Webinar Kagama Fotografi 7: Pinto NH Berbagi Pengalaman Memotret di Jalanan & Ruang Publik

PP Kagama bersama Kagama Fotografi kembali menggelar webinar lewat Zoom Meeting pada hari Sabtu (13/3/2021) jam 19.30 s/d 21.30 WIB yang sudah memasuki seri 7 dengan membahas fotografi genre street dan human interest. Webinar menghadirkan narasumber utama fotografer sarat pengalaman Pinto NH, dengan dimoderatori oleh fotografer wanita Raiyani Muharramah. Berkenan memberikan kata sambutan Anton Mart Irianto, Ketua Bidang I PP Kagama.

Pinto NH

Pada awal pemaparan, Pinto menjelaskan perbedaan utama antara street photography dan human interest yaitu street photography harus candid dan di ruang publik dengan subyek apapun, sedangkan human interest harus manusia namun bisa di tempat pribadi dan tidak harus candid. Street photography atau human interest bisa menghasilkan portrait, yaitu foto orang / benda / binatang yang bisa menggambarkan siapa dalam foto itu (profil). Pengaturan yang merupakan salah satu bagian definisi portrait bisa dilakukan bukan pada subyek namun pada cara pemotretannya. Pada kenyataannya street photography sering overlap dengan human interest.

Street photography bisa dikatakan hampir selalu berbenturan dengan masalah hukum, baik yang tertulis maupun tidak. Karena hampir mustahil melengkapinya dengan model release, dan atau property release. Hal itu tak lepas dari kegiatannya yang bersifat candid terhadap obyek yang baru dilihat hari itu juga. Sangat sulit untuk berjumpa kembali. Oleh karenanya hampir mustahil menjual hasilnya secara komersial, bahkan ada kemungkinan bisa menimbulkan masalah saat sekedar dipublikasi di medsos. Resiko tersebut harus sepenuhnya disadari.

Pada awalnya dulu street photography dilakukan dengan kamera pocket range finder 35mm, yaitu kamera yang relatif kecil supaya praktis dan tidak menarik perhatian. Namun dalam perkembangannya bisa mempergunakan kamera besar, yang penting bisa menjadikannya praktis dan tidak menarik perhatian. Lensa yang dipakai dulu umumnya lensa fix yang bisanya berukuran lebih kecil, karena saat itu memang belum ada lensa zoom.

Street photography mementingkan kandungan cerita serta komposisi dari fotonya, sehingga kualitas teknik bisa dikesampingkan. Selain itu juga bukan mencari bokeh, oleh karena itu umumnya memakai ISO tinggi. Pemilihan yang memudahkan pemakaian aperture sempit dengan shutter tetap cepat, kombinasi yang aman dari blur.

Pinto menyarankan menggunakan eksposure mode manual, ukur pada temppat dengan kondisi sinar setara. Mode auto akan sangat mudah berubah saat arah lensa berubah. padahal kondisi sinar umumnya relatif tetap. Lakukan juga pre_focusing saat memakai lensa bukan tele, apabila autofocus dari lensa kurang cepat. Aperture sempit menjamin tetap fokus saat jarak tidak meleset jauh.

Kadang suatu kondisi memerlukan sinar tambahan. Jadi tidak ada salahnya memakai flash. Awalnya memang pasti akan menarik perhatian, namun lama-lama akan tidak diperhatikan lagi. Pinto menganjurkan saat pemakaian flash menggunakan shutter rendah supaya sinar sekitar tetap terpengaruh.

Street photography bisa dilakukan kapan pun. Siang hari akan banyak tempat yang bisa dijadikan tempat berburu. Malam hari menawarkan lebih sedikir kemungkinan tempat, namun biasanya akan menyuguhkan sesuatu yang jarang diketahui banyak orang. Untuk malam hari, pilihlah tempat dengan kondisi sinar lemah yang mampu diakomodir oleh kamera yang dipakai. Kondisi malam hari dari sumber penerangan biasanya tidak merata, permainan backlight dan bayangan bisa memberi hasil dramatis.

Banyak tempat yang memungkinkan mendapatkam foto menarik. Umumnya dipilih tempat yang banyak dikunjungi orang, juga banyak aktifitas terjadi. Tempat semacam itu bisa berupa perkampungan, pusat pertokoan, pasar, terminal, stasiun, bandfara, jalan raya, tempat rekreasi, dll.

Selanjutnya Pinto menjelaskan tentang masalah hunting atau berburu. Perlu ditekankan bahwa subyek dan atau obyek dalam street photography tidak hanya manusia, namun umumnya berhubungan dengan keseharian manusia. Dalam berburu ada beberapa hal yang bisa menjadi acuan, seperti berbaur dan wajar. Ketika berburu sesuaikanlah penampilan dengan sekitarnya. Sesuatu yang sangat berbeda akan menarik perhatian setiap saat. Wajarlah dalam berperilaku. Pertahankan selama mumgkin kondisi tidak diketahui bahwa sedang berburu foto. Kadang perlu senyuman, namun keramahan yang dibuat-buat justru akan menarik perhatian.

Adegan bisa hanya melintas sesaat. Usahakan kamera selalu tersedia dalam keadaan siap supaya sewaktu-waktu bisa digunakan. Sesaat setelah tombol ditekan, jangan pindah posisi kamera. Tetap dalam posisi membidik saat memindah arah kamera. Seolah hanya melihat bukan memotret, display mati akan memperkuat kesan itu. Trik ini menjadikan buruan lebih wajar dalam beraktifitas.

Biasakan berhenti sesaat di suatu tempat yang diperkirakan akan memberi banyak adegan yang bisa direkam. Atau ada perubahan yang menjadikannya lebih menarik.

Berikutnya, jangan pedulikan pandangan orang. Pandangan, komentar atau celotehan orang sangat mungkin kita temui saat melakukan street photography. Namun jangan sampai hal itu menyurutkan niat berkarya.

Ingat, perlakukan apa yang difoto dengan rasa hormat. Adegan orang yang sedang mendapat kesulitan, musibah dan semacamnya sering merupakan hal yang sangat mudah dan menarik untuk difoto. Namun perlu dipertimbangkan efeknya, dan adakah gunanya. Kalau pun akhirnya difoto, usahakan wajahnya tersamar.

Rekam adegan dengan kamera apa pun dengan segala kondisi dan keterbatasan yang ada. Hal yang penting adalah foto yang dihasilkan punya cerita dan menarik. Komposisi yangg baik dan benar akan membuat foto semakin menarik. Dalam street photography, bila terpaksa kualitas teknis jangan menjadi hal yang dirisaukan. Namun usahakan tetap berkualitas.

Mencari juxtaposition dan ketidakwajaran juga penting. Juxtaposition dalam fotografi adalah sesuatu yang kontras, bertentangan. Misal, tawa – tangis, kuno – baru, kelemahan yang menjadi kekuatan, dsb. Ketidakwajaran merupakan hal yang dilihat mata normal dalam keseharian. Itu merupakan salah satu kunci menjadikan foto menarik perhatian.

Obyek yang akan punah juga menarik. Street photography bisa menghasilkan sesuatu yang suatu hari nanti, mungkin bertahun kemudian, menjadi sangat berharga. Perubahan di dunia sangat cepat, banyak hal yang digantikan oleh sesuatu yang lebih baru. Baik itu perubakan peralatan, bangunan mau pun perilaku.

Berikutnya, ekspresi dan tatapan mata akan memperkuat foto dan membuat foto lebih bercerita. Lalu, memakai lensa sudut lebar dan potret sedekat mungkin bisa membuat gambar yang berbeda. Jika hasilnya blur, berarti terlalu dekat.

Kemudian, beberapa frame foto bisa saling melengkapi dan memperjelas cerita. Banyak foto yang kurang menarik dan kurang informatif bila hanya tampil tunggal.

Sebagai pelengkap, cari juga obyek yang tanpa manusia. Banyak hal dan kejadian yang bisa direkam, namun jangan rancu dengan urban landscape yang hanya merekam secara fisik wilayah yang dihuni. Street photography lebih ke arah keseharian yang ada, sehingga fotonya punya bobot pesan yang lebih banyak.

Pinto mewanti-wanti kita harus selektif dalam memotret. Tidak semua yang sekilas terlihat harus difoto. Pikirkan dampaknya, baik estetika, cerita atau resikonya. Selektif bisa menghindari tumpukan file yang secara fotografi kurang bermutu dan cuma menjadi sampah.

Ia juga berpesan agar hati-hati dengan masalah keamanan. Tempat umum sangat variatif, sehingga tingkat keamanannya pun beragam. Tingkat keamanan yang perlu diperhatikan bukan hanya terhadap keselamatan fotografer, namun bisa juga peralatan yang dipakai.ada 4 kelompok utama penyebab musibah yaitu manusia, binatang, kondisi tempat dan faktor alam. Resiko musibah bisa diperkecil dengan pergi tidak sendirian, dan menyiapkan peralatan sesuai kondisi lapangan.

Sebagai penutup, Pinto mengatakan yang terpenting dari semuanya itu adalah melakukan atau mempraktekkan segala teori yang sudah diperoleh. Karena semua teori dan pengetahuan tidak akan berguna tanpa diraktekkan.

*) Materi webinar selengkapnya bisa disimak di Youtube Kagama Channel:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*