Lewat Jejaring Kagama Wahyu Dwi Listiyanto Mengembangkan Usaha Pupuk Bokashi

Bagi seorang Wahyu Dwi Listiyanto (Biologi UGM 1994) menghadapi kerasnya kehidupan sudah biasa. Cobaan hidup yang dijalaninya sejak lahir telah menempanya menjadi pribadi yang keras ketika ia tumbuh dewasa. Namun justru hal itulah yang membuat Jek, demikian ia biasa disapa, menjadi tangguh dan tak mudah menyerah dalam setiap cobaan yang dihadapinya. Berkali-kali ia kena tipu, namun begitu terpuruk langsung bangkit lagi tak perlu berlama-lama meratapi nasib.

Jek mengawali pekerjaannya seusai diwisuda November 2001 dengan berjualan pakaian. Bolak-balik perjalanan dari rumahnya di Pedan, Klaten membawa dagangan ke Yogyakarta, dijalaninya setiap hari naik sepeda motor. Pada tahun 2003 dengan bermodal keuntungan yang dikumpulkannya dari jualan pakaian, Jek mengikuti sebuah lelang sepeda motor dan menang. Namun duit hasil penjualan motor ke dealer-dealer dibawa kabur oleh teman yang dipercayainya.

Maka mulailah Jek bekerja dari nol lagi dengan pekerjaan yang berbeda. Selama sekitar 14 tahun ia sempat beberapa kali berganti pekerjaan, dan selama itu pula ia sering kena tipu. Yang bikin heran teman-temannya, para penipu yang notabene adalah kawan Jek sendiri itu tidak ada satupun yang dilaporkan polisi.

“Biarlah semuanya saya serahkan kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang berhak memberikan hukuman, saya tidak berhak sama sekali.” ujar Jek sambil tertawa.

Pada saat Jek sudah tidak punya apa-apa lagi, tahun 2017 ada seorang teman yang mengajaknya bekerja di pabrik miliknya, memproduksi pupuk organik di Ungaran, Jawa Tengah. Di situlah Jek mulai menguasai seluk beluk pupuk organik.

Sebenarnya Jek betah dan menikmati pekerjaaanya. Namun ketika tahun 2019 basis produksi dan pabrik dipindah ke Bandung, ia mengundurkan diri dengan alasan tidak bisa jauh dengan keluarganya yang tinggal di Pedan.

Kembali ke Pedan, Jek ingin memulai usaha membuat pupuk organik sendiri, namun ia tidak punya modal sama sekali. Iseng-iseng ia menghubungi Sudarmaji Gojis,  alumnus FNT Jurusaan Teknik Sipil UGM angkatan 1992, yang berbisnis ternak kambing di  daerah Berbah, Sleman. Rupanya Gojis tertarik membantu dan waktu itu Jek dikirimi 100 karung kotoran kambing untuk bahan baku pupuk.

Begitu mendapatkan bahan baku utama, mulailah Jek mencoba mengembangkan pupuk organik sendiri yang dikenal dengan sebutan bokashi. Bokashi sebenarnya termasuk pupuk kompos juga, namun ada sedikit perbedaannya. Pupuk kompos sendiri adalah pupuk dari bahan organik yang telah terurai sehingga bentuknya tidak dikenali lagi. Penguraian kompos bisa berlangsung secara alami maupun buatan. Pupuk bokashi merupakan pupuk kompos buatan yang pembusukannya dibantu dengan mikro organisme tertentu.

Banyaknya mikro organisme ini membuat pupuk bokashi prosesnya lebih cepat dibanding pupuk kompos biasa dan mengandung banyak unsur hara. Kandungan unsur hara yang banyak ini membuat pupuk bokashi sangat baik bagi tanaman. Selain mengandung unsur hara yang tinggi, pupuk bokashi juga menjadi solusi tidak merusak tanah seperti pupuk kimia. Keunggulan lainnya, pupuk bokashi tidak panas, tidak berbau busuk, ataupun mengandung hama penyakit sehingga tidak membahayakan tanaman.

Pupuk bokashi racikan Jek pembusukannya dibantu dengan isolat bakteri bikinannya sendiri. Isolat bakteri adalah membuat indukan bakteri atau mendatangkan bakteri dengan perlakuan bahan baku tertentu.

Jek menamai pupuk bokashi produksinya dengan merk “Indah Farm”. Karena belum punya modal cukup, maka kapasitas produksinya juga terbatas. Di saat Jek kesulitan dalam hal tranportasi untuk pengiriman pupuk kepada pembeli, datanglah dewa penolong bernama Teguh Budi Wibowo (FKH UGM 1984), kawan sesama Kagama yang dikenalnya lewat Facebook yang tinggal di Tasikmalaya. Teguh sempat meminjamkan mobil Grand Max kepada Jek untuk mengangkut pupuk, selama sekitar 3 bulan.

Namun, lama-lama Jek mengalami kendala kesulitan mendapatkan bahan baku. Saat sedang berpikir mencari solusinya, mendadak Jek teringat kepada tetangga ibunya yang tinggal di daerah Gejayan. Namanya Arif Rachman Hakim, warga Kagama juga alumnus Sosiologi UGM angkatan 1992, yang mempunyai peternakan sapi lumayan besar di Wiladeg, Karangmojo, Gunung Kidul.

Ketika Jek mengutarakan niatnya membeli kotoran sapi yang dihasilkan dari peternakan Arif dan bercerita tentang usahanya memproduksi pupuk bokashi, respon yang diberikan Arif sungguh membuat Jek kaget. Arif rupanya malah tertarik untuk menjalin kerja sama. Singkat kata, akhirnya terjadi kesepakatan, Arif sebagai pemodal sedangkan Jek bertanggung jawab atas produksi sekaligus pemasaran.

Pada bulan Februari 2021 Jek menghentikan usahanya di Pedan dan pindah ke peternakan sapi milik Arif. Sambil menunggu tempat produksi yang representatif, untuk sementara menggunakan kandang sapi dulu. Saat produknya sudah memuaskan ketika dites pada tanaman terong dan tomat di Karangmojo, serta pada pertanian semangka dan melon di Purworejo, barulah dibangun pabrik pada bulan April 2021.

Begitu pabrik dibangun mulailah produksi skala masal. Merk dagangnya memakai nama Berlian. Brand tersebut tercipta atas usulan istri Arif yang bernama Farida Isni Astuti, yang merupakan alumnus Jurusan Sosek Fak. Pertanian UGM angkatan 1997.

Jejaring Kagama yang terlibat pengembangan pupuk bokashi Berlian

Pada bulan Juni 2021, satu lagi warga Kagama bergabung dalam tim pemasaran pupuk bokashi Berlian. Namanya Imam Sulistyo, alumnus Fak. Biologi UGM angkatan 1995, yang merupakan adik kelas Jek semasa kuliah dulu. Mereka telah sekian lama berpisah, dan berjumpa kembali lewat Facebook. Dengan bergabungnya Imam, marketing Berlian semakin kuat.

Dengan jumlah karyawan 5 orang, plus khusus 2 pegawai mengurusi sapi, kapasitas produksi Berlian mampu mencapai 50 ton per bulan. Pangsa pasarnya meliputi wilayah DIY dan Jawa Tengah. Jek mengatakan belum terpikirkan untuk meluaskan daerah pemasaran, dikarenakan kedua provinsi itu daya serapnya sudah begitu tinggi dan mahalnya biaya kirim apabila terlalu jauh jangkauannya.

Jek optimis pupuk organik semakin dibutuhkan keberadaannya. Karena adanya kebijakan pemerintah terkait pembatasan peredaran pupuk sintetis / kimia. Jadi Jek sangat yakin prospek pangsa pasar Berlian ke depannya akan semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Pada bulan Juli 2021, pabrik Berlian kedatangan tamu dari Sukabumi bernama Aditya Wahyudi. Pria alumnus Fisipol HI angkatan 2004 tersebut rupanya selama ini mengikuti postingan Jek di FB dan tertarik membeli pupuk Berlian untuk memupuk lahan pertaniannya yang ditanami jahe gajah. Aditya bercerita sudah 4 tahun ia menekuni budidaya jahe gajah, dan saat ini ia mengelola lahan pertaniannya di 4 kota yaitu Sukabumi, Pekalongan, Bojonegoro dan Malang.

Jek tidak bisa memenuhi permintaan Aditya karena perhitungan ongkos kirim. Namun dari obrolan yang terjadi kemudian berkembang ke arah ketertarikan Aditya mengembangkan lahan pertanian jahe gajah di wilayah DIY dan Jateng. Karena tidak gampang mencari lahan, disepakati untuk sementara dicoba dulu di lahan-lahan tak tergarap milik masyarakat dengan kerja sama tertentu yang saling menguntungkan.

Bersama ibu-ibu KWT di Cawas, Klaten

Maka terwujudlah program sosial sinergi antara Aditya dan Berlian yang intinya mendorong pemanfaatan pekarangan / lahan yang selama ini menganggur dan pemberdayaan ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). Wujud aksinya berupa pembagian bibit jahe gajah kepada ibu-ibu KWT yang kemudian ditanam dan dirawat di lahan masing-masing, disertai pendampingan dari tim Berlian. Syaratnya hanya satu, hasil panennya kelak harus dijual kepada pihak Jek dkk.

Karena ketersediaan dana yang tidak begitu besar, pada tahap awal dibatasi dulu maksimal membagi 10.000 paket yang isinya berupa polybag, bibit jahe gajah dan pupuk Berlian. Sudah ada 3 KWT yang bersedia bekerja sama yaitu di Cangkringan (Sleman), Godean (Sleman), dan Cawas (Klaten), yang masing-masing mendapatkan 2.000 paket.

“Saya punya harapan ke depan Berlian bisa lebih melibatkan masyarakat untuk bergerak di bidang pertanian dan kemandirian pangan, dengan menghormati ibu bumi”. ujar Jek sedikit berfilsafat.

Serah terima 1000 bibit jahe gajah kepada pihak damkar UGM

Yang menarik, dalam setiap kegiatan yang dilakukan Jek pasti melibatkan warga Kagama, termasuk bagi-bagi bibit jahe tersebut. Adalah Arif Nurcahyo (Psikologi 1983), selaku komandan PK4L UGM yang juga membawahi pasukan pemadam kebakaran (damkar), ikut tertarik menanam jahe gajah di lahan kosong di belakang dan samping kantor damkar yang selama ini belum tergarap optimal.

Hal itu merupakan kelanjutan kerja sama yang telah dilakukan sebelumnya antara pihak damkar UGM dengan Jek, yaitu bantuan pupuk Berlian untuk memberi nutrisi 50 tanaman anggur di lahan damkar. Sebagai uji coba awal, 1.000 bibit jahe gajah diserahkan ke pihak damkar untuk ditanam dan dirawat.

“Kenapa saya selalu melibatkan kawan-kawan Kagama? Pada dasarnya apa yang kita lakukan jangan hanya untuk kepentingan kita sendiri, namun sebisanya bermanfaat untuk lingkungan sekitar, dimulai dari lingkaran dekat teman-teman sendiri terlebih dulu. Berbisnis iya tapi jangan melupakan silaturahmi. Ngrabuk tanduran sekalian ngrabuk kekancan.” demikian pungkas Jek.

1 Comment

  1. Pehhh…pehhh…pehh… makin salut aku dgn Oom Jek kurang seprapat. Ulet, bakti pada ibundanya, rajin rajut silaturrahim pula. Semoga Pupuk Berlian Bokashi makin sukses dan pabriknya bisa ada di tiap Provinsi, agar makin banyak petani yg terbantu, terutama yg bercocoktanam organik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*