, dan psikososial anak. Dengan paket sekolah siap pakai, keluarga punya jangkar untuk kembali normal.
Solidaritas yang Terukur
Jejak donasi KAGAMA memperlihatkan kerja kolaboratif lintas daerah: aliran dana datang dari TeKagama (Rp 50 juta), KAGAMA Bekasi, KAGAMA Ngopi Bekasi, KAGAMA Sulteng/Sulut, hingga KAGAMA Sumbar sendiri dan mitra usaha lokal. Dana ini menumbuhkan kepercayaan karena tersaji by item—dari tikar, selimut, sarung, susu bayi hingga cangkul untuk gotong royong pembersihan.
Di wilayah-wilayah sasaran, apa yang dibawa KAGAMA senapas dengan kebutuhan nyata. Kota Solok sempat menetapkan status tanggap darurat dengan 3.362 jiwa terdampak dan 224 rumah terendam—membuktikan paket sekolah dan logistik dasar bukan bantuan “biasa-biasa saja”, melainkan tepat guna bagi keluarga yang kehilangan tabungan rumah tangga untuk alat tulis dan kebutuhan dasar.
Di Muaro Pingai, air sungai berulang naik setelah hujan panjang—perumahan, jembatan, dan tebing sungai mengalami erosi; pemerintah daerah mengerahkan alat berat, BWS menormalisasi alur, dan warga hidup dalam siaga berkepanjangan. Paket sekolah dan dukungan operasional (transport, BBM, spanduk posko) menjadi jembatan psikologis bagi keluarga yang anaknya harus kembali belajar di tengah lanskap yang berubah.
Berpijak pada Data, Berlari Bersama Negara
Skala bencana memaksa negara mengerahkan sumber daya besar—termasuk jembatan Bailey, hunian sementara (huntara), Dana Tunggu Hunian (DTH), dan operasi udara/logistik—serta mengawal transisi pemulihan di Sumbar. Di sinilah organisasi warga seperti KAGAMA mengisi ruang kosong di antara kecepatan kebutuhan dan ritme birokrasi, tanpa tumpang tindih, melainkan melengkapi.
Di Bayang Utara, misalnya, saat pemda dan BNPB menyiapkan relokasi dari zona merah longsor ke lokasi aman di Pulut-Pulut, kebutuhan harian dan peralihan hidup wajar memerlukan dukungan komunitas. KAGAMA hadir melalui paket harian, alas tidur, dan logistik posko yang memungkinkan warga bertahan sampai skema relokasi permanen berjalan.

Sementara di Maninjau, banjir bandang berulang dan pemutusan akses membuat alat komunikasi (HT) dan CCTV pemantau posko menjadi game changer kecil: posko bisa memetakan pergerakan relawan, memantau jalur yang kembali terbuka, dan mengirim pesan peringatan dini di lingkungan sekitar.
Melampaui Darurat: Tiga Agenda Pemulihan Berkeadilan
Pengalaman lapangan KAGAMA Sumbar melahirkan tiga agenda pemulihan yang lebih berkeadilan:
- Anak Kembali Sekolah Tanpa Beban
Paket sekolah yang menyasar Muaro Pingai, Tanah Garem, dan Batu Busuak menekan ongkos keluarga agar hak pendidikan tak “tenggelam” bersama perabot rumah tangga. Pola ini dapat diperluas ke Bayang Utara pasca relokasi. - Pemulihan Berbasis Komunitas
Dukungan alat kerja (cangkul, terpal, colokan, perlengkapan mandi/kebersihan) mempercepat self-recovery kampung. Kebutuhan “kecil” ini mencegah ketergantungan dan menguatkan gotong royong - Kesiapsiagaan Berbasis Sains-Cuaca
Memadukan informasi BMKG (prospek hujan lebat–ekstrem) ke protokol internal KAGAMA—mulai dari prepositioning logistik di titik rawan, SOP evakuasi ibu-anak, hingga integrasi dengan kanal resmi pemda.
Di antara peta bencana yang luas, kerja KAGAMA Sumbar adalah narasi tentang Jaringan Penolong: kolaborasi lintas daerah, berbasis data, transparan, dan menempatkan manusia—terutama anak—di pusat pemulihan. Bagi banyak keluarga di Lubuk Alung, Bayang Utara, Maninjau, Muaro Pingai, Tanah Garem, dan Batu Busuak, bantuan itu mungkin tampak sederhana: tas sekolah yang baru, tikar yang kering, susu untuk anak, dan handy talky yang hidup. Namun, di hari-hari yang basah dan gelap, hal-hal sederhana itulah yang menjadi penanda harapan.