‘Pasar Golong Gilig’ Sebagai Wadah Warga Kagama Jualan Bersama

Pada hari Sabtu (11/7/2020) siang di “Angkringan Jaman Edan” Jln. Mangkubumi Yogyakarta terlihat sebuah pemandangan banyak orang menggelar berbagai produk makanan dan juga produk-produk lain seperti batik serta kerajinan tangan. Para penjual itu adalah teman-teman Kagama yang merasa senasib akibat dampak dari Covid-19. Daripada cuma berpangku tangan di rumah mereka mengembangkan potensi yang mereka miliki. Rata-rata mereka kemudian berbisnis kulineran.

Awalnya mereka memposting usahanya lewat sosmednya masing-masing. Namun lama-lama mereka berpikir alangkah baiknya kalau mereka bersinergi. Daripada cuma jualan sendiri-sendiri pasti akan sangat terasa gaung dan kekuatannya apabila mereka bekerja sama. Akhirnya mereka membentuk semacam ‘koalisi’ dan sepakat membuat event jualan bersama-sama secara fisik yang mereka beri nama “Pasar Golong Gilig”.

Jati Kusumo (Fakultas Ekonomi 1991) selaku penanggung jawab acara menjelaskan “Pasar Golong Gilig” bisa dimaknai sebagai satu tekad dalam kebersamaan dan gotong royong. Di samping itu untuk memudahkan orang mengingatnya karena lokasinya termasuk dekat dengan Tugu Golong Gilig yang sangat ikonis itu.

Semua yang terlibat di “Pasar Golong Gilig” edisi pertama menyambut gembira event yang mempertemukan para penjual dan pembeli secara fisik itu. Dyah Palupi Nurmalasari (S2 Hubungan Internasional Fisipol 2009) alias Upi yang merupakan salah satu penjual sekaligus koordinator acara sangat gembira menyambut ide brilian tersebut. “Kegiatan ini benar-benar menyatukan kami semua, yaitu mereka yang terkena dampak covid dan berusaha untuk tetap survive dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing anggota. Daripada jalan sendiri-sendiri memang lebih baik jualan bareng-bareng seperti ini.” ujar perempuan yang berjualan egg rolls merk “Rollamonsta” tersebut.

Hal senada diungkapkan oleh Budi Mamo (Kearsipan FIB 1996) yang sangat setuju dengan diadakannya jualan bersama ini. Dia merasa produknya jadi bisa lebih dikenal secara luas. Budi memproduksi bakso daging, bakso gembus dan beberapa varian cookies yang diberi brand “Dapoer Djari Manis”.

Sementara itu Herry Febrianto (Fak. Teknologi Pertanian 2000) yang sehari-hari membuka warung sate kambing di daerah Blok O Berbah punya argumentasi yang sedikit berbeda. Dengan semangat ia bersama istrinya membawa peralatan masak sendiri dari Berbah dengan tujuan utama untuk menjalin silaturahmi dengan teman-teman Kagama lainnya. Selain juga memang pingin memperkenalkan sate kambing dan nasi goreng khas Kudus, kota tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Menurut Jati Kusumo telah disepakati bersama bahwa kegiatan “Pasar Golong Gilig” akan diadakan secara rutin setiap hari Minggu pagi di “Angkringan Jaman Edan”. Untuk kali pertama ini yang terlibat memang baru 12 penjual semua dari warga Kagama, juga sebagian besar membawa dagangan yang memang sudah dipesan sebelumnya. “Ke depannya kami berharap akan lebih banyak lagi teman-teman yang terlibat dan juga lebih bervariasi jenis dagangan yang digelar. Juga semoga bisa menular ke mereka yang bukan warga Kagama. Karena dasar dari kegiatan yang kami lakukan ini adalah memang untuk mengerakkan roda perekonomian khususnya di Jogja yang sempat agak lumpuh saat wabah covid di masa awal-awal menyerang.” demikian pungkas Jati.

Event Akan Datang

Urban Farming

3 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*