Kagama Literasi 4: Taman Nasional Indonesia Permata Warisan Bangsa

Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021, pada hari Sabtu (05/06/2021) pukul 10:00 -12:00 WIB, PP Kagama lewat program Kagama Literasi 4 menggelar webinar melalui aplikasi Zoom Meetings, membedah buku berjudul “Taman Nasional Indonesia: Permata Warisan Bangsa”. Webinar yang disiarkan langsung melalui kanal Youtube Kagama Channel tersebut menghadirkan 2 narasumber, yaitu Ir. Wiratno, M.Sc dan Prof. Dr. Ir. Christine Wulandari, M.P. Di awal acara, Anwar Sanusi, Ph.D., Waketum 2 PP Kagama menyampakan pidato pembukaan, dan sang penulis buku, Pungky Widiaryanto memberikan kata pengantar. Acara berlangsung dipandu oleh Sekar Ayu Woro Yunita sebagai moderator, dan Muthiah, dari tim Humas PP Kagama bertindak sebagai MC.

Pungky Widiaryanto penulis buku “Taman Nasional Indonesia: Permata Warisan Bangsa”

Penulis buku, Pungky Widiaryanto menyatakan hadirnya buku “Taman Nasional Indonesia: Permata Warisan Bangsa” berawal dari gagasan yang muncul saat masa pandemi Covid-19. Pungky kembali membuka catatan, laporan kunjungan ke lapangan dan mengumpulkan berbagai macam foto, dokumen dan catatan terkait taman nasional Indonesia. Kekayaan alam Indonesia yang di antaranya terdapat taman nasional di dalamnya membuat penulis ingin mengabadikan dalam sebuah karya berupa buku. Taman Nasional Komodo misalnya, merupakan kawasan endemik komodo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada masa kolonial, keberadaan Komodo ditunjukkan pada tahun 1910 – 1912. Di mana ada sebuah pengakuan dari tentara kolonial Belanda yang melihat naga dan membuat Mayor PA Ouwens menelusuri kehadiran kadal raksasa tersebut. Setelah diketahui keberadaannya, ditahun 1920 -1930, Komodo kemudian dihadirkan dalam kebun binatang di Belanda.

 “Setelah Indonesia merdeka, habibat komodo yaitu pulau Komodo dan pulau Rinca serta pulau-pulau kecil lainnya dijadikan suaka margasatwa buat komodo. Tahun 1953, ekspedisi satwa menghasilkan laporan jumlah populasi komodo lebih dari 3000 ekor dan adanya pemukiman masyarakat di kampung Komodo.” ujar Pungky yang merupakan ASN di Bappenas tersebut.

“Sejak 1980 hingga sekarang, Taman Nasional Komodo melalui kerja sama pemerintah dan berbagai LSM mempromosikan sebagai tujuan wisata. Pro kontra pun hadir menyertai Taman Nasional Komodo sebagai objek wisata. Berangkat dari cerita Taman Nasional Komodo. Di dalam buku, saya mengulas asal usul kemunculan taman nasional. Berawal dari masa kerajaan di nusantara tepatnya kerajaan Mataram yang menjadi daerah gunung gamping sebagai taman tempat berburu dan wisata. Berlanjut pada masa kolonial yang menggunakan terminologi natuurmonumenten. Natuurmonumenten Lorentz, Papua menjadi taman nasional pertama di tahun 1919. Melalui kebijakan kolonialisasi konservasi, kehadiran natuurmonumenten juga mengarah pada klaim peta dan wilayah jajahan baru. Pada masa kemerdekaan hingga sekarang, kehadiran taman nasional menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kekayaan alam Indonesia.” pungkas  alumnus Fakultas Kehutanan UGM tersebut.

Ir. Wiratno, M.Sc., Dirjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, KLHK

Narasumber pertama, Ir. Wiratno, M.Sc yang menjabat sebagai Dirjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Ia mengatakan berangkat dari fakta, Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan biodiversitas tinggi didunia bersama dengan Brazil. Hal ini tentu menjadikan Indonesia tempat hidupnya berbagai satwa-satwa unik dan dilindungi. Berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 tentang Kawasan konservasi di Indonesia. Indonesia memiliki kawasan terestial seluas 22 Juta Hektar dan marine 5 juta hektar dengan kehadiran masyarakat di dalamnya berjumlah 16, 3 juta jiwa.

“Masa depan biodiversitas dan ecotourism Indonesia yang dipadukan melalui biological dan cultural diversity yang di dalamnya mencakup antara lain, intrinsic value, ecological value, educational and scientific value, genetic value, social value, cultural and spiritual value, economic value, aesthetic and recreational value.” tutur Ir. Wiratno.

Menurut Ir. Wiratno, pengembangan daerah konservasi tersebut dibantu dengan memberdayakan masyarakat serta menciptakan local hero dalam upaya menjaga kekayaan alam Indonesia. Kehadiran Edelweiss Farming di Bromo Tengger National Park dan Orchids Conservation di Gunung Merapi National Park misalnya. Di Sumatera, tepatnya di Taman Nasional Gunung Leuser memberdayakan masyarakat yang semula sebagai penebang pohon sekarang menjadi pelestari alam.

“Pembangunan berbasis konservasi tersebut menerapkan prinsip 5K yakni, keragaman budaya, kerja sama pentahelix, kelola jasling, kelola iptek, kelola natural capital dan kelola bioprospecting.” demikian pungkas Ir. Wiratno.

Prof. Dr. Ir. Christine Wulandari, M.P, Ketua Program Magister Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Narasumber kedua, Prof. Dr. Ir. Christine Wulandari, M.P, Ketua Program Magister Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, menjelaskan lanskap taman nasional merupakan suatu ekosistem alami dan atau hasil modifikasi manusia yang dipengaruhi kegiatan ekologi, politik, ekonomi, historis, dan sosial budaya yang berbeda-beda sehingga mempunyai karakter unik dan harus dikelola secara lestari.

“Berbagai macam pengelolaan misalnya, kehutanan, pertanian, perikanan, peternakan, konservasi keanekaragaman hayati yang bentuk pengelolaannya dimaksudkan untuk menjaga keanekaragaman hayati, produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.” kata Prof. Christine.

Menurut Prof. Christine, 76 tahun usia Republik Indonesia sudah seharusnya memiliki konsep yang matang dalam mengelola taman nasional. Manfaat tangible dan intangible taman nasional hendaknya memperhatikan aspek sosial, ekonomi, ekologi dalam jangka panjang. Memberdayakan dan menumbuhkan sense of belonging masyarakat dengan kerja sama atau kolaborasi dengan pemerintahan setempat dan perguruan tinggi. Sehingga kehadiran taman nasional bukan hanya sebagai promosi wisata belaka, melainkan menjadi identitas yang terus dilestarikan masyarakat.

“Efektifitas taman nasional bisa dinilai dengan metode METT (Management Effectiveness Tracking Tool) terhadap berbagai aspek meliputi konteks perencanaan, inputs, proses output dan outcomes.” demikian Prof. Christine memgakhiri paparannya. [arma]

*) Materi selengkapnya bisa disaksikan di Youtube Kagama Channel:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*