Pembelajaran dari Vaksinasi COVID-19 untuk Tenaga Kesehatan

Sabtu (20/2/2021) pukul 10:00 – 12:00 WIB, Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM dan PP KAGAMA mengadakan talkshow interaktif melalui aplikasi Zoom meetings dengan tema “Pembelajaran Dari Vaksinasi COVID-19 Untuk Para Nakes”. Talkshow yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam memperingati ulang tahun Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM ke-24 tersebut, dibuka dengan sambutan Ir. Budi Karya Sumadi (Menteri Perhubungan RI – Wakil Ketua Umum I PP KAGAMA dan dr. Yodi Mahendrata, M.Sc, Ph.D, FRSPH (Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM). Talk show menghadirkan tiga narasumber, yaitu dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D, Sp.PD-KPTI ( Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-KMK UGM), dr. Levina Prima Rosalia,Sp.PD (Departemen Penyakit Dalam RS Panti Rapih), drh. Berty Murtiningsih, M.Kes (Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY). Bertindak sebagai pemandu acara adalah Anis Fuad, S.Ked., DEA (Peneliti dan Pokja Cross-Cutting PKT-UGM).

Ketiga narasumber dan moderator talk show

Narasumber pertama, drh. Berty Murtiningsih memaparkan materi tentang berbagi pengalaman terkait pengaturan dan distribusi vaksinasi di DIY. Berty menyebutkan jumlah tenaga kesehatan di DIY sudah mencapai 34.369 pada tahapan vaksinasi pertama dan 28.048 pada tahapan vaksinasi kedua. DIY merupakan provinsi pertama di Indonesia yang melaksanakan program vaksinasi nasional. Program Vaksinasi COVID-19 berbeda dengan program vaksinasi terdahulu yang telah dilakukan sebelumnya seperti vaksinasi polio dan campak. Vaksinasi COVID-19 diberikan pada individu dengan usia 18 tahun keatas. Skema bottom to up dilakukan yang bertujuan untuk membentuk kekebalan komunitas / herd immunity.

Berty menambahkan kerjasama lintas sektoral dilaksanakan untuk menyukseskan program vaksinasi nasional. TNI dan Polri turut dilibatkan dalam pencengahan dengan metode patrol keliling sesuai dengan arah PPKM mikro yang sudah diedarkan pemerintah pusat. Penyaluran distribusi vaksin dimulai dari pengiriman vaksin oleh Biofarma ke DIY dengan dikawal ketat pihak kepolisian. Saat pengiriman setiap boks vaksin dilengkapi thermometer yang bertujuan mengecek kondisi suhu tiap vaksin. Selanjutnya vaksin didistribusikan ke seluruh Indonesia termasuk DIY.

“Pelaksanaan upaya percepatan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di DIY tepatnya di Graha Saba Pramana, Sleman. Vaksinasi dilaksanakan tanggal 28 Januari 2021 dengan sasaran imunisasi vaksin untuk 2.427 tenaga kesehatan (nakes) untuk kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.” ujar Berty di penghujung kesempatan.

Narasumber kedua, dr. Levina Prima Rosalia memaparkan terkait berbagi pengalaman menyelenggarakan vaksinasi di rumah. Awal yang dilakukan oleh RS.Panti Rapih adalah melakukan tahapan sosialisasi yang dikemas dalam simulasi vaksinasi COVID-19 yakni, Pertama, calon penerima vaksin masuk ke ruang pendaftaran, selanjutnya petugas pendaftaran meminta menunjukkan e-ticket dan KTP calon penerima vaksin kemudian petugas melakukan verifikasi e-ticket dan identitas calon penerima vaksin. Kedua, setelah pengecekan dan verifikasi data, petugas pendaftaran mempersilakan calon penerima vaksin menuju ruangan skrining. Ketiga, skrining dilakukan oleh dokter dengan memberikan edukasi terkait vaksin COVID-19. Keempat, calon penerima vaksin yang lolos skrining akan diarahkan menuju ruangan vaksinasi. 

“Program vaksinasi di RS Panti Rapih menargetkan 1.500 nakes dan sudah 80% menerima vaksinasi dan menunggu tahapan kedua vaksinasi. Rumah Sakit menentukan skema kuota vaksinasi pertama dan kedua pada nakes sesuai dengan peraturan yang telah diterapkan oleh pemerintah pusat.” ucap Levina mengakhiri pemaparannya.

Narasumber ketiga, dr. Yanri Wijayanti Subronto memaparkan pengalamannya sebagai penerima vaksin pada gelombang pertama. Pengalaman pertama vaksinasi COVID-19 merupakan pengalaman yang belum pernah dialami sebelumnya. Pembelajaran bersama sedang dilakukan dalam menghadapi COVID-19 dalam proses kebijakan maupun penerapannya. Ketakutan terinfeksi menjadi momok pada pandemi COVID-19. Penggunaan masker menjadi penting karena penyebaran COVID-19 ditularkan melalui droplet. Pola hidup sehat dan disiplin secara protokol kesehatan harus diterapkan. Vaksinasi menjadi penting dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

“Vaksinasi dapat berjalan dengan lancar tentu dengan komunikasi dan promosi kesehatan tentang program vaksinasi yang tepat sasaran. Tentunya tahapan pertama ini menjadi landasan untuk menentukan langkah selanjutnya. Mengedukasi dan menerapkan pentingnya vaksinasi sebagai upaya pemutusan mata rantai COVID-19 harus dilakukan dengan efisien dan efektif, Tentunya mencegah lebih baik daripada mengobati.” ujar Yanri menutup penjelasannya.[arma]

*) Materi webinar selengkapnya bisa disaksikan di Youtube Kagama Channel:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*