Catatan Perjalanan Kagama Beksan Yogyakarta ke Munas Kagama XIII Bali

Oleh: Feriawan Agung Nugroho

21 Oktober, jam 21.00, saat sedang santai dengan istri, HP berdering. Ternyata Mbak Dian Nirmalasari menghubungi.

“Melu yaa ning Munas Kagama. Ning Bali. Njaluk fotomu karo keterangan liya liyane yaa.. Mengko tak WA.”

Masih kaget nggak ngerti mau bilang apa.

“Yya..ya.. Mbak…”

Begitulah. Meski akhirnya saya kudu rerembugan sama istri yang ternyata sangat mendukung. Jadilah saya mendaftarkan diri dengan mengirim foto dan melengkapi form yang dikirim Mbak Dian. Barulah saya tahu di kemudian hari ternyata malam itu Mbak Dian dan Mas Komo kerja keras mengejar deadline agar kami-kami yang tergabung dalam komunitas Kagam Beksan dan Sekar Gending bisa katut dalam perhelatan Munas Kagama. Mulai dari wira-wiri bikin stempel, deskripsi komunitas, dan ini itu lainnya yang selama ini jauh dari pikiran kami-kami yang tergabung di Kagama Beksan dan Sekar Gending.

-KAGAMA BEKSAN JOGJA-

Sedikit flashback.

Memandang foto teman-teman kagama Beksan Jogja bersama satu tampah tumpeng, penanda 6 bulan sejak kelahirannya. Selama itu pulalah saya memulai pertama kali belajar menari. Sesuatu yang tidak pernah terlintas sebelumnya di kepala saya. Terakhir saya menari saat kelulusan SD dan setelah itu tidak pernah menari lagi. Orang lebih mengenal saya sebagai penulis kisah-kisah lansia di FB, atau bagi yang sudah mengenal saya sebelum itu teman-teman lebih mengenal saya sebagai aktifis HMI-MPO, aktifis Jamaah Shalahuddin, atau aktifis di Fisipol. Kalaupun ada yang mengenal kemampuan saya yang lain adalah kegemaran saya menggambar karikatur atau kartun, ataupun utak atik membuat software komputer, desain grafis dan sejenisnya. Menari? Tidak terlintas.

Lalu mulailah tertarik ketika melihat viral beksan wanara yang ditarikan Momo dan para penari dari Kridhamardawa di Jalan Malioboro yang tersebar, salah satunya di wall FB Mbak Dian. Ada dorongan emosional yang kuat yang mengajak saya untuk bisa menarikannya. Entah apa sebabnya: musik gamelannya yang ritmik, gerakannya yang enerjik, atau penarinya yang menggunakan atribut manusia bebas gaya kekinian yang begitu bangga membawakan tarian tradisonal. Saya merasa: ini saya.

Gayung pun bersambut, ketika di Kagama Virtual, lagi-lagi, Mbak Dian pasca musibah jatuh dari tangga, menyebarkan gagasan latihan beksan, yang kemudiamern menjadi tonggak kelahiran Kagama Beksan dan mengajak untuk latihan Beksan Wanara lewat ajakannya di status grup fb. Obsesinya waktu itu, agar ketika Dies Natalis UGM bulan Desember tahun ini bisa ditampilkan, yaitu Beksan Wanara dan Wira Pertiwi. Gagasan yang bersambut di berbagai kota. Saya tertarik.

Untuk pertama kalinya saya berlatih dengan beberapa teman di Kopi Lembah UGM dengan pelatih Mas Seta Wikandaru. Hasilnya? Ambyar….semua itu masih terdokumentasi. Gerakan saya dan teman-teman jelas pating blasur nggak karuan.

Saya masih ingat ketika itu pertama kali ketemu Mbak Win, Mbak Asti, Mas Wahyu, Mas Hersanto, Pak Probosunu, dan beberapa pionir awal yang juga sempat terdokumentasikan fotonya. Masih ingat betapa Mbak Win kesal karena space yang saya pakai untuk lunjak lunjak over banget. Ngentekne panggon. Melanggar spacenya.

Maka rutinlah saya mengikuti latihan Beksan Wanara bersama dengan Kagama Beksan tiap hari minggu. Tidak cukup dengan berlatih tiap minggu saja, hampir tiap malam saya berlatih untuk bisa menguasai tarian ini. Mulai dari download tutorial resmi, download video flashmob Momo dkk, untuk melihat detil demi detil gerakan tarian yang ternyata memang cukup sulit, meskipun jenis gerakannya dalam satu pertunjukkan tidak banyak. Kesulitan ada hampir di semua hal, mulai dari posisi berdiri, posisi tumit, gerakan tangan mulai dari nyempurit, nyekithing, ngruji, gerakan kaki yang junjung tekuk, medhak dan lain sebagainya yang itu dikombinasikan satu dengan yang lain dengan indah. Padahal antara tangan kanan-kiri beda gerakan, belum lagi melibatkan kaki, belum lagi gelengan kepala. Belum lagi menyesuaikan dengan tempo musik yang begitu cepat. Tidak mudah!

Seringkali saya memvideo penampilan saya sendiri ketika merasa sudah ada perkembangan. Dari situ selalu ada evaluasi: kok sikutnya tidak diangkat, kok gelengan kepala tidak hidup, kok kakinya terlalu cepat ditekuk. Begitulah. Beberapa video saya share lewat grup wa dan selalu ada masukan dari mereka yang profesional. Yang telalu cepat lah, yang tidak berkesesuaian dengan musik lah. Ada saja yang masih salah. Ada saja yang harus diperbaiki total dan membayangkan akan ada sekian kali latihan untuk menyempurnakan itu.

Energi untuk menyempurnakan ternyata selalu ada. Tepatnya ketika Kagama Beksan mendapatkan undangan untuk mengisi acara Dies Natalis FKH. Untuk pertama kalinya bertemu dengan Momo, Jojo dan Pak Lantip, dan memperhatikan bagaimana mereka menari. Khususnya Momo. Sungguh suatu keberuntungan melihat aura nyata bagaimana penari-penari ini membawakan tarian dengan begitu dahsyat. Gila! Menari bersama dengan Momo menjadi saat tidak terlupakan, ketika sekali-sekali saya mengamati detil gerakan yang begitu susahnya saya pahami, diantaranya saat meliukkan badan di gerakan jejogetan, saat sariraning busana. Bagaimana tangan mungil momo memainkan gerakan, bagaimana kakinya yang hidup, bagaimana semua itu menyatu menjadi satu sajian tarian yang sempurna. Di situlah kemudian berkenalan dengan Pak Lantip, penari profesional yang kemudian memberikan tips-tips penting terkait penyempurnaan gerak tari.

Sampailah saatnya bersama dengan Kagama Beksan mengisi beberapa acara formal yang semakin memaksa kami untuk belajar dan belajar tari dengan lebih serius diantaranya: HUT Kulon Progo, Dies Natalis Fakulas Kehutanan, HUT Prodia dengan tarian flashmob di Jl Mangkubumi, Jogja Volkswagen Festival. Bisa dibayangkan bahwa dari pentas satu ke pentas lain dengan agenda yang sangat rapat selama 6 bulan itu Kagama Beksan kayak gimana akrabnya. Begitu lovely. Termasuk diantaranya berkenalan dengan Lik Tom Blero yang selama ini lebih saya kenal kekempluannya di Kavir.

Maka,

Ketika Mbak Dian mengajak saya bareng dengan Kagama Beksan hadir di Munas, yang terpikirkan di sana bagi saya dan seluruh Kagama Beksan cuma satu: perform. Itu saja. Tidak punya pikiran politis ini itu, memasukkan agenda ini itu, mengusulkan ini itu, tidak. Perform di perhelatan nasional itu, dan jika masih ada bonus adalah untuk bisa tampil di GWK

-PERJALANAN-

Tepat hari H. 13 November 2019. Kami rombongan dari Kabek dan SekarGending nekat berangkat menggunakan Bis dengan kapasitas 30 orang yang didominasi Embak-Embak (jangan sebut ibu-ibu apalagi embah-embah! Berpikirpun jangan! Sudah ada yang merasakan akibatnya akibat keteledoran ini). Lelakinya cuma lima, selain Pak Sopir dan assistennya.

Guyonan sepanjang perjalanan, sesekali teriakan ala Tom Blero yang : eaaaa…eaaaa…eaaa… selalu pecah. Garap-garapan sana sini, eyel-eyelan, pacok pacokan dan embuh apa lagi. Barang sepele bisa jadi objek garapan. Salah ngomong dikit aja bisa ambyar. Wis kayak ngana kae.

Namanya Embak-embak. Di setiap pemberhentian sementara adaaa saja yang dilakukan. Biar badan pating klenyit bau kringet campur abab ra sikatan, eeh nggak pernah absen untuk bedakan, lipenan, bengesan dan sebagainya dipantes-panteske. Begitu lihat kamera…wuih..jranthal bareng-bareng kemruyuk rubung-rubung ceprat-cepret. Embuh itu kameranya siapa. Lha apa ada yang tidak bawa smartphone? Kan sudah ada kamera sendiri-sendiri. Mbok udah motret diri sendiri kan rampung. Tapi ya gitu deh. Kayak iklan rokok kae. Nggak rame nggak seru.

Sampai akhirnya kami di penyeberangan Ketapang Gilimanuk.

Di atas Ferry yang berjalan pelan meski sedikit bergelombang, ndilalah kok ada krenteg ngeFlashmob. Maka, geladak kapal yang lebar itu kami jadikan ruang untuk flashmob. Apalagi kalau bukan Beksan Wanara.

Dengan penuh percaya diri kami menari. Mbak Dian dengan percaya diri pula mengangkat gadget dengan pose mengabadikan momen itu. Kami pun dengan mantap menari percaya diri di hadapan para penumpang yang kadang tertawa dikulum ataupun mencuri pandang aksi kami itu. Kami pun cuek menari. Rumangsane sak kapal kuwi nggone dhewe. Tuntas sampa dengan sorak terakhir.

“Wadooooh….,”teriakan kecil Mbak Dian. Wajahnya tampak gelo banget.

Ada apa Mbak?

“Lali. Tombol abang (record) ora kepijet…”

Waaaaa……

(BERSAMBUNG)

Event Akan Datang

Urban Farming

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*