Menggelar Webinar Membahas Teh Sebagai Wujud Kepedulian Kagama.id Terhadap Kemerdekaan Teh Indonesia

Setelah sukses menggelar webinar membahas kopi menjelang hari kemerdekaan RI yang ke-75 pada bulan Agustus lalu, pada hari Sabtu (19/9/2020) www.kagama.id kembali mengadakan webinar yang juga membahas minuman, namun gantian teh yang dibicarakan. Webinar berjudul “Kagama Ngeteh Merdeka: Memerdekakan Teh Indonesia” tersebut rupanya mampu menarik atensi teman-teman Kagama serta masyarakat umum pecinta dan penikmat teh. Terbukti webinar diikuti oleh 225 orang yang dengan penuh antusias menyimak acara dari awal hingga akhir.

Wiwit Wijayanti moderator webinar dari tim humas PP Kagama

Sejumlah tokoh yang terkenal reputasinya dalam hal menggeluti teh tampil menjadi narasumber webinar. Mereka adalah Dr. Ir. Rachmad Gunadi (Penasehat Asosiasi Teh & Ketua Umum Dewan Teh Indonesia), Bambang Laresolo (Tea Sommelier & Blender, Founder Kedai Teh Laresolo dan Co-Founder Lewis & Carroll) dan Joni Lima (Co-Founder Smoking Barrels Coffe & Co-Founder Sanka+Bira Tea). Hadir pula Anwar Sanusi, Wakil Ketua 2 PP Kagama yang berkenan memberikan opening speech. Sebagai moderator adalah Wiwit Wijayanti dari Tim Humas PP Kagama.

Anwar Sanusi, Wakil Ketua 2 PP Kagama

Anwar Sanusi dalam pidato pembukaannya mengatakan sangat penting untuk memerdekakan teh di Indonesia karena bisa menjadi salah satu produk atau komoditas yang bisa kita andalkan di masa yang akan datang. Peluang pengembangan teh cukup besar, terutama dengan adanya dana desa. Dana desa untuk 5 tahun ke depan diprioritaskan salah satunya untuk melakukan kegiatan transformasi ekonomi, antara lain mendorong produk-produk unggulan yang ada di tingkat pedesaan. Anwar berharap hasil dari webinar bisa dirumuskan rekomendasi praktis yang bisa dilaksanakan oleh para pengambil keputusan dan juga buat para petani teh.

Rachmad Gunadi, Penasehat Asosiasi Teh & Ketua Umum Dewan Teh Indonesia

Dunia teh di Indonesia adalah sebuah ironi. Teh sempat merdeka ketika jaman kolonial dulu, namun sekarang justru malah kehilangan kemerdekaannya. Demikian disampaikan oleh narasumber pertama Rachmad Gunadi. Di jaman kolonial teh Indonesia pernah berjaya dan dikenal luas di manca negara, serta sempat menduduki peringkat ke-2 dari komoditas ekspor perkebunan setelah karet. Pada tahun 1835 teh dari Jawa merupakan teh pertama di luar Cina yang bisa menembus masuk pasar Eropa.

Namun dewasa ini terjadi paradox, saat konsumsi teh global naik sekitar 4,5% per tahun, daya saing teh Indonesia dan kinerja ekspor teh kita justru terus menurun. Dalam kurun waktu 18 tahun terakhir, jumlah ekspor kita berkurang lebih dari separuhnya, dengan rata-rata penurunan sebesar 3,1% per tahun.

Banyak faktor yang menyebabkan penurunan produksi, di antaranya terjadi alih fungsi lahan perkebunan dikarenakan kurangnya signifikan antara luasan lahan dan produktifitas. Rendahnya produktifitas bisa berhubungan dengan umur tanaman teh yang sudah tua, namun jikalau akan melakukan replanting banyak sekali kendalanya.

Rachmad menyayangkan meski kita sudah 75 tahun merdeka namun masih saja terbiasa ekspor raw material, termasuk teh. Masih fokus ke agriculture belum terlalu memikirkan manufacture. Jadi antara subsistem agriculture dan manufacture tidak tersambung dengan baik. Hal itu menyebabkan daya saing teh Indonesia lemah di dunia internasional. Selain itu potensi produksi sebenarnya tinggi namun industrinya menggunakan bahan baku impor, dan produk teh impor melimpah di pasar ritel, sehingga melemahkan semangat produsen domestik yang mengakibatkan produktivitas rendah.

Namun jika kita melihat industri teh di hilir, rasanya ada masa depan yang cerah di sana. Ready to Drink (RTD) Tea atau teh siap saji menjadi minuman kemasan terlaris di Indonesia nomor 2 setelah air minum dalam kemasan botol dan galon. Total konsumsinya di atas minuman susu (dairy), jus dalam kemasan, minuman karbonasi, kopi, serta minuman isotonic dan energi.

Jadi peluang memerdekakan teh Indonesia sebenarnya masih ada mengingat jumlah penduduk yang besar, pasar ekspor masih sangat terbuka, pengembangan menciptakan teh premium lewat ekonomi kreatif, dll. Namun jalan untuk menuju kemerdekaan teh masih panjang dan berliku. Banyak hal yang harus kita perbaiki seperti mindset dan tata kelola agro industri perkebunan yang komprehensif dari hulu ke hilir, harus pintar memanfaatkan celah potensi pasar lokal, perkuat kemitraan inklusif dalam arti berbagi peran dalam industri perkebunan terintegrasi, terus berinovasi menciptakan produk premium, dsb. Jika semua hal itu bisa terlaksana dengan baik, Rachmad optimis teh kita akan mengalami kejayaan lagi.

Bambang Laresolo, Tea Sommelier & Blender, Founder Kedai Teh Laresolo dan Co-Founder Lewis & Carroll

Narasumber kedua Bambang Laresolo menjelaskan pasar teh di Indonesia terbagi menjadi 3 segmen. Yang pertama adalah urban pop atau untuk kelas di bawah di mana mereka maunya praktis, tidak mau repot minum teh di mana saja, dan bikin teh di rumah dengan cara mudah. Termasuk jenis ini adalah teh celup dan teh dalam kemasan (RTD Tea). Untuk pasar urban pop teh wangi melati termasuk di dalamnya, yang pada tahun 1940-an dipelopori oleh Sosro dan Tong Tji. Tapi di sisi lain saat ini untuk pangsa pasar teh siap minum masuk juga teh import seperti bubble tea, Thai tea dan matcha latte.

Pasar yang kedua adalah life style atau untuk gaya hidup, dengan segmen pasar menengah atas, di mana minumnya biasanya di cafe-cafe. Untuk jenis tehnya saat ini masih didominasi oleh teh impor. Kenapa dikuasai teh impor sebenarnya salah produsen teh kita sendiri yang tidak mau serius menggarap segmen ini. Untuk cafe-cafe kelas menengah didominasi oleh merk Dilmah dan Twinings. Namun kemudian mulai bermunculan merk-merk lokal seperti Havelteh, Havilla, Tema, Singabera dan Kedai Teh Laresolo. Lalu mulailah muncul trend tea blend yang digemari karena konsepnya ngeteh cantik menarik untuk foto-foto.

Yang ketiga adalah tea connoisseur untuk kalangan atas yang pangsa pasarnya sangat kecil namun profit marginnya besar karena harga tehnya sangat mahal. Umumnya tehnya impor dari Jepang, Cina atau India. Teh lokal yang diproduksi di Indonesia juga ada meliputi buds tea atau white tea, rooled tea dan stripped tea.

Bambang mengakui lebih prestis minum kopi dibanding teh. Juga masyarakat lebih menghargai kopi dari pada teh, terbukti mereka tidak keberatan membeli kopi dengan harga mahal namun tidak bersedia membeli teh yang mahal harganya. Untuk itu para pelaku pertehan mau tidak mau harus mengekor kesuksesan kopi yang mana harus diakui pelakunya lebih antusias. Sekolah khusus kopi sudah banyak bertebaran di negeri ini, namun sekolah teh masih bisa dihitung jari. Sebagai perbandingan di Korea dan Cina ada universitas khusus mempelajari teh, namun di negara kita belum ada.

Kalau di dunia kopi dikenal dengan adanya barista, kalau di teh namanya tea sommelier. Pengertian tea sommelier adalah seseorang yang sudah sangat terlatih secara profesional untuk mengetahui semua hal tentang teh. Ia harus mengetahui segalanya secara detil, seperti harus mengenal sejarah, tradisi dan seni budaya teh dari seluruh dunia. Wajib pula mengenal regional teh dan masing-masing perbedaannya, mengenal berbagai macam varians teh dan tisane berdasarkan klasifikasi dan gradingnya, dan memiliki pengetahuan tentang proses produksi teh berikut penyimpanannya. Bahkan ia harus dapat menyajikan dan menyeduh teh secara tradisional maupun modern, mengetahui keuntungan dan efek negatif dari teh secara ilmiah, serta bisa memberikan arahan minum teh dengan padu padan makanan. Sayangnya di Indonesia masih sedikit sekali jumlah tea sommelier.

Sebagai penutup Bambang mengatakan untuk memerdekakan teh memang seharusnya meniru cara pemasaran kopi sehingga pasar teh makin digemari secara luas. Edukasi teh harus makin diperluas, dalam hal ini perlu menggandeng penggiat kopi dalam pembuatan kurikulum pendidikan kopi dan teh. Lalu tidak perlu melakukan diskriminasi antara teh dan kopi karena sebenarnya teh merupakan minuman alternatif pendamping kopi.

Joni Lima, Co-Founder Smoking Barrels Coffe & Co-Founder Sanka+Bira Tea

Joni Lima sebagai narasumber terakhir menceritakan pengalamannya mengelola bisnis kopi dengan brand “Smoking Barrels” sejak tahun 2015. Ia mengatakan “It’s all about flavors..!”. Jadi bisnis yang dikelolanya adalah soal rasa bukan hanya sekedar jualan kopi. Itulah alasan yang mendasarinya sehingga pada tahun 2018 “Smoking Barrels” mulai merambah dunia teh dengan membikin produk tea blend. Pada perkembangannya tahun 2020 dilaunching brand tersendiri spesialis jualan teh dengan nama “Sanka+Bira Tea”.

“Sanka+Bira” prioritasnya jualan loose leaf yang disupply ke cafe-cafe atau restoran, dan semakin berkembangnya pasar ritel menyediakan pula dalam bentuk tea bag. “Sanka+Bira” fokus pada tea blend, karena hal itu merupakan cara mudah masuk ke pasar yang lebih luas. Tea blend lebih bisa diterima karena lebih menarik. Bahan baku yang digunakan semua alami dari teh produksi Indonesia. Selain tea blend, “Sanka+Bira” juga memproduksi ready to drink tea atau minuman teh dalam kemasan botol.

Joni memberikan alasannya mengapa pada tahun 2018 melakukan diversifikasi usaha berbisnis teh. Menurutnya teh mempunyai banyak kemiripan dengan kopi. Indonesia kaya akan produksi kopi dan teh sehingga tidak sulit untuk mendapatkan produk berkualitas. Tingkat konsumsi kopi dan teh tinggi di negara kita, dan di banyak tempat sudah menjadi bagian dari budaya. Untuk jenisnya kopi dan teh juga mempunyai kemiripan, di mana kopi terbagi menjadi arabica dan robusta, sedangkan teh kita kenal 2 jenis juga yaitu sinensis dan assamica. Arabica mirip dengan sinensis sedangkan robusta mirip aasamica.

Joni juga menjelaskan profil peminum kopi dan teh. Secara umum tingkat konsumsi kopi lebih tinggi daripada teh, meski di beberapa daerah jumlah peminum teh bisa lebih banyak. Secara demografis menurut salah satu riset peminum teh kebanyakan adalah perempuan sedangkan kebanyakan laki-laki peminum kopi. Ada anggapan minum kopi hanya pada waktu-waktu tertentu saja, sementara kalau minum teh bisa kapan saja. Lalu masalah trend baik kopi atau teh semuanya terjadi meski di masa yang berbeda. Sudah sekitar 10 tahun ini trend minum specialty coffee berlangsung di Indonesia, sedangkan untuk specialty tea baru berjalan belum ada 5 tahun.

Joni selanjutnya berbicara tentang edukasi teh di Indonesia. Edukasi di sini bukan berarti mengajarkan secara harafiah namun mencoba membuat masyarakat atau pasar lebih paham lagi tentang teh. Sebagai pelaku industri kita harus menekankan pemahaman masyarakat akan kualitas teh atau yang biasa disebut specialty tea. Juga harus memahami tipe peninum teh di Indonesia yang bisa dibagi menjadi 3 jenis. Tipe pertama jumlahnya yang paling banyak adalah karena faktor kebiasaan minum teh setiap hari, yang kedua adalah mengikuti trend, sedangkan yang terakhir mereka yang mencari kualitas.

Edukasi bisa dilakukan juga lewat pencitraan teh di masyarakat umumnya. Ada pandangan bahwa peminum teh adalah mereka yang sudah tua. Kita harus berusaha mengubah pencitraan itu untuk memperoleh pangsa pasar yang lebih luas lagi.

Lalu edukasi juga bisa dilakukan melalui event teh atau asosiasi teh yang sudah mulai rutin digelar di berbagai wilayah di Indonesia. Bisa juga lewat kompetisi seperti yang dilakukan “Kompetisi Peracik Teh” yang tahun 2020 ini terpaksa dilakukan secara virtual karena adanya pandemi.

Sebagai penutup Joni menyatakan untuk memerdekakan teh kita harus memperkuat trend teh seperti kopi. Untuk itu kita tentukan dulu segmen mana yang akan kita garap atau incar. Untuk konsumen teh karena kebiasaan pastilah yang dicari harganya terjangkau, lalu untuk yang mengikuti tren menginginkan tampilan menarik, sedangkan bagi mereka yang mencari kualitas tentunya ingin kualitas teh yang tinggi / specialty tea dengan harga yang mahal tentu saja. Sebagai pelaku bisnis pertanyaannya bagaimana kita bisa menjual specialty tea kepada konsumen menengah bawah? Caranya adalah membuat kemasan yang lebih kecil sehingga harganya lebih terjangkau, dan yang kedua meskipun specialty tea tapi dibuat dalam bentuk tea bag.

Mengenai anggapan teh adalah minuman orang tua & bersifat membosankan harus diubah. Karena pada kenyatannya teh bisa dibuat mudah dan menyenangkan. Sebagai contoh “Sanka+Bira” bermain dengan warna-warni pada produk tea blend atau membuat aneka jenis minuman dengan bahan dasar teh yang bisa kita suguhkan di cafe atau restoran.

*) Materi webinar bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=vpfzGYuPnLA

Event Akan Datang

Urban Farming

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*